Di luar jabatan formal tersebut, ia tetap memiliki ruang komunikasi dengan masyarakat.
Bagi pendukungnya, kesinambungan itu menunjukkan bahwa pengaruh politik tidak selalu lahir dari kursi kekuasaan.
Kadang justru sebaliknya.
Seseorang dapat kehilangan jabatan, tetapi tidak kehilangan relevansi.
Dan inilah yang tampaknya membuat Anies berbeda dari sekadar mantan pejabat.
Bayang-bayang Pilpres 2029
Pilpres 2029 memang masih jauh.
Tetapi politik tidak pernah mengenal kata terlalu dini.
Konsolidasi politik, pembentukan jaringan sosial, pembangunan citra, komunikasi publik, hingga penguatan basis massa dapat berlangsung bertahun-tahun sebelum hari pencoblosan.
Karena itu, kemunculan kembali nama Anies dalam berbagai ruang publik patut dibaca sebagai bagian dari dinamika politik yang lebih panjang.
Jika Anies benar-benar memutuskan maju kembali, ia tentu tidak hanya berhadapan dengan kandidat lain.
Ia akan berhadapan dengan mesin politik, kekuatan ekonomi, persepsi publik, media sosial, opini digital, dan seluruh konfigurasi kepentingan yang terbentuk menjelang 2029.
Di sinilah pertarungan sesungguhnya.
Bukan hanya pertarungan antarcalon.
Melainkan pertarungan gagasan, jaringan, sumber daya, dan persepsi masyarakat.
Mesin pembunuhan karakter
Politik modern juga memiliki medan tempur baru: ruang digital.
Di sana, informasi dan disinformasi dapat bergerak dalam hitungan detik. Sebuah potongan video dapat dipisahkan dari konteksnya. Sebuah tuduhan dapat berulang kali diproduksi hingga tampak seperti kebenaran. Sebuah narasi dapat digemakan oleh banyak akun sampai masyarakat sulit membedakan kritik, propaganda, dan fakta.
Dalam kondisi seperti itu, siapa pun yang memiliki potensi politik besar akan menjadi sasaran.
Anies bukan pengecualian.
Namun di titik ini kita perlu berhati-hati.
Tidak setiap kritik terhadap Anies adalah konspirasi. Tidak setiap orang yang tidak menyukai Anies adalah buzzer. Dan tidak setiap kritik terhadap kekuasaan otomatis merupakan bukti adanya kejahatan politik.
Demokrasi justru membutuhkan kritik.
Yang harus dilawan adalah fitnah, manipulasi informasi, pembunuhan karakter tanpa dasar, serta penggunaan kekuasaan negara untuk kepentingan politik kelompok.
Jika memang ada praktik semacam itu, ukurannya bukan tuduhan, melainkan bukti.
Dan bukti harus diuji secara terbuka.
Kekuasaan yang takut pada kompetisi
Masalah terbesar akan muncul apabila penguasa mulai memandang kompetisi politik sebagai ancaman yang harus dimatikan, bukan sebagai keniscayaan demokrasi yang harus dihadapi.
Demokrasi bukan sistem untuk memastikan petahana atau kelompok tertentu selalu menang.
Demokrasi adalah sistem yang memungkinkan rakyat mengganti kekuasaan secara damai melalui mekanisme konstitusional.
Karena itu, apabila Anies ingin kembali bertarung pada 2029, maka haknya sama dengan setiap warga negara lain yang memenuhi persyaratan konstitusional.
Tidak boleh ada larangan politik yang dibuat hanya karena seseorang dianggap berbahaya bagi status quo.
Tidak boleh ada kriminalisasi politik.
Tidak boleh ada manipulasi institusi negara.
Tidak boleh ada penggunaan aparat untuk mengintimidasi lawan politik.
Dan tidak boleh ada rekayasa hukum untuk menyingkirkan seseorang dari kontestasi.
Jika Anies kalah, kalahkan melalui suara rakyat. Bukan melalui rekayasa.
Kalimat sederhana itu sesungguhnya merupakan ujian paling mendasar bagi demokrasi Indonesia.
Anies tidak perlu menjadi korban
Namun Anies sendiri juga harus memahami bahwa politik tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan simpati.
Popularitas bukan kemenangan.
