Scroll untuk baca artikel
Wisata

“Liburan Berujung Duka!” Satu Keluarga Tewas Saat Kemping di Temanggung, Mahasiswa UGM Jadi Korban

×

“Liburan Berujung Duka!” Satu Keluarga Tewas Saat Kemping di Temanggung, Mahasiswa UGM Jadi Korban

Sebarkan artikel ini
Petugas kepolisian saat melakukan olah TKP di lokasi meninggalnya wisatawan sekeluarga di Temanggung. (Dokumentasi Polres Temanggung)

TEMANGGUNG — Niat mencari udara segar di alam pegunungan justru berubah menjadi tragedi memilukan. Empat wisatawan yang merupakan satu keluarga ditemukan meninggal dunia saat berkemah di kawasan wisata Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Korban diketahui berasal dari Desa Panjang, Kecamatan Ambarawa, Semarang. Mereka adalah Muhammad Ali Munawar (52), Maghfirah (43), Alvino Evan Hakim (16), dan Bagas Amar Hakiki (21), mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Peristiwa ini menyisakan ironi pahit. Tempat wisata yang biasanya dipenuhi suara tawa dan api unggun keluarga, mendadak berubah menjadi lokasi olah tempat kejadian perkara.

Di tengah tren “healing” dan wisata alam yang makin digandrungi masyarakat perkotaan, tragedi ini menjadi pengingat bahwa liburan tidak selalu berakhir dengan foto estetik di media sosial.

BACA JUGA :  Tiga Remaja Diseret Ombak di Batubalai Tanggamus, Satu Meninggal dan Satu Belum Ditemukan

Berdasarkan keterangan polisi, keluarga tersebut tiba di lokasi wisata pada Selasa malam (26/5/2026) sekitar pukul 22.00 WIB untuk berkemah.

Mereka menyewa lokasi kamping dan bermalam seperti wisatawan lainnya. Namun keesokan harinya, suasana mulai mencurigakan.

Petugas pengelola wisata awalnya mendatangi tenda sekitar pukul 11.45 WIB untuk mengingatkan waktu check out karena area akan dibersihkan.

Sayangnya, tidak ada jawaban dari dalam tenda.

Karena merasa janggal, petugas kembali mendatangi lokasi sekitar pukul 15.00 WIB dan membuka tenda tersebut. Saat itulah empat anggota keluarga ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dunia.

“Setelah dibuka pintu terlihat keempat korban sudah kaku di lokasi kejadian,” ujar Kasat Reskrim Polres Temanggung, Iptu I Komang Mahendra Deputra.

Pemandangan itu sontak membuat geger kawasan wisata yang sebelumnya tenang.

Hasil penyelidikan awal mengarah pada dugaan keracunan makanan yang dibawa sendiri oleh korban.

BACA JUGA :  Arus Kendaraan Menuju Lokasi Wisata di Jabar Meningkat, Tertinggi Tujuan Puncak, Bogor

Polisi kini masih melakukan pemeriksaan terhadap sampel makanan yang ditemukan di lokasi kamping untuk memastikan penyebab pasti kematian.

Meski demikian, hingga kini aparat belum memberikan kesimpulan final terkait penyebab meninggalnya satu keluarga tersebut.

Tragedi ini menjadi pengingat sederhana namun penting: kadang yang paling berbahaya saat liburan bukan tebing curam atau cuaca ekstrem, melainkan sesuatu yang tampak biasa di dalam kotak bekal.

Salah satu korban, Bagas Amar Hakiki, diketahui merupakan mahasiswa Sastra Perancis angkatan 2022 di Universitas Gadjah Mada.

Kabar duka itu dibenarkan pihak kampus.

“Nggih (betul). Yang bersangkutan mahasiswa kami dari Sastra Perancis,” ujar Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM, Prof Setiadi.

Pihak kampus mengaku masih menunggu perkembangan penyelidikan polisi terkait kronologi lengkap kejadian tersebut.

Bagi dunia kampus, kepergian Bagas menjadi kehilangan mendalam. Seorang mahasiswa yang seharusnya masih sibuk dengan tugas kuliah, diskusi, dan rencana masa depan, kini justru pulang dalam keheningan.

BACA JUGA :  Polisi Ungkap Dua Dugaan Penyebab Sekeluarga Tewas di Glamping Temanggung

Fenomena wisata alam dan kamping keluarga memang semakin populer beberapa tahun terakhir. Pegunungan, hutan pinus, dan area perkemahan kini menjadi “obat pelarian” masyarakat dari hiruk pikuk kota.

Namun tragedi di Temanggung ini memperlihatkan satu kenyataan pahit: alam memang menawarkan ketenangan, tetapi keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama.

Mulai dari kondisi kesehatan, makanan yang dikonsumsi, hingga perlengkapan selama berkemah, semuanya menjadi faktor penting yang sering dianggap sepele.

Ironisnya, di era ketika orang sibuk mencari lokasi healing terbaik untuk konten media sosial, tragedi seperti ini justru memperlihatkan bahwa hidup bisa berubah hanya dalam semalam.

Kini, tenda yang awalnya dipasang untuk menikmati dinginnya pegunungan Temanggung justru menjadi saksi bisu berakhirnya perjalanan satu keluarga sekaligus.***