LAMPUNG TIMUR – Hari ketiga safari politik Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, di Provinsi Lampung berakhir dengan noda kekecewaan di Kabupaten Lampung Timur. Agenda yang semula dijadwalkan menjadi panggung silaturahmi bersama tokoh adat dalam Kirab Budaya Sekappung Limo Migo di Taman Purbakala Pugung Raharjo, Minggu (28/6/2026), mendadak batal.
Kabar pembatalan itu sontak memantik amarah masyarakat yang sejak pagi telah memadati Sekretariat Bela Budaya Nusantara. Luapan emosi tidak hanya diwujudkan dengan menurunkan dan merobek baliho bertuliskan ucapan selamat datang untuk Jokowi, tetapi juga dengan menolak paket sembako yang dikirimkan timnya.
Suasana yang semula dipenuhi nuansa penyambutan adat berubah menjadi forum kekecewaan terbuka.
Relawan yang merasa telah “digantung” menilai permintaan maaf saja tidak cukup menjawab pertanyaan utama: mengapa Jokowi batal datang setelah seluruh persiapan dilakukan selama hampir satu bulan?
Di tengah memanasnya situasi, sejumlah perwakilan tim Jokowi yang datang langsung dari Solo tiba di lokasi untuk menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran mantan Presiden dua periode tersebut.
Namun, kehadiran mereka justru disambut desakan dari relawan dan masyarakat yang meminta penjelasan secara terbuka mengenai alasan pembatalan kunjungan.
Beberapa relawan meminta tim tersebut maju ke depan massa dan memberikan keterangan secara langsung. Namun menurut sejumlah saksi di lokasi, tim yang hadir tidak memberikan penjelasan rinci mengenai penyebab batalnya kunjungan.
Permintaan maaf yang disampaikan pun tidak mampu meredakan kekecewaan warga. Sejumlah relawan terus melontarkan protes karena merasa telah diberi kepastian bahwa Jokowi akan hadir.
Bahkan paket sembako yang dikirimkan disebut ditolak oleh sebagian relawan sebagai bentuk protes.
Sejak pagi, tokoh adat Lampung, Jawa, Minangkabau, Bali hingga berbagai komunitas budaya telah berkumpul mengenakan pakaian adat terbaik mereka.
Persiapan penyambutan disebut telah dilakukan hampir satu bulan. Gladi resik, rapat koordinasi, hingga dekorasi penyambutan telah rampung sehari sebelum acara. Namun tamu utama yang dinantikan tak pernah muncul.
Kekecewaan pun berubah menjadi pertanyaan besar mengenai kepastian agenda yang sebelumnya telah disampaikan kepada masyarakat.
Berdasarkan informasi yang beredar di lingkungan panitia, pembatalan kunjungan diduga berkaitan dengan sikap panitia Festival Budaya Sekappung Limo Migo yang sejak awal menginginkan acara tetap steril dari atribut maupun simbol partai politik.
Panitia disebut hanya menghendaki kehadiran Joko Widodo sebagai mantan Presiden Republik Indonesia dalam kapasitas menghormati kebudayaan, bukan dalam nuansa politik.
Informasi yang berkembang juga menyebutkan rombongan Jokowi kemudian mengalihkan agenda menuju kawasan Randu Mas.
Selain itu, beredar pula kabar bahwa sebagian masyarakat setempat menyampaikan penolakan terhadap rencana kedatangan Jokowi. Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi dari pihak Joko Widodo maupun timnya mengenai alasan pasti pembatalan agenda tersebut.
Dalam video yang beredar Ketua Umum Bela Budaya Nusantara, Mulyono, mencoba menenangkan massa yang mulai marah dengan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang telah mempersiapkan penyambutan.
“Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat yang sudah menantikan kehadiran Bapak Joko Widodo di Pugung Raharjo. Kami memahami rasa kecewa yang muncul karena antusiasme masyarakat memang sangat besar,” ujarnya.
Ia menegaskan pembatalan tersebut bukan merupakan keinginan panitia maupun masyarakat.
Mulyono juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh tokoh adat, relawan, organisasi masyarakat, dan warga yang telah bekerja keras menyukseskan persiapan acara.
Diketahui meski batal menghadiri Kirab Budaya di Lampung Timur, rangkaian safari politik Jokowi tetap berlangsung.
Usai dari Lampung Timur, rombongan melanjutkan agenda bertemu pelaku UMKM di Pasar Kota Gajah sambil membagikan sembako, kemudian menuju Pondok Pesantren di Lempuyang, Lampung Tengah, untuk bersilaturahmi bersama sekitar seribu santri dan kiai.
Sekitar pukul 13.30 WIB rombongan bergerak menuju Bandara Radin Inten II sebelum meninggalkan Lampung menggunakan penerbangan Citilink pada pukul 19.15 WIB.
Di balik batalnya kunjungan tersebut, Festival Budaya Sekappung Limo Migo tetap berlangsung sebagaimana mestinya. Kirab adat, tari tradisional, musik daerah, dan pertunjukan budaya tetap menghibur ribuan pengunjung.
Kalau boleh sedikit berseloroh, panggung budaya hari itu tampaknya lebih konsisten daripada panggung politik. Para penari tidak membatalkan penampilan, tabuhan gamolan tetap berbunyi, dan para tetua adat hadir sesuai janji.
Yang kosong justru kursi tamu utama. Bagi masyarakat adat, persoalan ini bukan semata soal batalnya kunjungan seorang mantan Presiden. Yang lebih membekas adalah harapan yang telanjur dibangun, persiapan yang telah menguras tenaga, dan penjelasan yang hingga acara berakhir tak kunjung benar-benar datang.
Dalam politik, perubahan agenda mungkin lumrah. Namun bagi masyarakat adat yang menjunjung tinggi kehormatan dan komitmen, sebuah janji bukan sekadar bagian dari rundown acara melainkan soal menjaga kepercayaan yang telah diberikan.***













