Scroll untuk baca artikel
PENDIDIKANZona Bekasi

Bukan Sekadar Jalan-Jalan! Napak Tilas Pramuka Al-Madaad di Bekasi Bongkar Jejak Sejarah, Pencak Silat hingga Warisan Leluhur

×

Bukan Sekadar Jalan-Jalan! Napak Tilas Pramuka Al-Madaad di Bekasi Bongkar Jejak Sejarah, Pencak Silat hingga Warisan Leluhur

Sebarkan artikel ini
Gerakan Pramuka Gugus Depan 11099–11100 Al-Madaad menggelar Napak Tilas Season II dengan mengambil tema “Heritage Journey”,

KOTA BEKASI — Di tengah zaman ketika generasi muda lebih akrab dengan jejak digital ketimbang jejak sejarah, Gerakan Pramuka Gugus Depan 11099–11100 Al-Madaad justru mengajak anak-anak muda kembali menelusuri jejak yang jauh lebih tua: sejarah, budaya dan warisan leluhur.

Melalui Napak Tilas Season II “Heritage Journey”, para anggota Pramuka diajak tidak sekadar berjalan kaki dari satu titik ke titik lain, tetapi memahami bahwa setiap daerah memiliki cerita, nilai dan warisan yang layak dikenali sebelum semuanya sekadar menjadi nama dalam buku sejarah.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kegiatan yang berlangsung di Yayasan Pendidikan Islam Fisabilillah (Yasfi), Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Minggu (9/8/2026) itu dimulai sejak pukul 07.00 WIB dan berlangsung selama satu hari.

Konsepnya sederhana, tetapi pesannya cukup dalam: mengenal masa lalu untuk membentuk karakter masa depan.

Sebab, kalau generasi muda hanya mengenal sejarah dari mesin pencarian dan budaya hanya dari potongan video berdurasi beberapa detik, jangan heran jika suatu hari warisan leluhur tinggal menjadi konten nostalgia.

Napak tilas tersebut dirancang sebagai kegiatan edukatif yang mempertemukan unsur kepramukaan, pendidikan, sejarah, budaya, keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat.

Peserta memperoleh pengalaman langsung untuk mengenal lebih dekat lingkungan sosial dan budaya yang berkembang di wilayah Kecamatan Pondok Melati dan Kecamatan Jatisampurna.

BACA JUGA :  Pakuwon Mall di Simpang Pekayon Bikin Banjir dan Kemacetan, Nuryadi: Saya Minta Pemko Segera Evaluasi

Para anggota Pramuka tidak hanya ditempatkan sebagai peserta kegiatan yang datang, mengikuti agenda, kemudian pulang. Mereka didorong menjadi generasi yang memahami bahwa identitas sebuah daerah dibangun dari cerita panjang masyarakatnya.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang silaturahmi antara Gerakan Pramuka, tokoh agama, tokoh masyarakat, unsur pendidikan, pelatih seni bela diri dan berbagai elemen masyarakat.

Salah satu agenda yang menarik perhatian dalam kegiatan tersebut adalah penampilan kolaborasi Pencak Silat Merpati Putih.

Seni bela diri yang sarat dengan nilai kedisiplinan dan ketahanan diri itu menjadi bagian dari upaya memperkenalkan budaya Nusantara kepada generasi muda.

Di tengah derasnya budaya populer yang datang dari berbagai penjuru dunia, kehadiran pencak silat menjadi pengingat bahwa Indonesia sebenarnya tidak pernah kekurangan warisan budaya.

Masalahnya hanya satu yakni mau dikenalkan dan dipelajari atau tidak.

Karena kalau budaya sendiri tidak diperkenalkan kepada generasi muda, jangan sampai kelak mereka mengenal budaya Nusantara justru setelah melihatnya viral di internet.

Penampilan tersebut turut dihadiri para pelatih Pencak Silat Merpati Putih Kota Bekasi, sekaligus memperkuat pesan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan melalui seremoni besar.

