Scroll untuk baca artikel
BUDAYA

Pawai Seribu Bunga Telur, Cara Orang Serasan Menjaga Tradisi Kampung Halaman di Tanah Rantau

×

Pawai Seribu Bunga Telur, Cara Orang Serasan Menjaga Tradisi Kampung Halaman di Tanah Rantau

Sebarkan artikel ini
Pawai Seribu Bunga Telur, salah satu tradisi Maulid masyarakat Serasan yang masih hidup dan digelar secara turun-temurun setiap 12 Rabiul Awal ikut meramaikan acara Maulid Nabi SAW di Tanjungpinang, Rabu (26/8) - foto dok

TANJUNGPINANG — Ribuan bunga telur bergerak dalam satu irama selawat. Di tangan masyarakat Serasan, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, telur yang dihias bukan sekadar pelengkap Maulid Nabi, melainkan simbol sedekah, gotong royong, dan identitas budaya yang terus dibawa hingga ke tanah rantau.

Tradisi itu dikenal sebagai Pawai Seribu Bunga Telur, salah satu tradisi Maulid masyarakat Serasan yang masih hidup dan digelar secara turun-temurun setiap 12 Rabiul Awal.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Bunga telur diarak keliling kampung dengan wadah dan hiasan beragam, mulai dari miniatur perahu, masjid, rumah-rumahan hingga bentuk kreatif lainnya. Sebagiannya ditancapkan pada gelas berisi nasi pulut kuning, kemudian dibagikan kepada masyarakat setelah pawai.

BACA JUGA :  Lawatan Budaya ke Pekon Karang Agung, Sultan Skala Brak Apresiasi Polres Tanggamus

Biaya kegiatan berasal dari sumbangan warga dan dikelola bersama panitia. Sepanjang perjalanan, lantunan selawat mengiringi rombongan sebelum kegiatan dilanjutkan dengan ceramah agama, pembacaan Al-Barzanji, selawat, dan rangkaian Maulid lainnya.

Yang membuat tradisi ini semakin menarik, Serasan tidak harus berada di Serasan untuk tetap menjadi Serasan. Masyarakat perantauan membawa tradisi tersebut sebagai pengikat kampung halaman dan identitas keluarga.

Di Kota Tanjungpinang, Himpunan Keluarga Serasan (HKS) pimpinan Maskur Tilawahyu kembali menggelar Pawai Seribu Bunga Telur pada Selasa (25/8/2026). Pawai dimulai dari kawasan Dinas Sosial, menuju jalan raya, melintasi Bintan Centre, kemudian kembali ke kawasan Dinas Sosial.

BACA JUGA :  LKF 2019, Harus Lebih Berkesan

Ratusan masyarakat Serasan di perantauan ikut ambil bagian. Suasananya bukan sekadar meriah, tetapi juga menjadi pertemuan keluarga besar yang dipertautkan oleh tradisi.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad, Ketua LAM Kepulauan Riau yang diwakili Datok Samsudi, Wakil Wali Kota Tanjungpinang Raja Ariza, Ketua HKS, serta masyarakat Serasan di perantauan.

Di balik telur yang dihias dan diarak, tersimpan nilai sosial yang kuat: gotong royong, sedekah, kebersamaan, penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus ikatan kekeluargaan.

Karena itu, Pawai Seribu Bunga Telur layak dipandang sebagai kekayaan budaya, bukan sekadar kemeriahan tahunan. Tradisi ini perlu didokumentasikan, dikaji, dan diperkenalkan kepada generasi muda agar tidak berhenti pada ingatan generasi tua.

BACA JUGA :  Sejarah Keratuan Pugung, Melinting dan Ratu Darah Putih

Jika hasil kajian memenuhi ketentuan dan menunjukkan nilai, keberlanjutan, serta identitas budaya yang kuat, tradisi masyarakat Serasan ini layak didorong untuk diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.

Menjaga warisan budaya bukan hanya soal mendapatkan pengakuan. Yang jauh lebih penting adalah memastikan ketika generasi berikutnya bertanya tentang asal-usul mereka, masih ada tradisi yang bisa dijawab dengan nyata bukan sekadar cerita bahwa dulu pernah ada.***