Di satu sisi, dunia bergerak semakin cepat melalui digitalisasi. Bahasa berkembang, cara berkomunikasi berubah, dan generasi muda semakin akrab dengan berbagai istilah baru dari dunia global.
Di sisi lain, ada sejarah panjang yang tidak boleh terputus hanya karena zaman berubah.
Ansar mengatakan kemajuan teknologi tidak seharusnya membuat generasi muda kehilangan hubungan dengan sejarah dan identitasnya.
“Kita boleh ramai era digitalisasi yang begitu berkembang, tetapi kepribadian, sejarah, asal muasal, bahasa yang bisa mempersatukan dan merajut bangsa ini jangan sampai hilang,” katanya.
Pesan tersebut menjadi semakin penting karena Pulau Penyengat bukan sekadar tempat dengan bangunan bersejarah.
Pulau itu menyimpan cerita tentang bagaimana bahasa menjadi bagian dari perjalanan peradaban Melayu dan kemudian menemukan tempatnya dalam sejarah Indonesia.
Pulau kecil, cerita yang panjang
Tito berharap pembangunan museum dan monumen tersebut tidak berhenti pada pemerintahan saat ini.
Ia meminta siapa pun yang nantinya memimpin Kepulauan Riau tetap merawat dan mengembangkan kawasan tersebut.
“Siapa pun yang menjabat nantinya, saya harap bisa meneruskan, sehingga betul-betul menjadi bukti nyata bahwa bahasa pemersatu bangsa Indonesia berawal dari Pulau Penyengat,” ujarnya.
Pernyataan itu sekaligus menjadi pekerjaan rumah.
Sebab museum yang megah tidak otomatis membuat sejarah tetap hidup.
Sejarah akan hidup ketika generasi setelahnya datang, membaca, bertanya, memahami, lalu membawa ceritanya kembali ke tengah masyarakat.
Di Pulau Penyengat, cerita itu bermula dari bahasa.
Dari bahasa Melayu yang telah lama menjadi lingua franca di Nusantara, dari karya Raja Ali Haji yang ditulis berabad-abad silam, hingga bahasa Indonesia yang akhirnya diikrarkan sebagai bahasa persatuan.
Sebuah pulau kecil sedang membangun sebuah museum. Tetapi yang sesungguhnya sedang dibangun adalah jembatan antara ingatan masa lalu dan generasi Indonesia di masa depan.***












