TANGGAMUS – Rentetan gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Tanggamus, Lampung, sejak Rabu (28/10/2026) tercatat mencapai 76 kejadian hingga Jumat (30/10/2026). BMKG mengungkap aktivitas tersebut dipicu pergerakan sesar atau patahan aktif yang melintasi wilayah Tanggamus.
Ketua Tim Kerja Operasional Stasiun Geofisika (Stageof) Lampung Utara, Agung Setiadi, membenarkan peningkatan aktivitas kegempaan tersebut. Menurutnya, seluruh kejadian yang tercatat sejak 28 Oktober mencapai 76 gempa bumi.
“Iya betul, kejadian gempanya tanggal 28 Oktober. Total gempa sejak tanggal 28 Oktober sudah 76 gempa bumi,” kata Agung, Jumat (30/10/2026).
Agung menjelaskan, secara geologis Tanggamus berada di wilayah yang dilalui segmen patahan aktif. Pergerakan pada zona sesar tersebut dapat memicu pelepasan energi dan menimbulkan gempa bumi berulang.
Aktivitas tektonik di wilayah Lampung juga dipengaruhi interaksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke arah timur laut dan Lempeng Eurasia yang bergerak ke arah barat daya. Dinamika kedua lempeng tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kegempaan di Tanggamus.
“Aktivitas tersebut berkaitan dengan dinamika pergerakan lempeng tektonik. Pergerakan kedua lempeng tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi aktivitas tektonik di wilayah Lampung, termasuk Tanggamus,” jelasnya.
Terkait dampak gempa, BMKG menyebut koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) belum menunjukkan adanya kerusakan infrastruktur secara luas. Namun, berdasarkan laporan lapangan, terdapat satu rumah warga yang terdampak akibat rangkaian gempa tersebut.
BMKG terus memantau perkembangan aktivitas kegempaan dan meminta masyarakat tetap waspada tanpa terpancing informasi yang belum terverifikasi.
“BMKG terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas kegempaan di wilayah tersebut. Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya,” imbau Agung.***