Kerumunan bukan organisasi.
Relawan bukan partai politik.
Dan kemarahan publik bukan otomatis menjadi suara elektoral.
Jika benar ingin kembali ke gelanggang Pilpres 2029, Anies membutuhkan lebih dari sekadar basis pendukung.
Ia membutuhkan organisasi politik yang kuat, konsolidasi yang matang, gagasan yang konkret, kaderisasi, komunikasi publik yang konsisten, serta kemampuan menjawab persoalan ekonomi dan sosial yang nyata di tengah masyarakat.
Rakyat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pandai berbicara.
Rakyat membutuhkan pemimpin yang mampu menjelaskan bagaimana harga kebutuhan pokok dikendalikan, lapangan kerja diciptakan, pendidikan diperbaiki, hukum ditegakkan, korupsi diberantas, dan ketimpangan dikurangi.
Di situlah kualitas kepemimpinan diuji.
Jangan melawan kebencian dengan kebencian
Salah satu modal terbesar Anies justru terletak pada kemampuannya menjaga ketenangan di tengah tekanan politik.
Jika benar ada upaya pembusukan terhadap dirinya, respons terbaik bukanlah membalas dengan kebencian yang sama.
Lawan fitnah dengan data.
Lawan propaganda dengan argumentasi.
Lawan kebencian dengan karya.
Dan lawan politik dengan politik.
Sebab apabila seseorang mengaku membawa perubahan tetapi menggunakan cara-cara yang sama dengan mereka yang dikritiknya, maka perubahan itu kehilangan makna.
Anies harus menunjukkan bahwa politik dapat tetap keras dalam gagasan tanpa menjadi kasar dalam perilaku.
Bahwa perbedaan politik tidak harus berubah menjadi permusuhan.
Dan bahwa kekuasaan bukan tujuan akhir, melainkan amanah.
Ketika kekuasaan mengalami Aniesfobia
Jika benar ada kekuatan politik yang sejak dini berusaha menghambat langkah Anies menuju 2029, maka pertanyaannya sederhana:
Mengapa takut?
Jika Anies dianggap tidak memiliki kekuatan politik, biarkan ia bertarung.
Jika dianggap tidak memiliki elektabilitas, biarkan rakyat menentukan.
Jika dianggap gagal, sampaikan kegagalannya kepada publik.
Jika gagasannya buruk, lawan dengan gagasan yang lebih baik.
Tidak perlu menggunakan kekuasaan untuk menghalangi.
Tidak perlu membangun konspirasi.
Tidak perlu memproduksi kebencian.
Sebab dalam demokrasi yang sehat, lawan politik bukan musuh negara.
Justru keberadaan lawan politik diperlukan agar kekuasaan tidak merasa menjadi satu-satunya kebenaran.
Aniesfobia, jika memang benar ada, pada akhirnya bukan hanya persoalan tentang Anies.
Ia adalah persoalan tentang ketakutan terhadap kompetisi.
Dan kekuasaan yang takut berkompetisi sebenarnya sedang mempertontonkan kelemahannya sendiri.
Sebab kekuasaan yang percaya diri tidak takut pada lawan.
Kekuasaan yang yakin pada prestasinya tidak takut pada kritik.
Dan pemerintahan yang benar-benar memperoleh kepercayaan rakyat tidak perlu takut pada seorang kandidat.
Biarkan 2029 menjadi arena pertarungan gagasan.
Biarkan rakyat menjadi hakimnya.
Biarkan suara rakyat menjadi penentunya.
Jika Anies memang memiliki kapasitas dan dukungan, rakyat akan menentukan.
Jika tidak, rakyat juga yang akan menolaknya.
Itulah demokrasi.
Jangan kalahkan Anies sebelum rakyat sempat memilihnya.
Dan jangan pula memenangkan Anies sebelum rakyat memberikan suaranya.
Sebab pada akhirnya, yang paling berdaulat bukan kekuasaan, bukan oligarki, bukan partai politik, bukan buzzer, bukan elite, dan bukan pula seorang Anies Baswedan.
Yang berdaulat adalah rakyat.
Allahu a’lam bishawab.
Bekasi Kota Patriot
28 Rabi’ul Awal 1448 H / 10 September 2026







