Scroll untuk baca artikel
LAMPUNG

Ironi Pengangguran Lampung: Ijazah Makin Tinggi, Jalan ke Dunia Kerja Justru Makin Terjal

×

Ironi Pengangguran Lampung: Ijazah Makin Tinggi, Jalan ke Dunia Kerja Justru Makin Terjal

Sebarkan artikel ini
Ribuan pencari kerja (Pencaker) memadati job fair 2023 di Stadion Patriot Chandrabhaga, Kamis (16/3/2023)
Ilustasi Pencaker - foto doc ist

LAMPUNG — Ada ironi di balik angka pengangguran Lampung. Sekolah tinggi-tinggi, berharap peluang kerja ikut meninggi. Namun data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung justru menunjukkan kenyataan yang tidak selalu seindah slogan di brosur kampus.

Pada Mei 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Lampung tercatat 3,97 persen. Yang menarik, kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi justru berasal dari penduduk berpendidikan Diploma dan Universitas, yakni mencapai 7,92 persen.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Angka itu lebih dari lima kali lipat dibandingkan TPT penduduk dengan pendidikan SD ke bawah yang hanya 1,47 persen.

BACA JUGA :  Azwar Hadi Hadiri Tahlilan Korban Bentrok Maut di Desa Negara Batin

Jadi, kalau selama ini pendidikan tinggi sering dipromosikan sebagai tiket menuju pekerjaan yang lebih baik, data terbaru BPS memberikan catatan penting: tiketnya mungkin sudah di tangan, tetapi pintu masuk dunia kerja belum tentu otomatis terbuka.

Dan di sinilah persoalan pasar kerja Lampung menjadi menarik untuk dibedah.

Sarjana Menganggur Lebih Tinggi, Ada Apa dengan Pasar Kerja?

Kepala BPS Provinsi Lampung Ahmadriswan Nasution mengatakan, berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan, TPT tertinggi terdapat pada kelompok tamatan Diploma dan Universitas.

BACA JUGA :  Tak Puas Hasil Rekomendasi Inspektorat, Warga Minta Kakon Kaur Gading Diproses Hukum

“Berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan, TPT paling tinggi ada pada tamatan Diploma dan Universitas yang mencapai 7,92 persen,” kata Ahmadriswan, Minggu (9/8/2026).

Sebaliknya, TPT paling rendah justru berada pada kelompok penduduk dengan pendidikan SD ke bawah, yakni 1,47 persen.

Angka tersebut bukan berarti pendidikan tinggi tidak penting.

Justru sebaliknya, data ini menunjukkan adanya persoalan yang lebih kompleks: kesenjangan antara lulusan pendidikan tinggi dengan kebutuhan pasar kerja.

BACA JUGA :  Langit Lampung “Overdosis Uap Air”, Hujan Lebat Mengintai Dua Hari ke Depan

Dunia pendidikan menghasilkan lulusan dengan berbagai latar belakang keilmuan. Sementara dunia usaha memiliki kebutuhan yang sangat spesifik.

Di antara keduanya, ada ruang kosong yang tidak selalu mudah dijembatani.

Bahasa sederhananya: kampus mencetak lulusan, perusahaan mencari kompetensi. Keduanya belum tentu langsung bertemu di pintu yang sama.

204 Ribu Orang Masih Menganggur

Secara keseluruhan, kondisi ketenagakerjaan Lampung pada Mei 2026 menunjukkan jumlah angkatan kerja mencapai 5.153,54 ribu orang.

Jumlah tersebut meningkat 37,64 ribu orang dibandingkan Februari 2026.