Scroll untuk baca artikel
OPINI

Krisis Demografi, Pekerja Migran Muslim dan Masa Depan Islam di Negara-Negara Tua

×

Krisis Demografi, Pekerja Migran Muslim dan Masa Depan Islam di Negara-Negara Tua

Sebarkan artikel ini
Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Abdul Kadir Karding, secara resmi melaunching 20 Desa Migran Emas di GOR Bumi Tuah Bepadan, Lampung Timur, Kamis, (31 Juli 2025).
Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Abdul Kadir Karding, secara resmi melaunching 20 Desa Migran Emas di GOR Bumi Tuah Bepadan, Lampung Timur, Kamis, 31 Juli 2025. - foto doc

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 16/08/2026

WawaiNEWS.ID – Dunia sedang memasuki sebuah perubahan demografi yang diam-diam jauh lebih menentukan daripada banyak perang, pergantian pemerintahan, bahkan revolusi teknologi.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Bukan tank yang bergerak.

Bukan pasukan yang menyeberangi perbatasan.

Melainkan manusia.

Mereka lahir, bekerja, menikah, memiliki anak, menua, dan berpindah dari satu negara ke negara lain.

Di balik pergerakan manusia itulah peta ekonomi, sosial, budaya, bahkan agama dunia perlahan berubah.

Dan salah satu persimpangan paling menarik adalah pertemuan antara krisis demografi negara-negara maju dengan pertumbuhan penduduk Muslim dunia.

Apakah keduanya akan menghasilkan perubahan besar terhadap wajah sosial dan keagamaan Eropa?

Jawabannya belum tentu sesederhana “Islamisasi”.

Tetapi gejalanya terlalu besar untuk diabaikan.

Dunia Tua Sedang Kehabisan Anak Muda

Negara-negara OECD sedang memasuki era baru.

Selama puluhan tahun, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh semakin banyaknya penduduk usia kerja. Kini logikanya berbalik.

Angkatan kerja mulai menyusut sementara jumlah lansia meningkat.

OECD memperkirakan populasi usia kerja di negara-negara OECD akan turun sekitar 8% hingga 2060. Rasio ketergantungan lansia juga diproyeksikan meningkat dari 31% pada 2023 menjadi 52% pada 2060. Dengan kata lain, semakin sedikit orang usia produktif yang harus menopang semakin banyak penduduk lansia.

BACA JUGA :  RPJPN Tidak Sama dengan GBHN

Inilah yang oleh OECD digambarkan sebagai pergeseran dari era job shortage menuju labour shortage.

Dahulu masalahnya adalah terlalu sedikit pekerjaan untuk manusia.

Kini masalahnya berpotensi berbalik:

terlalu banyak pekerjaan, tetapi terlalu sedikit manusia yang mau dan mampu mengerjakannya.

Rumah sakit membutuhkan perawat.

Panti jompo membutuhkan tenaga perawatan.

Industri membutuhkan pekerja.

Pertanian membutuhkan tenaga kerja.

Konstruksi membutuhkan pekerja.

Transportasi membutuhkan pengemudi.

Teknologi membutuhkan tenaga terampil.

Dan negara-negara tua menghadapi persoalan yang sangat sederhana:

siapa yang akan mengerjakannya?

Migrasi Bukan Lagi Sekadar Persoalan Imigrasi

Karena itu migrasi semakin sulit dipandang hanya sebagai isu perbatasan.

Ia telah menjadi bagian dari kalkulasi ekonomi.

OECD secara terbuka menyebut migrasi sebagai salah satu instrumen untuk mengurangi dampak penuaan penduduk dan kekurangan tenaga kerja. Bahkan migran telah memainkan peran penting dalam sejumlah sektor yang mengalami kekurangan tenaga kerja, termasuk kesehatan, pertanian, konstruksi, akomodasi, dan teknologi informasi.

Maka ada paradoks besar.

Negara-negara maju membutuhkan tenaga kerja.

Tetapi penduduk domestiknya semakin sedikit.

BACA JUGA :  Ibrahim–Musa–Isa Bukan Justifikasi Ayat Perang

Solusinya?

Mendatangkan manusia dari luar.

Di sinilah demografi bertemu migrasi.

Dan ketika sebagian besar migran berasal dari masyarakat yang lebih muda dan memiliki struktur keluarga berbeda dari masyarakat negara tujuan, konsekuensinya tidak berhenti pada pasar tenaga kerja.

Ia masuk ke ruang demografi.

Kemudian masuk ke ruang keluarga.

Kemudian masuk ke sekolah.

Kemudian masuk ke lingkungan sosial.

Dan pada akhirnya, masuk pula ke ruang budaya dan agama.

Dari Pekerja Menjadi Keluarga

Seorang pekerja migran mungkin datang sendirian.

Tetapi migrasi tidak selalu berhenti pada kedatangan seorang pekerja.

Ada reunifikasi keluarga.

Ada pernikahan.

Ada kelahiran.

Ada anak-anak yang tumbuh di negara tujuan.

Ada generasi kedua.

Kemudian generasi ketiga.

Di sinilah perubahan demografi menjadi lebih kompleks.

Migrasi tenaga kerja dapat menyelesaikan kebutuhan ekonomi jangka pendek.

Tetapi migrasi keluarga dapat menghasilkan konsekuensi demografis jangka panjang.

Karena itu, negara penerima tidak hanya menerima tenaga kerja.

Mereka juga berpotensi menerima keluarga dan generasi baru.

OECD mencatat bahwa total fertility rate perempuan kelahiran luar negeri di Uni Eropa pada 2019 mencapai 2,02 anak per perempuan, dibanding 1,44 pada perempuan kelahiran lokal. Namun OECD juga memberi catatan penting: angka fertilitas perempuan migran dapat terdorong naik karena sebagian kelahiran yang tertunda terjadi setelah migrasi. Jadi perbedaan itu tidak boleh dibaca secara sederhana sebagai bukti bahwa semua kelompok migran akan mempertahankan fertilitas tinggi selamanya.

BACA JUGA :  Ketua MK Bersandiwara Soal Batas Usia Capres-Cawapres, Ini Penjelasanya!

Ini penting.

Sebab demografi bukan propaganda.

Demografi adalah statistik.

Dan statistik harus dibaca dengan hati-hati.

Muslim dan Bonus Demografi

Di sisi lain, dunia Muslim memiliki struktur demografi yang relatif muda.

Pew Research Center sebelumnya memperkirakan perempuan Muslim secara global memiliki rata-rata sekitar 2,9 anak, dibanding sekitar 2,2 pada perempuan non-Muslim. Muslim juga memiliki median usia yang lebih muda dibanding kelompok agama besar lainnya.

Dua faktor ini fertilitas dan struktur umur memiliki konsekuensi besar.

Penduduk muda berarti lebih banyak orang yang memasuki usia produktif.

Dan kemudian memasuki usia reproduktif.

Inilah yang dalam demografi disebut population momentum.

Konsep yang dikembangkan antara lain oleh Nathan Keyfitz menjelaskan bahwa struktur umur dapat membuat populasi terus bertambah bahkan ketika tingkat fertilitas mulai menurun, karena sejumlah besar penduduk telah berada atau segera memasuki usia reproduksi.