BANDUNG – Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperkuat layanan kesehatan jiwa dengan meningkatkan kompetensi psikolog klinis di puskesmas dan rumah sakit. Namun, peningkatan kemampuan dinilai belum cukup jika pelayanan hanya menunggu masyarakat datang.
Pesan tegas itu disampaikan Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman saat membuka Workshop Penguatan Kompetensi Psikolog Klinis di UPTD Pelatihan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Sabtu (18/7/2026).
“Psikolog klinis bukan menunggu masyarakat datang. Psikologlah yang harus datang ke masyarakat, nguriling. Jangan mencari zona nyaman,” tegas Herman.
Workshop yang diikuti psikolog klinis dari puskesmas dan rumah sakit se-Jawa Barat tersebut bertujuan meningkatkan kompetensi profesional sekaligus memperkuat peran mereka sebagai pembimbing klinis lapangan.
Ketua TP PKK Jawa Barat Samantha Dewi Erwan Setiawan berharap pelatihan ini mampu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan jiwa di seluruh daerah.
“Semoga pelatihan ini memberi manfaat bagi seluruh psikolog klinis dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurut Herman, tantangan kesehatan mental di Jawa Barat tidak bisa dilepaskan dari persoalan sosial. Saat ini tingkat kemiskinan masih berada di angka 6,78 persen, sementara tingkat pengangguran mencapai 6,64 persen. Kondisi tersebut tersebar di 27 kabupaten/kota, 627 kecamatan, 5.312 desa, dan 645 kelurahan.
Karena itu, ia berharap kehadiran psikolog klinis tidak hanya terpusat di rumah sakit, tetapi juga menjangkau hingga puskesmas dan desa-desa.
Ketua Kolegium Psikologi Klinis Indria Laksmi Gamayanti mengapresiasi langkah Pemprov Jabar yang terus memperkuat kapasitas psikolog melalui pelatihan berkelanjutan. Menurutnya, peningkatan kompetensi akan membuat layanan psikologi semakin profesional sekaligus lebih dekat dengan masyarakat.
Gangguan kesehatan mental sering kali tidak terlihat seperti demam atau patah tulang. Karena itu, pendekatan layanan juga tidak bisa hanya menunggu pasien datang ke ruang praktik.
Pesan Sekda Jabar menjadi pengingat bahwa psikolog bukan sekadar profesi di balik meja konsultasi, tetapi juga mitra masyarakat yang harus hadir di lapangan. Sebab, kesehatan mental tidak cukup disembuhkan dengan teori, melainkan dengan kehadiran, empati, dan pelayanan yang mudah dijangkau.
Dengan penguatan kompetensi dan pendekatan yang lebih proaktif, Jawa Barat berharap mampu menjadi pelopor layanan kesehatan jiwa berbasis komunitas, sehingga psikolog tidak hanya dikenal saat krisis terjadi, tetapi menjadi bagian dari upaya pencegahan yang hadir hingga ke pelosok desa.***













