Scroll untuk baca artikel
NASIONAL

BGN Larang Siswa Bawa Pulang Makan Bergizi Gratis! Diduga Jadi Pemicu Kasus Keracunan, Guru Diminta Makan Bareng Murid

×

BGN Larang Siswa Bawa Pulang Makan Bergizi Gratis! Diduga Jadi Pemicu Kasus Keracunan, Guru Diminta Makan Bareng Murid

Sebarkan artikel ini
Foto: Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan membantu pemenuhan gizi anak usia TK dan balita di Lampung Timur mulai menuai sorotan.

JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) mengeluarkan peringatan tegas kepada seluruh penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mulai sekarang, siswa diminta tidak membawa pulang makanan MBG, melainkan langsung mengonsumsinya di sekolah sesuai waktu penyajian.

Langkah ini diambil setelah hasil investigasi sementara menunjukkan sejumlah kasus dugaan keracunan makanan diduga terjadi karena menu MBG dikonsumsi beberapa jam setelah dibagikan, saat kualitas makanan sudah menurun.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, mengatakan pihaknya telah melakukan konfirmasi terhadap berbagai laporan yang masuk. Hasilnya, ditemukan pola yang sama di beberapa kasus.

Makanan yang seharusnya disantap saat jam makan siang justru dibawa pulang oleh siswa, lalu dikonsumsi beberapa jam kemudian bersama anggota keluarga.

“Beberapa laporan yang kami terima, dan kami sudah konfirmasi serta validasi lagi, ada anak yang membawa pulang MBG-nya,” kata Sudaryono usai Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

BACA JUGA :  MBG Tetap Jalan Saat Ramadan: Makan Siang Jadi Menu Buka Puasa

Menurutnya, makanan yang semestinya dikonsumsi sekitar pukul 11.00 WIB baru dimakan pada sore hari.

Akibatnya, makanan yang tidak mengandung bahan pengawet tersebut berpotensi mengalami penurunan kualitas sehingga meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri.

“Harusnya dimakan jam 11, tetapi dibawa pulang dan dimakan jam 3 atau jam 4 sore. Jadi sudah rusak. Yang keracunan bukan hanya anaknya, tetapi juga bapak, ibu, bahkan saudaranya yang ikut makan,” ujarnya.

Sudaryono menegaskan bahwa menu MBG dirancang sebagai makanan segar yang diproduksi setiap hari tanpa tambahan bahan pengawet.

Karena itu, makanan memiliki batas waktu konsumsi yang harus dipatuhi agar tetap aman.

BGN kini memperketat standar operasional pelaksanaan program, mulai dari proses memasak, distribusi, hingga makanan dikonsumsi siswa.

Targetnya, seluruh makanan sudah harus disantap tidak lebih dari empat jam sejak selesai dimasak.

BACA JUGA :  Menkeu Janji Temui PPATK Terkait Gonjang-ganjing Transaksi hingga Rp300 Triliun

“Kami ingin memastikan seluruh proses, mulai makanan matang sampai dikonsumsi, sesuai standar keamanan pangan. Tidak boleh lebih dari empat jam,” jelasnya.

Selain memperketat pengawasan teknis, BGN juga memperkuat aspek edukasi.

Guru diharapkan tidak hanya mengawasi pembagian makanan, tetapi juga ikut makan bersama siswa sebagai bagian dari pendidikan mengenai keamanan pangan.

Melalui kebiasaan tersebut, guru dapat mengingatkan siswa agar tidak menyimpan ataupun membawa pulang makanan MBG.

“Guru ikut makan bersama siswanya untuk fungsi edukasi. Mengingatkan bahwa makanan ini jangan dibawa pulang karena tidak menggunakan bahan pengawet,” kata Sudaryono.

Ia menambahkan, suhu lingkungan yang panas dapat mempercepat pertumbuhan bakteri sehingga makanan yang dibiarkan terlalu lama berisiko tidak lagi aman dikonsumsi.

Pemerintah menegaskan bahwa setiap laporan dugaan keracunan akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.

BACA JUGA :  172 Siswa dan Guru di Bandar Lampung Alami Diare Usai Konsumsi MBG, Dapur Dihentikan

Perbaikan akan dilakukan mulai dari standar dapur, distribusi makanan, pengawasan di sekolah, hingga edukasi kepada siswa, guru, dan orang tua.

Tujuannya agar program yang dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak Indonesia benar-benar memberikan manfaat tanpa menimbulkan risiko kesehatan.

Sedikit satire menjadi pelajaran bersama: makanan bergizi memang layak disayang, tetapi bukan berarti harus “ditabung” sampai sore. Berbeda dengan nilai rapor yang bisa disimpan bertahun-tahun, makanan segar memiliki batas waktu. Jika terlambat disantap, yang datang bukan lagi manfaat gizinya, melainkan risiko kesehatan.

BGN berharap seluruh pihak mematuhi prosedur konsumsi yang telah ditetapkan agar Program Makan Bergizi Gratis tetap menjadi solusi peningkatan gizi anak-anak Indonesia, bukan justru memunculkan persoalan baru akibat cara konsumsi yang tidak sesuai standar keamanan pangan.