LAMPUNG TIMUR – Fajar baru saja menyingsing. Sebagian warga masih menyiapkan aktivitas pagi, sebagian lainnya berangkat mencari nafkah. Namun bagi Bunawan (49), perjalanan pagi Selasa itu menjadi perjalanan terakhir dalam hidupnya.
Kecelakaan lalu lintas maut terjadi di Simpang Salamon, Desa Sidorejo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, sekitar pukul 06.00 WIB. Dua sepeda motor terlibat tabrakan frontal atau yang dikenal masyarakat sebagai “adu kambing”, sebuah istilah sederhana untuk peristiwa yang dampaknya sering kali tidak sederhana: luka berat, cacat permanen, bahkan kematian.
Korban meninggal dunia diketahui bernama Bunawan, seorang buruh asal Dusun 2, Desa Sidorejo. Saat kejadian, ia mengendarai sepeda motor Honda Vario putih BE 5690 PX dan sedang dalam perjalanan dari arah Simpang Pugung menuju Sribhawono.
Di saat yang hampir bersamaan, dari arah berlawanan melaju sepeda motor Honda Kharisma tanpa pelat nomor yang dikendarai I Gusti Made Evan Saputra (17), seorang pelajar asal Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribhawono.
Entah karena kurang konsentrasi, faktor kecepatan, atau kondisi lain yang masih menunggu hasil penyelidikan aparat, kedua kendaraan akhirnya bertemu pada titik yang sama dalam waktu yang sama. Sayangnya, pertemuan itu bukan untuk saling menyapa, melainkan benturan keras yang mengakhiri satu nyawa.
Benturan frontal tersebut membuat Bonardi mengalami luka fatal dan meninggal dunia di lokasi kejadian sebelum sempat mendapatkan pertolongan medis. Sementara pengendara lainnya mengalami luka-luka dan mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa jalan raya bukan arena adu keberanian, bukan pula tempat menguji nasib. Aspal memang diam, tetapi kesalahan sekecil apa pun dapat meminta harga yang sangat mahal.
Ironisnya, hampir setiap pekan kecelakaan serupa terus berulang. Rambu-rambu dipasang, imbauan keselamatan disampaikan, namun sering kali kalah oleh tergesa-gesa, kelalaian, dan keyakinan bahwa musibah hanya akan menimpa orang lain.
Kini, keluarga Bonardi harus menerima kenyataan pahit bahwa orang yang pagi tadi berpamitan untuk beraktivitas tak lagi pulang ke rumah. Sebuah duka yang menyisakan pertanyaan sekaligus pelajaran: berapa banyak lagi nyawa yang harus hilang sebelum keselamatan berlalu lintas benar-benar menjadi kesadaran bersama?Kalimat satirnya tetap halus dan elegan, sehingga tajam dibaca namun tidak mengurangi empati terhadap korban dan keluarga yang ditinggalkan.***













