TANJUNGPINANG – Setelah seperempat abad Provinsi Kepulauan Riau berdiri, Yayasan Badan Perjuangan Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (BP3KR) akhirnya mulai “membongkar lemari sejarah” perjuangan pembentukan Kepri.
Bukan sekadar nostalgia politik, BP3KR kini tengah menggesa penulisan buku sejarah resmi pembentukan Provinsi Kepri yang ditargetkan meluncur pada peringatan Hari Marwah ke-25 tahun 2027 mendatang.
Langkah tersebut dinilai penting agar sejarah lahirnya Provinsi Kepri tidak sekadar hidup di warung kopi, grup WhatsApp, atau cerita senior yang makin hari makin “dibumbui dramatik”.
Sekretaris Yayasan BP3KR, Sudirman Almoen mengatakan, penyusunan buku sejarah tersebut diperkirakan memakan waktu lebih dari satu tahun karena banyak data, kesaksian, hingga dokumen perjuangan yang harus diverifikasi ulang.
“Sejalan dengan peresmian gedung BP3KR yang menjadi simbol perjuangan masyarakat Kepri, maka buku sejarah pembentukan Provinsi Kepri ini akan diluncurkan tahun depan,” ujar Sudirman, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, penulisan buku ini bukan proyek “copy-paste pidato seremonial”, melainkan upaya serius mendokumentasikan perjuangan panjang masyarakat Kepri dalam memisahkan diri dari Provinsi Riau hingga resmi berdiri sebagai provinsi sendiri.
Untuk memperkuat validitas sejarah, Tim Penulis Buku mengundang sejumlah koordinator dan perwakilan mahasiswa asal Kepri yang pernah kuliah di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Pekanbaru hingga Tanjungpinang.
Mereka dianggap sebagai saksi hidup perjuangan era 1999–2002, masa ketika gerakan mahasiswa menjadi salah satu mesin penggerak aspirasi pembentukan Provinsi Kepri.
“Kita meminta teman-teman mahasiswa hadir untuk menyampaikan peristiwa yang mereka ingat, lalu menceritakan ulang kepada tim penulis buku,” ungkap Sudirman.
Tim penulis sendiri diketuai Abdul Malik dengan sekretaris Zamzami A Karim serta tiga anggota lainnya. Mereka tak hanya mendata identitas para aktivis mahasiswa masa itu, tetapi juga menggali detail keterlibatan mereka dalam aksi, konsolidasi gerakan, hingga penyebaran aspirasi pembentukan Kepri.
Ketua Yayasan BP3KR, Huzrin Hood menegaskan, mahasiswa punya peran vital dalam sejarah pembentukan Kepri dan tidak boleh “dihapus dari halaman sejarah hanya karena tidak punya jabatan hari ini”.
“Mahasiswa Kepri di era awal 2000 adalah penggerak perjuangan. Mereka ikut bergerak bersama tokoh-tokoh BP3KR. Jadi keterlibatan mahasiswa tidak boleh dilupakan,” tegas Huzrin.
Ia menyebut, banyak pejuang daerah yang dulu rela turun ke jalan, menggalang dukungan lintas kota hingga mengorbankan waktu, tenaga bahkan biaya pribadi. Namun ironisnya, tidak sedikit dari mereka kini hidup biasa-biasa saja, jauh dari “nikmat kue pembangunan” yang dulu diperjuangkan bersama.
“Kita akui ada kawan-kawan yang berjuang dari pulau-pulau, tapi sampai sekarang tidak ikut menikmati hasil pembangunan,” sindir Huzrin.
Pernyataan itu menjadi tamparan halus namun menohok: jangan sampai sejarah perjuangan Kepri hanya diperingati lewat baliho dan seremoni tahunan, sementara para pelaku sejarah perlahan dilupakan.
Dalam kesempatan itu, BP3KR juga berencana menyurati Ansar Ahmad agar Hari Marwah setiap 15 Mei ditetapkan sebagai hari bersejarah masyarakat Kepri.
Menurut Huzrin, Hari Marwah bukan sekadar agenda simbolik, melainkan tonggak harga diri masyarakat Kepulauan Riau dalam memperjuangkan identitas dan kemandirian daerah.
“Hari Marwah adalah simbol martabat dan perjuangan masyarakat Kepulauan Riau dalam mendeklarasikan pembentukan Provinsi Kepri,” tandasnya.***













