Scroll untuk baca artikel
AGAMA

Ketika Umar bin Khattab Tak Membiarkan Anaknya Menikmati Privilege

×

Ketika Umar bin Khattab Tak Membiarkan Anaknya Menikmati Privilege

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi
Ilustrasi

wawaiNEWS.ID – Tidak sedikit kisah tentang Umar bin Khattab yang membuat kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: seperti apa seharusnya seorang pemimpin hidup ketika ia memiliki kekuasaan?

Umar adalah seorang khalifah yang dikenal tegas, sederhana, dan sangat berhati-hati dalam menggunakan amanah. Ia tidak hanya menuntut dirinya sendiri untuk hidup bersih, tetapi juga memastikan keluarganya tidak menikmati keistimewaan hanya karena memiliki hubungan darah dengan penguasa.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Bagi Umar, menjadi anak seorang khalifah bukanlah tiket untuk mendapatkan fasilitas lebih.

Justru sebaliknya.

Menjadi keluarga pemimpin berarti harus siap hidup lebih hati-hati.

Ada satu kisah yang sangat menarik tentang hal itu. Kisah tentang Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khattab.

Unta yang Mendadak Gemuk

Abdullah bin Umar pernah membeli seekor unta yang kurus dengan uangnya sendiri.

Ia kemudian menggembalakan unta tersebut di padang rumput di Madinah. Setelah beberapa waktu, unta itu tumbuh sehat dan menjadi gemuk.

Secara bisnis, tidak ada yang aneh.

Abdullah membeli dengan uang sendiri. Ia merawatnya. Kemudian ia berharap mendapatkan keuntungan sebagaimana orang lain menjalankan usaha.

Namun, ada satu persoalan yang luput dari perhatian Abdullah.

Padang rumput tersebut juga menjadi tempat unta-unta milik Baitul Maal dan ternak masyarakat mencari makan.

Suatu hari, Umar bin Khattab melakukan pemeriksaan seperti yang biasa dilakukannya. Ia berkeliling melihat kondisi masyarakat, termasuk tempat-tempat di mana hewan ternak digembalakan.

BACA JUGA :  UAS, UAH dan UDL Sentil Penguasa: Tak Takut Nasihat Ulama, Tapi Gentar Ramalan Dukun

Di sana, mata Umar menangkap seekor unta yang tampak jauh lebih gemuk dibandingkan unta-unta lainnya.

Ia pun bertanya kepada orang-orang di sana.

“Siapa pemilik unta ini?”

Jawabannya membuat Umar terdiam.

“Anakmu, Abdullah bin Umar.”

Umar tentu saja mengenal anaknya.

Tetapi yang membuatnya resah bukan siapa pemilik unta itu.

Yang membuatnya khawatir adalah mengapa unta milik anak seorang khalifah bisa tumbuh lebih baik dibandingkan ternak milik masyarakat biasa?

Abdullah kemudian dipanggil.

Ketika putranya datang, Umar bertanya tentang unta tersebut.

Abdullah menjelaskan bahwa ia membeli unta itu dengan uangnya sendiri. Karena awalnya kurus, ia menggembalakannya hingga sehat dan gemuk. Rencananya sederhana: ketika sudah bagus, unta itu akan dijual untuk mendapatkan keuntungan.

Secara hitung-hitungan bisnis, semuanya tampak wajar.

Tetapi Umar melihat persoalan yang lebih dalam.

Ia mengatakan kepada putranya bahwa orang-orang mungkin memberikan perhatian lebih kepada unta tersebut hanya karena mengetahui pemiliknya adalah anak Amirul Mukminin.

Barangkali tidak ada yang pernah meminta secara langsung agar unta itu diperlakukan istimewa.

Namun status Abdullah sebagai anak khalifah bisa saja membuat orang memberikan pelayanan lebih.

Dan bagi Umar, itu sudah cukup menjadi masalah.

“Kembalikan Keuntungannya”

Umar kemudian memerintahkan Abdullah mengambil kembali modal yang ia keluarkan untuk membeli unta tersebut.

Sementara keuntungan dari kenaikan nilai unta itu harus diberikan kepada Baitul Maal.

Mengapa?

Karena Umar tidak ingin anaknya mendapatkan keuntungan dari sebuah fasilitas yang mungkin muncul bukan karena usaha Abdullah semata, melainkan karena status sebagai anak seorang penguasa.