Bisa dimulai dari halaman sekolah, lingkungan pesantren, kegiatan Pramuka, hingga komunitas masyarakat.

Napak Tilas Season II tersebut mendapat dukungan dari berbagai unsur masyarakat dan pemerintahan setempat.

Hadir Ka. Mabiran Kecamatan Pondok Melati, Camat Pondok Melati Cecef Miftah Farid, S.STP., MM.

BACA JUGA :  Korban Tewas Kecelakaan Maut di Kota Bekasi Didominasi Anak SD

Kehadiran unsur pemerintahan tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap pembinaan generasi muda melalui kegiatan kepramukaan, pendidikan karakter dan pelestarian budaya lokal.

Turut hadir Kak Mabisa Kelurahan Jatimurni Mochamad Sunaryadi, SE, serta Kak Kwarran Kecamatan Pondok Melati Gerakan Pramuka Abdillah, M.Pd.

Dari lingkungan Pondok Pesantren/Yayasan Pendidikan Islam Fisabilillah (Yasfi) Pondok Melati Kota Bekasi, kegiatan tersebut juga memperoleh dukungan dari Pengasuh dan Pembina Utama Abah KH. Rahmadin Afif, serta Pembina Yayasan Yasfi Sholahuddin Malik, S.Ag., M.Si.

Sementara itu, dari jajaran Gerakan Pramuka, kegiatan diikuti Ka. Mabigus Gudep 11099–11100 Al-Madaad, Kak Mabigus Chandra Gunawan, S.Pd., bersama pengurus dan panitia pelaksana.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan karakter tidak bisa dibebankan kepada sekolah atau Pramuka semata.

Ia membutuhkan ekosistem.

Lebih jauh, Napak Tilas Season II diharapkan menjadi ruang pembelajaran nyata bagi anggota Gerakan Pramuka untuk memahami sejarah, menghargai perjuangan para pendahulu serta menjaga budaya dan kearifan lokal.

Nilai-nilai Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka pun diharapkan tidak berhenti sebagai hafalan yang terdengar lantang ketika upacara.

Justru nilai tersebut harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Mulai dari disiplin, tanggung jawab, gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan hingga kemampuan menghargai keberagaman.

Sebab karakter tidak lahir dari slogan.

Karakter tumbuh dari kebiasaan.

BACA JUGA :  Kereta Cepat Belum Ngebut Bayar PBB, Risma Sentil Potensi PAD Bekasi yang Terlewat

Dan kebiasaan tidak terbentuk hanya karena seseorang mampu menghafal Dasa Darma tanpa pernah mempraktikkannya.

Generasi Muda Bekasi dan Tantangan Zaman

Napak Tilas Season II “Heritage Journey” pada akhirnya membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar agenda kepramukaan.

Kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan generasi muda bukan hanya tentang kemampuan akademik atau kecakapan teknologi.

Ada sejarah yang harus dipahami.

Ada budaya yang harus dirawat.

Ada lingkungan sosial yang harus dihormati.

Dan ada nilai kebangsaan yang harus terus diwariskan.

Di era ketika informasi dapat berpindah dalam hitungan detik, generasi muda memang dituntut bergerak cepat. Namun, bergerak cepat tanpa memahami akar sejarah juga berisiko membuat seseorang kehilangan arah.

Karena itu, “Heritage Journey” menjadi semacam rem kecil di tengah zaman yang serba ngebut: mengajak generasi muda berhenti sejenak, menoleh ke belakang, kemudian melangkah kembali dengan pemahaman yang lebih kuat.

Melalui semangat “Mengenal Sejarah, Melestarikan Budaya, Menguatkan Karakter, dan Membangun Generasi Berjiwa Nusantara”, kegiatan tersebut diharapkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.

Sebab menjaga warisan leluhur bukan semata urusan orang-orang yang sudah berumur.

Justru anak muda harus ditempatkan di garis depan.

Pramuka, lembaga pendidikan, pesantren, pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, pelatih seni bela diri dan komunitas dapat menjadi bagian dari mata rantai tersebut.***