Ela mempertanyakan kondisi yang menurutnya tidak boleh dibiarkan: kawasan memiliki potensi alam dan konservasi yang besar, tetapi masyarakat di sekitarnya justru masih menghadapi persoalan kemiskinan.
“Jangan sampai desa-desa yang ada di wilayah Way Kambas justru masuk kategori masyarakat miskin. Berarti keberadaan hutan belum memberikan dampak kepada masyarakat. Ini menjadi tugas kita untuk melakukan kolaborasi,” tegasnya.
GESER UNTUK BACA BERITAGESER UNTUK BACA BERITA
Persoalannya memang tidak sederhana.
Pemanfaatan potensi ekonomi kawasan konservasi harus tetap memperhatikan aturan perlindungan lingkungan. Namun di sisi lain, masyarakat sekitar juga membutuhkan sumber penghidupan.
Di titik inilah perguruan tinggi dapat berperan melakukan penelitian dan merancang model pemberdayaan yang tidak mengorbankan konservasi.
Hutan tetap lestari, masyarakat tetap sejahtera dua-duanya jangan dipaksa memilih salah satu.
ITSNU Lampung: Potensi Lampung Timur Sangat Lengkap
Rektor ITSNU Lampung Prof. Subandi menyambut baik kerja sama tersebut.
Ia menilai Lampung Timur memiliki potensi yang sangat besar sebagai lokasi penelitian dan pengabdian masyarakat.
Menurutnya, karakter Lampung Timur cukup lengkap, mulai dari wilayah pesisir, daratan hingga dataran tinggi.
“Lampung Timur ini sebuah kabupaten yang potensinya lengkap, dari laut, daratan sampai dataran tinggi. Sumber energi dan sumber budaya semuanya ada di Lampung Timur,” ungkap Prof. Subandi.
ITSNU Lampung sendiri berdiri pada 2022 dengan sejumlah program studi di bidang sains, teknologi, pendidikan vokasi, dan teknik.
Kampus tersebut bahkan telah dua kali melaksanakan KKN di Lampung Timur, yakni di Kecamatan Labuhan Ratu dan Metro Kibang.
Pengalaman tersebut menjadi modal untuk memperluas penelitian dan pengabdian yang lebih terarah sesuai kebutuhan daerah.
UNU Lampung: Kampus Harus Menjadi Bagian dari Solusi
Rektor UNU Lampung Miftahuddin juga menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan.
Kampus harus menjadi bagian dari solusi terhadap persoalan masyarakat.
“Kerja sama ini harus kita dorong agar tidak hanya berhenti pada penandatanganan MoU atau PKS, tetapi benar-benar diwujudkan dalam program yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
UNU Lampung menyatakan siap mendukung program prioritas Pemkab Lampung Timur melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Dosen dan mahasiswa juga akan didorong melakukan penelitian serta kegiatan pengabdian yang benar-benar berkaitan dengan kebutuhan masyarakat.
Ada Rencana Pesantren Mahasiswa NU di Bandar Lampung
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Subandi juga menyampaikan rencana pengembangan Pesantren Mahasiswa NU di Bandar Lampung.
Fasilitas tersebut akan dibangun di atas lahan wakaf seluas 1.000 meter persegi.
Pesantren mahasiswa itu diharapkan menjadi bagian dari penguatan pendidikan sekaligus pengembangan kapasitas mahasiswa.
Rencana tersebut menunjukkan bahwa kerja sama perguruan tinggi NU tidak hanya diarahkan pada sektor ekonomi dan pembangunan daerah, tetapi juga pada pengembangan sumber daya manusia dan pendidikan.
Ela: Kalau Jalan Sendiri, Pembangunan Lebih Sulit
Bagi Pemkab Lampung Timur, menggandeng kampus merupakan bagian dari strategi membangun kolaborasi yang lebih luas.
Ela mengakui pemerintah tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan daerah sendirian.
“Kalau kita berjalan sendiri-sendiri akan sulit. Tetapi kalau kita berkolaborasi, insyaallah kita akan lebih kuat dan lebih mudah menemukan solusi terbaik untuk masyarakat Lampung Timur,” pungkasnya.
Kerja sama dengan UNU Lampung dan ITSNU Lampung akhirnya bukan sekadar agenda seremonial.
Ada sejumlah pekerjaan rumah yang menunggu untuk dibuktikan: lahan pertanian yang belum optimal di Sukadana, pengembangan UMKM dan inkubator bisnis, peningkatan kualitas SDM, hingga pemberdayaan desa-desa di sekitar Way Kambas.
Tantangan berikutnya justru lebih berat daripada menandatangani PKS: membuktikan bahwa ilmu dari ruang kelas benar-benar bisa menyelesaikan persoalan di lapangan.
Sebab masyarakat tidak membutuhkan lebih banyak dokumen kerja sama.
Mereka membutuhkan lahan yang produktif, usaha yang tumbuh, keterampilan yang menghasilkan uang, desa yang lebih sejahtera, dan masa depan yang lebih jelas.
Jika kolaborasi ini berhasil diterjemahkan menjadi program nyata, maka kampus tidak hanya menjadi tempat mencetak sarjana tetapi juga bisa ikut mencetak solusi bagi Lampung Timur.***












