Scroll untuk baca artikel
HUKRIM

991 Burung Diselundupkan dalam Bagasi Bus di Bakauheni, 2 Jenis Dilindungi! K9 Bongkar “Penumpang Gelap”

×

991 Burung Diselundupkan dalam Bagasi Bus di Bakauheni, 2 Jenis Dilindungi! K9 Bongkar “Penumpang Gelap”

Sebarkan artikel ini
ilustrasi burung

LAMPUNG SELATAN — Pelabuhan Bakauheni kembali menjadi pintu terbongkarnya dugaan perdagangan ilegal satwa liar. Sebanyak 991 ekor burung ditemukan disembunyikan di dalam bagasi bus antarkota saat pemeriksaan di kawasan Seaport Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, Jumat (21/8/2026) malam.

Pengungkapan dilakukan petugas gabungan Balai KSDA Bengkulu, Polsek KSKP Bakauheni dan tim K9 Wildlife Detection Dog (WDD) Yayasan Jaringan Satwa Indonesia.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Satwa-satwa tersebut ditemukan sekitar pukul 21.18 WIB ketika petugas memeriksa bus PO Kramat Jati rute Palembang-Bandung dengan nomor polisi B 7081 IGD.

Dari bagasi bus, petugas menemukan dua kardus besar, 18 keranjang plastik putih dan lima kardus kecil.

Begitu dibuka, isinya bukan pakaian, oleh-oleh atau barang bawaan biasa.

Ratusan burung hidup berdesakan di dalamnya.

BACA JUGA :  Taman Wisata Way Tebabang Dipadati Pengunjung Saat Libur Tahun Baru, Tarif Masuk Terjangkau

Kalau manusia saja bisa protes naik bus terlalu lama, burung-burung ini justru dipaksa melakukan perjalanan lintas provinsi tanpa tiket, tanpa kenyamanan dan tanpa dokumen.

991 Ekor, 12 Jenis Burung

Kepala Balai KSDA Bengkulu, Agung Nugroho, mengatakan hasil identifikasi awal menemukan sedikitnya 12 jenis burung.

Sebagian terdiri atas merbah cerukcuk, burung madu sriganti, perkutut jawa, gelatik batu kelabu, ciblek, jalak kebo dan sejumlah jenis burung kicau lainnya.

Yang lebih serius, petugas menemukan dua ekor serindit melayu (Loriculus galgulus) dan 14 ekor cica daun sumatra (Chloropsis venusta) yang termasuk satwa dilindungi.

Seluruh burung diduga diangkut dari Palembang, Sumatera Selatan, menuju Bandung, Jawa Barat.

Masalahnya, pengiriman tersebut tidak dilengkapi dokumen yang dipersyaratkan, termasuk Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dan Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Liar Dalam Negeri (SATS-DN).

BACA JUGA :  Ribuan Warga Meriahkan Jalan Sehat HUT ke-17 Mesuji, Gubernur Mirza: “Ketika Warganya Sehat dan Kompak, Daerahnya Akan Kuat”

“Dalam pemeriksaan petugas, seluruh satwa tersebut tidak dilengkapi dokumen yang dipersyaratkan,” kata Agung.

K9 Bongkar “Penumpang Gelap”

Pengungkapan ini menunjukkan bahwa penyelundupan satwa liar semakin membutuhkan pengawasan ketat di jalur transportasi.

Tim K9 Wildlife Detection Dog memiliki kemampuan mendeteksi keberadaan satwa yang sengaja disembunyikan di kendaraan maupun barang bawaan.

Perwakilan Yayasan Jaringan Satwa Indonesia, Anggraini Puspa Wardhani, mengatakan kemampuan anjing pelacak tersebut membantu petugas menemukan satwa yang tidak terlihat dari pemeriksaan biasa.

Artinya, bagi penyelundup mungkin kardus dianggap cukup untuk menyembunyikan burung.

Bagi hidung K9, rupanya kardus bukan tembok pertahanan.

Bukan Sekadar 991 Burung

Saat ini pengemudi dan kondektur bus, kendaraan serta seluruh 991 ekor burung telah diamankan di Polsek KSKP Bakauheni untuk pemeriksaan lebih lanjut.

BACA JUGA :  Polhut Ringkus Empat Warga Labuhan Maringgai Pemburu Liar di TNWK

Satwa sitaan akan menjalani pemeriksaan kesehatan dan identifikasi sebelum ditentukan penanganannya, termasuk kemungkinan pelepasliaran bagi satwa yang memenuhi syarat.

Kasus ini kembali membuka persoalan serius perdagangan satwa liar.

Satwa bukan barang dagangan yang bisa dipindahkan antarkota sesuka hati, apalagi tanpa dokumen dan dengan cara disembunyikan di bagasi kendaraan.

991 burung mungkin berhasil dihentikan di Bakauheni. Tetapi pertanyaan besarnya: berapa banyak satwa lain yang sudah lebih dulu lolos dari jalur perdagangan ilegal?

Pengawasan di pelabuhan pun tidak boleh hanya ramai ketika ada operasi.

Sebab kalau penyelundupan satwa masih terus mencoba lewat jalur darat, yang perlu diburu bukan cuma burungnya, tetapi juga jaringan yang membuat satwa liar berubah menjadi komoditas bisnis.***