Scroll untuk baca artikel
TANGGAMUS

Sudah Diingatkan Pakai Pemandu, Malah Nekat! Pendaki Bandar Lampung Nyaris “Ditelan” Gunung Tanggang

×

Sudah Diingatkan Pakai Pemandu, Malah Nekat! Pendaki Bandar Lampung Nyaris “Ditelan” Gunung Tanggang

Sebarkan artikel ini
foto kolase penampakan Gunung Tanggang 1100 MDPL dan para pendaki setelah berhasil diselamatkan karena satu sempat menghilang dari rombongan dalam pendalian akhir Mei kemarin - foto dok.

TANGGAMUS – Gunung memang indah dipandang dari foto Instagram. Namun bagi mereka yang datang dengan modal nekat dan rasa percaya diri berlebihan, gunung juga bisa berubah menjadi labirin raksasa yang siap menguji fisik, mental, bahkan nyawa.

Pelajaran itu baru saja dirasakan A. Aris Pratama Anwar (21), pendaki asal Bandar Lampung yang sempat tersesat di kawasan Gunung Tanggang, Dusun Pematang Kuyung, Pekon Negeri Kelumbayan, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus, Minggu (31/5/2026).

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Beruntung, kisah ini berakhir dengan selamat. Jika tidak, cerita pendakian tujuh anak muda tersebut bisa saja berubah menjadi operasi pencarian besar-besaran di tengah hutan lebat yang dikenal memiliki jalur membingungkan bagi pendaki pemula.

Sebelum pendakian dimulai, sebenarnya semesta sudah memberikan peringatan.

Setibanya di Dusun Pematang Kuyung, tujuh pemuda yang terdiri dari Daus, Ilham, Fadhil, Firmansyah, Adnan, Alfeth, dan Aris berkumpul di rumah Waras, warga setempat yang selama ini cukup memahami karakter jalur Gunung Tanggang.

Sebagai tuan rumah sekaligus warga yang mengenal medan, Waras memberikan saran sederhana namun sangat penting: gunakan pemandu lokal.

BACA JUGA :  Berubah Nama Jadi Masjid Agung Nurul Faizin, Jadi Pusat Pembinaan Umat di Tanggamus

Bagi warga setempat, itu bukan sekadar tawaran jasa. Itu adalah peringatan keselamatan.

Namun seperti banyak kisah petualangan yang berawal dari kalimat “tenang, kita bisa kok”, saran tersebut akhirnya tidak digunakan.

Rombongan memilih mendaki tanpa pendamping dan mempercayakan keselamatan mereka kepada insting, semangat muda, dan mungkin sedikit keberuntungan.

Sayangnya, hutan tidak mengenal istilah percaya diri.

Memasuki Pos 1, Aris mulai kelelahan dan memutuskan beristirahat. Sementara enam rekannya melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Keputusan itu terlihat biasa saja.

Tetapi di gunung, keputusan kecil sering kali menjadi awal dari masalah besar.

Setelah merasa tenaganya pulih, Aris mencoba menyusul seorang diri. Di tengah rapatnya vegetasi, jalur yang bercabang, serta minimnya penanda arah, langkahnya justru membawa dirinya semakin jauh dari rombongan.

Alih-alih menemukan teman-temannya, Aris malah menemukan dirinya sendirian di tengah hutan.

Saat matahari mulai turun dan kabut perlahan menyelimuti lereng, suasana berubah mencekam.

Pepohonan menjulang seperti tembok raksasa.

BACA JUGA :  Atap Bangunan Tahun 1982 di SDN 1 Sinar Jawa Bocor, Komisi III DPRD Tanggamus Janjikan Rehab 2026

Suara serangga terdengar semakin keras.

Jalur yang tadi terlihat jelas perlahan menghilang ditelan gelap.

Di titik itulah rasa percaya diri biasanya mulai digantikan oleh satu pertanyaan sederhana:

“Ini jalan pulang ke mana?”

Sementara itu, enam rekannya yang telah turun kembali ke Pos 1 sekitar pukul 17.00 WIB mulai panik karena Aris tak kunjung terlihat.

Mereka sempat menduga Aris sudah lebih dulu turun ke perkampungan.

Namun harapan itu langsung pupus ketika mereka tiba di rumah Waras.

Aris tidak ada.

Pemuda 21 tahun itu benar-benar hilang di tengah hutan Gunung Tanggang.

Tanpa menunggu lama, Waras bersama empat warga lainnya bergerak melakukan pencarian mandiri.

Berbekal senter, pengalaman medan, dan tekad membantu sesama, mereka menyisir jalur pendakian yang mulai diselimuti gelap malam.

Berjam-jam pencarian dilakukan menembus semak, lereng, dan jalur-jalur yang sulit dilalui.

Hingga akhirnya sekitar pukul 21.20 WIB, kabar yang ditunggu pun datang.

Aris berhasil ditemukan.

Dalam kondisi lemas dan kelelahan, tetapi selamat.

Malam yang sebelumnya dipenuhi kecemasan mendadak berubah menjadi rasa syukur.

BACA JUGA :  BPBD Tanggamus Akhirnya Turun Juga, Warga Masih Tunggu Aksi Nyata Atasi Banjir Way Belu

Kapolsek Limau, Iptu Fridy Romadhana Panca Rizky, mengapresiasi gerak cepat warga yang berhasil menemukan korban sebelum kondisinya memburuk.

“Pendaki yang tersesat berhasil ditemukan dalam keadaan sehat. Kami sangat mengapresiasi gerak cepat warga setempat,” ujarnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa gunung bukan taman kota dan hutan bukan aplikasi peta yang bisa diperbaiki dengan menekan tombol refresh.

Di alam bebas, pengalaman warga lokal sering kali jauh lebih berharga dibanding rasa percaya diri pendaki yang baru pertama kali menginjak jalur.

Karena itulah, Kapolsek menegaskan penggunaan pemandu lokal bukan sekadar formalitas, melainkan bagian penting dari keselamatan.

Mereka bukan hanya menunjukkan arah menuju puncak.

Mereka tahu jalur mana yang aman, titik mana yang rawan, dan bagaimana pulang ketika hutan mulai menunjukkan sisi liarnya.

Untungnya, kisah Aris berakhir dengan pelukan keluarga, bukan dengan operasi pencarian berhari-hari.

Namun Gunung Tanggang telah memberikan pelajaran yang mahal:

Di gunung, kadang yang membuat orang tersesat bukan karena jalurnya terlalu sulit, melainkan karena terlalu yakin tidak akan tersesat.