Scroll untuk baca artikel
LINTAS DAERAHPENDIDIKAN

17 Ribu Proposal Tumbang! Tiga Dosen Sejarah UMRAH Sabet Hibah Dana Indonesia Raya 2026

×

17 Ribu Proposal Tumbang! Tiga Dosen Sejarah UMRAH Sabet Hibah Dana Indonesia Raya 2026

Sebarkan artikel ini
Senyum sumringah tiga dosen Prodi Sejarah dan dosen FKIP UMRAH yang meraih Dana Indonesia Raya 2026 - foto dok

TANJUNGPINANG — Ketika ribuan proposal berebut perhatian pemerintah, tiga dosen Program Studi Sejarah FKIP Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) justru berhasil membawa pulang kabar membanggakan. Wiwiek Anastasia PhD, Tety Kurmalasari PhD, dan Robby Patria dinyatakan lolos hibah Dana Indonesia Raya Kementerian Kebudayaan 2026, setelah harus bersaing dengan sekitar 17 ribu proposal dari seluruh Indonesia.

Capaian itu bukan sekadar angka di atas kertas. Ketiganya mengangkat kekayaan budaya Kepulauan Riau yang ironisnya semakin asing bagi generasi yang lahir dan tumbuh di era gawai. Dari gasing Tambelan hingga permainan rakyat Gobang Jemaja, warisan yang dahulu menjadi teman bermain anak-anak kini harus diselamatkan melalui riset. Sebab, kalau tidak segera dicatat dan dikenalkan kembali, jangan-jangan kelak anak-anak lebih hafal nama gim di ponsel ketimbang permainan leluhurnya sendiri.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Secara keseluruhan, UMRAH berhasil meloloskan sembilan proposal, terdiri atas tujuh proposal dari FKIP, satu dari Fakultas Teknik dan satu dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Prestasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa riset tentang budaya lokal tidak harus kalah pamor dari penelitian yang terdengar serba futuristik.

Salah satu penerima hibah, Robby Patria, memilih mengangkat permainan tradisional gasing dari Tambelan, Kabupaten Bintan. Baginya, riset tersebut memiliki ikatan emosional karena gasing pernah menjadi bagian dari masa kecilnya. “Permainan gasing ini dulu permainan saya dan kawan-kawan sewaktu kami SD hingga SMP. Sekarang anak-anak SD di sana dan di perkotaan tak banyak yang tahu soal permainan gasing,” ujar Robby.

Robby tidak ingin gasing berhenti sebagai benda tua yang hanya disimpan dan dipajang. Melalui hibah tersebut, ia akan menghadirkan sarana edukasi di ruang publik sekolah agar permainan tradisional tersebut kembali dikenal generasi muda. Harapannya sederhana tetapi penting: anak-anak tidak hanya mengetahui gasing sebagai benda warisan, tetapi memahami sejarah, nilai sosial dan budaya yang melekat di dalamnya.

BACA JUGA :  Media Komunitas Digandeng Pemdaprov Jabar untuk Informasikan Program Pembangunan

Sementara Tety Kurmalasari PhD mengangkat permainan rakyat Gobang yang berkembang di Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas. Seperti gasing, Gobang merupakan bagian dari kearifan lokal Kepri yang perlahan terdesak perubahan zaman. Ketika permainan anak-anak semakin bergeser ke layar, penelitian semacam ini menjadi upaya untuk memastikan permainan tradisional tidak sekadar tinggal nama dalam arsip sejarah.

Menariknya, persaingan program Dana Indonesia Raya juga semakin ketat. Berdasarkan data yang disebutkan dalam materi tersebut, jumlah proposal yang masuk sekitar 300 pada 2024, kemudian melonjak menjadi sekitar 6.000 proposal pada 2025, dan kembali melejit hingga sekitar 17 ribu pengusul pada 2026. Artinya, lolosnya tiga dosen Sejarah UMRAH bukan capaian yang datang sambil lalu.

BACA JUGA :  Pertandingan Piala Dunia U-17 Dimulai di Gelora Bung Tomo antara Panama vs Maroko

Yang membuat kisah ini terasa humanis adalah pilihan tema mereka: menghidupkan kembali sesuatu yang pernah sangat dekat dengan masyarakat, tetapi perlahan ditinggalkan zaman. Di tengah anak-anak yang semakin akrab dengan layar, gasing Tambelan dan Gobang Jemaja menawarkan cerita berbeda tentang halaman, kebersamaan, keterampilan tangan, kompetisi sehat dan identitas kampung.

Kini tantangannya bukan lagi sekadar memenangkan hibah. Riset tersebut harus mampu turun dari meja akademik dan benar-benar kembali kepada masyarakat. Sebab budaya yang hanya tersimpan dalam laporan penelitian pada akhirnya cuma menjadi sejarah yang rapi di rak, tetapi tidak lagi hidup di tengah generasi penerus.

Dari UMRAH, tiga dosen sejarah mencoba membalik keadaan itu: membawa permainan leluhur kembali ke hadapan anak-anak Kepri sebelum benar-benar kalah oleh zaman.***