BACA JUGA :  Sesuai Komitmen, Kemenag Bantu 51 Jemaah Dibadalhajikan, 136 Safariwukufkan

Di sinilah letak pelajaran besarnya.

Umar tidak hanya bertanya, “Apakah anak saya melakukan korupsi?”

Ia bertanya lebih jauh:

“Apakah ada keuntungan yang diterima anak saya karena orang-orang tahu siapa ayahnya?”

Pertanyaan seperti ini terasa sangat relevan bahkan sampai hari ini.

Sebab penyalahgunaan kekuasaan tidak selalu datang dalam bentuk uang yang diam-diam masuk ke rekening.

Kadang ia muncul dalam bentuk yang jauh lebih halus.

Diperlakukan berbeda.

Diprioritaskan.

Diberi kemudahan.

Mendapat akses yang tidak dimiliki orang lain.

Atau memperoleh keuntungan hanya karena membawa nama besar orang tua.

Umar Tak Ingin Nama Besarnya Menjadi Modal Anaknya

Yang menarik dari kisah ini adalah Abdullah sebenarnya tidak sedang berusaha memanfaatkan jabatan ayahnya.

Ia membeli unta dengan uangnya sendiri.

Ia tidak meminta fasilitas.

Ia juga tidak memerintahkan siapa pun untuk memperlakukan untanya secara istimewa.

Tetapi Umar tetap melihat adanya potensi conflict of interest.

Inilah bentuk kehati-hatian seorang pemimpin.

Ia tidak menunggu sampai penyalahgunaan benar-benar terjadi.

Ia mencegahnya sejak dari kemungkinan.

Bagi Umar, menjaga integritas bukan hanya soal tidak mengambil sesuatu yang bukan hak.

Menjaga integritas juga berarti tidak membiarkan keluarga menikmati sesuatu yang mungkin muncul karena jabatan yang sedang kita pegang.

Ini pelajaran yang sangat mahal.

Sebab di banyak tempat, justru keluarga pejabat sering menjadi bagian pertama yang menikmati berbagai kemudahan.

Nama orang tua menjadi kartu akses.

Jabatan menjadi jalan pintas.

BACA JUGA :  Kemenag Kembali Buka Seleksi Imam Masjid untuk Dikirim ke Emirat Arab

Kekuasaan berubah menjadi fasilitas keluarga.

Dan yang lebih berbahaya, semua itu kadang dianggap biasa.

“Wajar, namanya juga anak pejabat.”

Umar bin Khattab justru menunjukkan sebaliknya.

Justru karena anak pejabat, ia harus lebih berhati-hati.

Ketika Daging di Meja Makan Menjadi Persoalan

Ketegasan Umar terhadap keluarganya tidak berhenti pada urusan unta.

Dalam kisah lain, Umar pernah mendatangi rumah Abdullah.

Saat itu Abdullah sedang menikmati makanan dengan lauk daging.

Umar menegurnya.

Kurang lebih pesannya adalah: apakah karena engkau anak Amirul Mukminin, engkau bisa menikmati makanan seperti itu sementara masih ada masyarakat yang kesulitan?

Umar bahkan menyarankan makanan yang lebih sederhana seperti roti dengan garam atau minyak.

Bagi kita hari ini, teguran tersebut mungkin terdengar keras.

Tetapi pesan di baliknya sangat dalam.

Seorang pemimpin tidak boleh kehilangan rasa terhadap kehidupan rakyatnya.

Bagaimana mungkin seorang pemimpin berbicara tentang kemiskinan jika keluarganya hidup jauh dari realitas masyarakat?

Bagaimana mungkin pejabat meminta rakyat berhemat jika keluarganya justru berlomba menikmati kemewahan?

Umar tampaknya memahami satu hal sederhana: jarak antara pemimpin dan rakyat tidak boleh terlalu jauh.

Bukan berarti pejabat dan keluarganya harus selalu hidup kekurangan.

Tetapi ketika masyarakat sedang kesulitan, seorang pemimpin harus memiliki empati.

Ia harus mampu merasakan apa yang dirasakan rakyat.

Jabatan Bukan Warisan Kenikmatan

Kisah Umar dan Abdullah bin Umar pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang seekor unta atau sepiring daging.

Ini adalah cerita tentang integritas.