TANGGAMUS – Kualitas pembangunan jalan rigid beton ruas Talang Padang–Sumanda, Kabupaten Tanggamus, menjadi sorotan setelah DPRD menemukan sejumlah kerusakan saat melakukan inspeksi mendadak (sidak), Rabu (4/11/2026).
Proyek infrastruktur dengan nilai anggaran Rp9,39 miliar yang bersumber dari pinjaman Pemerintah Kabupaten Tanggamus kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) tersebut ditemukan mengalami keretakan di sejumlah titik. Bahkan, terdapat bagian badan jalan yang dilaporkan amblas.
Tak hanya itu, rombongan DPRD juga mempertanyakan konstruksi beton yang ditinjau karena tidak terlihat adanya material besi pada bagian rigid beton.
Sidak dipimpin Ketua DPRD Tanggamus Agung Setyo Utomo. Turut hadir Wakil Ketua I M. Rangga Putra Hakim, Ketua Komisi III Zulki Qurniawan, serta sejumlah anggota Komisi III, yakni Irsi Jaya, Nursalim Ahyono, Alwi, dan anggota DPRD dari daerah pemilihan V Talang Padang–Pugung, Andri Kusuma.
Dalam peninjauan tersebut, rombongan memeriksa langsung kondisi badan jalan dan sejumlah bagian konstruksi yang dinilai bermasalah.
Sebagaimana dilansir Wawai News, Wakil Ketua I DPRD Tanggamus, M. Rangga Putra Hakim, mengatakan pihaknya menemukan keretakan beton di banyak titik. Beberapa kerusakan bahkan dinilai cukup serius.
“Setelah kita melihat langsung di lapangan, memang ditemukan banyak sekali keretakan. Ada beberapa titik yang kondisinya cukup serius, bahkan retakannya sudah seperti pecah seribu. Ini tentu harus menjadi perhatian bersama dan perlu segera ditindaklanjuti,” kata Rangga.
Selain keretakan, Rangga juga mempertanyakan tidak terlihatnya material besi pada konstruksi rigid beton tersebut.
Ia bahkan meminta penjelasan langsung kepada pengawas dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Tanggamus mengenai spesifikasi konstruksi yang digunakan dalam pengerjaan proyek.
“Ini saya mau tanya kepada pengawas dari Dinas PUPR. Proyek rigid beton ini kan harusnya ada besi, kok ini tidak ada besi sama sekali? Coba jelaskan kepada saya, bagaimana ini? Di mana-mana rigid beton itu pakai besi,” ujarnya.
Temuan tersebut menjadi perhatian serius mengingat proyek itu menelan anggaran hingga Rp9,39 miliar. Hal itu perlu dipastikan apakah kondisi kerusakan dan konstruksi yang ditemukan berkaitan dengan kualitas pekerjaan atau memang sesuai dengan perencanaan teknis.













