Scroll untuk baca artikel
PERSONA

Sufyan al-Tsauri Tolak Jabatan dan Tegur Khalifah: Ulama yang Tak Silau Kekuasaan

×

Sufyan al-Tsauri Tolak Jabatan dan Tegur Khalifah: Ulama yang Tak Silau Kekuasaan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi
Ilustrasi

WawaiNEWS.ID – Kekuasaan biasanya punya daya tarik yang sulit ditolak. Ada jabatan, penghormatan, hadiah, akses, dan tentu saja pintu-pintu yang mendadak terbuka lebih lebar.

Namun, sejarah Islam mencatat seorang ulama yang justru memilih menjaga jarak ketika pintu kekuasaan terbuka untuknya.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Namanya Sufyan bin Sa’id bin Masruq al-Tsauri.

Ia bukan orang sembarangan. Ia dikenal sebagai salah satu ulama besar pada zamannya dan mendapat gelar Amirul Mukminin fil Hadits, sebuah gelar yang menunjukkan kedudukannya yang tinggi dalam bidang hadis.

Sufyan al-Tsauri berasal dari Kufah dan dikenal memiliki keluasan ilmu, kecerdasan berpikir, ketakwaan serta sikap sangat hati-hati terhadap perkara yang dianggap syubhat.

Dalam Hilyah al-Auliya, Abu Nu’aim menggambarkan Sufyan sebagai sosok yang sangat berhati-hati dalam menjaga dirinya dari perkara yang tidak baik.

Tetapi ada satu hal lain yang membuat namanya terus dikenang: keberaniannya mengatakan tidak kepada kekuasaan.

Bukan karena ia tidak memahami politik.

Justru karena ia memahami betapa mudahnya ilmu kehilangan ketajamannya ketika terlalu dekat dengan singgasana.

BACA JUGA :  “Bocah Ledok”: Dari Anak yang Diremehkan Menjadi Tokoh Politik Kota Bekasi, Kisah Rizki Topananda yang Menginspirasi

Ketika Jabatan Datang, Sufyan Justru Menjauh

Sufyan al-Tsauri hidup pada masa Dinasti Abbasiyah. Ia pernah diminta oleh Khalifah al-Mansur untuk menduduki jabatan dalam pemerintahan.

Jawabannya: menolak.

Ia kemudian meninggalkan Kufah pada 144 H dan menetap di Makkah serta Madinah, sebagaimana dicatat al-Zirikli.

Pilihan itu terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya membutuhkan keberanian luar biasa.

Sebab menolak jabatan berarti menolak banyak hal yang biasanya mengikuti jabatan: akses, fasilitas, pengaruh dan kedekatan dengan pusat kekuasaan.

Dalam bahasa zaman sekarang, Sufyan sepertinya sudah memahami satu prinsip penting:

Kalau terlalu lama duduk di kursi kekuasaan, jangan-jangan yang berubah bukan hanya kursinya, tetapi juga cara memandang kebenaran.

Dan Sufyan memilih menjaga jarak.

Bukan karena membenci penguasa, melainkan agar nasihatnya tetap bisa berdiri di atas kebenaran.

Harun al-Rasyid Rindu kepada Sahabat Lama

Kisah lain tentang Sufyan al-Tsauri diceritakan Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin.

Ketika Harun al-Rasyid naik menjadi khalifah, para ulama berdatangan memberikan ucapan selamat.

Harun menyambut mereka dengan penghormatan dan hadiah.

BACA JUGA :  Jadi Panglima Jampidsus, Ini Jejak Kuntadi Sang Pemburu Koruptor

Namun ada satu nama yang tidak muncul.

Sufyan al-Tsauri.

Padahal, sebelum Harun menjadi khalifah, keduanya disebut memiliki kedekatan dalam ketaatan.

Harun kemudian merasa kehilangan.

Ia merindukan sahabat yang dahulu dapat mengingatkannya kepada akhirat.

Akhirnya, Harun mengirim surat kepada Sufyan melalui seorang utusan bernama ‘Abbad al-Thaliqani.

Isi surat itu, sebagaimana dikisahkan al-Ghazali, bernada persahabatan.

Harun mengingatkan bahwa jabatan tidak semestinya memutus persaudaraan. Ia mempertanyakan mengapa Sufyan tidak datang, sementara para ulama lain telah hadir.

Harun pun meminta Sufyan menemuinya.

Surat itu sampai kepada Sufyan di masjid Kufah.

Tetapi Sufyan tidak buru-buru membukanya.

Ia bahkan meminta orang lain membacakan surat tersebut.

Setelah mendengar isinya, ia meminta muridnya menuliskan jawaban di balik kertas surat tersebut.

Tidak perlu kertas baru.

Sebuah detail kecil, tetapi menarik.

Seorang ulama yang begitu berhati-hati dengan harta dan fasilitas bahkan tidak ingin membuang-buang sesuatu yang masih dapat digunakan.

Balasan Sufyan: Persahabatan Bukan Alasan Membungkam Kritik

Jawaban Sufyan kepada Harun bukan surat basa-basi.

Ia justru menyampaikan kritik keras.

Menurut kisah tersebut, Sufyan menyatakan bahwa hubungan persaudaraan mereka telah berubah karena Harun telah terfitnah oleh dunia dan jabatan.

BACA JUGA :  Maskur Tilawahyu : Saya Ikhtiar untuk DPRD Tanjung Pinang yang Lebih Baik

Ia juga mengkritik tindakan penggunaan harta baitul mal untuk memberikan hadiah kepada para ulama yang datang.

Di sinilah ketegasan Sufyan menjadi menarik.

Baginya, harta negara bukan hadiah pribadi penguasa.

Baitul mal memiliki hak-hak yang harus diperhatikan: fakir miskin, anak yatim dan mereka yang berjuang di jalan Allah.

Dengan demikian, seorang penguasa tidak bisa begitu saja memperlakukan harta publik seolah-olah uang pribadi yang bebas dibagikan untuk memperoleh penghormatan.

Sufyan bahkan meminta Harun tidak lagi mengirimkan surat kepadanya dan lebih fokus mengurus umat Muhammad SAW dengan adil.

Kalimatnya keras.

Tetapi justru di situlah letak keberaniannya.

Ia tidak menggunakan kedekatan masa lalu sebagai tiket masuk ke lingkaran kekuasaan.

Ia juga tidak menjadikan persahabatan sebagai alasan untuk membenarkan sesuatu yang menurutnya keliru.

Ketika Ulama Tidak Mau Menjadi Stempel Kekuasaan

Kisah Sufyan al-Tsauri menyimpan pelajaran yang sangat relevan untuk membaca hubungan antara agama, kekuasaan dan harta publik.