JAKARTA – Drama pengosongan Hotel Sultan kembali memasuki babak panas. Kali ini bukan sekadar adu argumen, melainkan juga menghadirkan “tumbal darah perjuangan” setelah mantan Panglima Kostrad Letjen TNI (Purn.) Kivlan Zen mengalami luka di tangan kirinya saat memimpin massa penolak eksekusi Hotel Sultan, Kamis (18/6/2026).
Peristiwa itu terjadi di tengah ketegangan antara massa pendukung Hotel Sultan dan aparat gabungan yang bersiap mengawal pelaksanaan penetapan pengadilan terkait eksekusi kawasan tersebut.
Ironisnya, luka yang dialami Kivlan bukan akibat bentrok langsung dengan aparat, melainkan karena kawat berduri yang justru dipasang sebagai pembatas pengamanan.
Menurut Kivlan, insiden bermula ketika dirinya sedang berkomunikasi dengan Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold Hutagalung di garis depan massa.
Saat dialog berlangsung, tekanan dari belakang membuat situasi berubah tak terkendali.
Dorongan massa membuat tubuh Kivlan kehilangan keseimbangan dan tangannya menghantam kawat berduri setinggi sekitar satu meter yang membentang di lokasi.
“Tadi saya sedang bicara dengan Kapolres. Saya minta jangan masuk ke dalam hotel. Tiba-tiba ada dorongan dari belakang dan langsung kena kawat berduri,” ujar Kivlan.
Beruntung luka yang dialaminya tidak serius.
Meski demikian, Kivlan tampak mencoba memaknai insiden tersebut secara simbolis.
Dengan nada khas seorang jenderal yang lama berkecimpung di medan perjuangan, ia menyebut darah yang keluar sebagai bagian dari pengorbanan.
“Cuma gores saja. Tidak apa-apa. Ada sumbangan darah saya untuk perjuangan,” katanya.
Kalimat itu sontak menjadi sorotan publik.
Di media sosial, sebagian netizen menyebut insiden tersebut sebagai “donor darah dadakan di medan kawat berduri”, sementara yang lain menilai pernyataan itu menunjukkan semangat perlawanannya terhadap proses eksekusi yang tengah berlangsung.
Namun di luar drama luka ringan yang dialami Kivlan, ketegangan sesungguhnya terjadi beberapa meter dari lokasi tersebut.
Massa yang sejak pagi bertahan di area Hotel Sultan menolak meninggalkan lokasi meskipun aparat telah berulang kali menyampaikan imbauan secara persuasif.
Di hadapan ratusan massa, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold Elisa Partomuan Hutagalung meminta seluruh penghuni, simpatisan, dan pihak yang berada di area hotel untuk keluar demi kelancaran pelaksanaan penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Namun seruan tersebut tidak langsung direspons positif.
Massa justru bertahan dan meneriakkan berbagai penolakan terhadap langkah eksekusi.
Situasi kemudian berubah menjadi lebih panas ketika personel gabungan TNI-Polri dengan perlengkapan tameng mulai bergerak memasuki area yang telah dipagari kawat berduri.
Aksi itu memicu reaksi keras dari sebagian massa.
Lemparan batu dan botol mulai beterbangan ke arah petugas.
Ketegangan yang sebelumnya hanya berupa adu suara berubah menjadi benturan fisik yang sulit dihindari.
Aparat akhirnya mengerahkan kendaraan water cannon yang sejak awal sudah disiagakan di lokasi.
Semburan air bertekanan tinggi membuat massa berhamburan ke berbagai arah.
Sebagian berlari menjauh dari titik bentrokan, sebagian lainnya memilih berlindung di dalam area Hotel Sultan.
Momentum tersebut dimanfaatkan aparat untuk memperluas pengamanan dan memecah konsentrasi massa yang sebelumnya terkonsentrasi di satu titik.
Petugas kemudian melakukan penyisiran dan meminta siapa pun yang masih bertahan di dalam hotel agar segera keluar.
Peristiwa ini menjadi gambaran terbaru dari panjangnya polemik Hotel Sultan yang selama bertahun-tahun menjadi sengketa bernilai triliunan rupiah.
Di satu sisi terdapat aparat yang menjalankan penetapan pengadilan.
Di sisi lain terdapat kelompok yang merasa memiliki hak dan kepentingan atas kawasan tersebut.
Dan di tengah pusaran konflik itu, publik kembali menyaksikan sebuah pemandangan yang tidak asing dalam sejarah Indonesia: kawat berduri, orasi perlawanan, aparat bersiaga, water cannon menyembur, serta seorang jenderal purnawirawan yang mengaku menyumbangkan setetes darah untuk perjuangan.
Entah akan dicatat sebagai simbol perlawanan atau sekadar catatan kaki dalam sengketa Hotel Sultan, satu hal yang pasti: drama di kawasan elite Jakarta ini tampaknya masih jauh dari kata selesai.***







