Scroll untuk baca artikel
Hukum & Kriminal

Tragis! Menantu di Empat Lawang Tega Habisi Ibu Mertua Gegara Hasil Panen Kopi

×

Tragis! Menantu di Empat Lawang Tega Habisi Ibu Mertua Gegara Hasil Panen Kopi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi
ilustrasi mayat

EMPAT LAWANG — Aroma kopi yang seharusnya membawa rezeki dan kehangatan keluarga di Kabupaten Empat Lawang, Sumatra Selatan, justru berubah menjadi tragedi berdarah.

Seorang menantu bernama Angga (31), warga Desa Padang Tepong, Kecamatan Ulu Musi, tega menghabisi nyawa ibu mertuanya sendiri, Aminah (64), hanya karena persoalan pembagian hasil panen kopi.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Tak hanya membunuh, pelaku juga membungkus jasad korban ke dalam karung lalu membuangnya ke aliran Sungai Betung demi menghilangkan jejak kejahatannya.

Ironisnya, selama ini korban dikenal sangat mempercayai Angga untuk mengelola kebun kopi miliknya di Talang Ngongop, Desa Tanjung Agung.

Kepercayaan itu bahkan membuat pelaku kerap bermalam di pondok kebun demi menjaga tanaman kopi milik sang mertua. Namun hubungan keluarga yang seharusnya dibangun dengan saling menjaga justru berakhir tragis di tangan orang yang dipercaya sendiri.

Tragedi itu bermula pada Selasa (19/5/2026) ketika korban dan pelaku berada di pondok kebun untuk membahas pembagian hasil panen kopi.

BACA JUGA :  Viral! Suami Hamili Ibu Mertua di Soppeng, Saat Mediasi Istri Minta Cerai

Situasi yang awalnya biasa berubah panas setelah korban menyampaikan perubahan skema pembagian hasil.

Menurut pengakuan Angga kepada polisi, ia merasa dirugikan karena pembagian hasil yang sebelumnya dibagi tiga berubah menjadi dibagi empat.

“Saya tidak puas dengan hasil pembagian hasil panen kopi. Awalnya saya satu bagian, dia dua bagian, terus diubah dia tiga bagian saya satu bagian,” ujar Angga saat diperiksa di Polres Empat Lawang.

Kalimat itu menjadi ironi pahit. Perselisihan soal pembagian hasil panen yang nilainya belum tentu seberapa, justru berujung pada hilangnya satu nyawa dan hancurnya satu keluarga besar.

Emosi yang memuncak membuat Angga kehilangan kendali. Di tengah pertengkaran, ia mengambil kayu bakar yang berada di pondok lalu menghantam kepala mertuanya dua kali.

“Saya pukul pakai kayu bakar dua kali. Saat saya periksa sudah tidak ada lagi nyawanya,” katanya.

Setelah memastikan korban meninggal dunia, pelaku tak langsung menyerahkan diri. Sebaliknya, ia justru menyusun langkah untuk menghilangkan jejak.

Jasad korban dimasukkan ke dalam karung, diangkut menggunakan sepeda motor, lalu dibuang ke Sungai Betung.

BACA JUGA :  Sadis! Menantu Bacok Mertua hingga Tewas di Jatiagung, Pelaku Menyerahkan Diri ke Polisi

“Saya bawa ke motor, saya bawa ke desa, lalu saya letakkan di sungai,” ucapnya.

Pemandangan yang mestinya hanya ada di film kriminal itu kini benar-benar terjadi di sebuah desa penghasil kopi.

Bagian paling ironis dari kasus ini terjadi setelah pembunuhan dilakukan.

Saat keluarga mulai panik karena Aminah tak kunjung pulang sejak Kamis (21/5/2026), Angga justru ikut berpura-pura melakukan pencarian bersama warga dan polisi.

Bahkan, ia sempat memberikan keterangan palsu kepada keluarga dengan mengatakan korban sudah pulang dan akan kembali lagi ke kebun.

Aksi itu seolah memperlihatkan bagaimana pelaku berusaha memainkan peran sebagai “keluarga yang peduli”, padahal dialah orang yang menghilangkan nyawa korban.

Namun kebohongan tersebut tak bertahan lama.

Saat mulai merasa terpojok, Angga memilih melarikan diri keluar wilayah Empat Lawang.

Pelarian Berakhir di Lubuklinggau

Pelarian Angga akhirnya terhenti setelah tim Satreskrim Polres Empat Lawang berhasil melacak keberadaannya di Kota Lubuklinggau.

BACA JUGA :  Nadiem Makarim Resmi Jadi Tahanan Salemba, Jadi Tersangka Laptop Rp 10 Juta Bikin Negara Rugi Rp 2 Triliun

Ia ditangkap pada Minggu (24/5/2026) tanpa perlawanan berarti.

Sehari setelah penangkapan pelaku, jasad Aminah akhirnya ditemukan warga dalam kondisi mengenaskan, mengapung terbungkus karung di aliran Sungai Betung.

Penemuan tersebut sekaligus mengungkap secara terang tragedi yang sebelumnya hanya dianggap sebagai kasus orang hilang.

Kini Angga harus mendekam di sel tahanan Polres Empat Lawang dan menjalani proses hukum atas perbuatannya.

Kasus ini menjadi potret kelam bagaimana persoalan ekonomi dapat memicu konflik keluarga yang berujung kriminalitas ekstrem.

Di banyak daerah penghasil kopi, pembagian hasil kebun memang kerap menjadi sumber gesekan. Namun ketika rasa kecewa berubah menjadi amarah tanpa kendali, hubungan keluarga bisa runtuh hanya dalam hitungan menit.

Ironisnya lagi, korban bukan orang asing. Ia adalah ibu mertua sendiri sosok yang selama ini memberi kepercayaan penuh kepada pelaku untuk mengelola kebun.

Kini, kebun kopi itu tak lagi hanya menyimpan aroma panen, tetapi juga jejak tragedi yang meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar.***