BEKASI — Pesta demokrasi di TPS 17 Desa Lambangsari, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Minggu (20/9/2026), tampil dengan wajah yang tak biasa.
Di tengah suasana pemungutan suara Pemilihan Kepala Desa (Pilkades), warga tidak hanya datang membawa hak pilih. Mereka juga disambut ornamen ondel-ondel, pakaian tradisional, tarian hingga sajian kuliner khas Betawi.
TPS yang berada di Klaster Bima Asri RW 08, Perumahan Dukuh Bima itu sengaja dikemas dengan nuansa Betawi. Tradisi lokal dipertemukan dengan teknologi melalui penerapan TPS digital dalam pelaksanaan Pilkades.
Suasana pun terasa lebih seperti pesta warga ketimbang sekadar datang, mencoblos, lalu pulang.
Ketua KPPS 17 Desa Lambangsari, M Arfan, mengatakan tema Betawi memang sengaja dipilih untuk membuat momentum pemilihan lebih dekat dengan karakter masyarakat setempat.
“Di setiap acara di TPS lingkungan Bima Asri, terutama acara pemilihan umum, kita biasakan mengusung tema. Kali ini kita angkat tema Betawi dengan segala keragaman Betawinya,” ujar Arfan.
Ondel-ondel menyambut warga
Sejak memasuki kawasan TPS, nuansa Betawi langsung terasa.
Ondel-ondel menjadi salah satu ornamen yang menghiasi lokasi pemungutan suara. Warga dan petugas mengenakan pakaian tradisional, sementara tarian Betawi dan makanan khas ikut menghidupkan suasana.
Bagi panitia, pilihan tersebut bukan sekadar dekorasi.
Masyarakat di sekitar TPS 17 cukup banyak memiliki latar belakang Betawi dan masih memiliki kedekatan dengan kebudayaan tersebut.
“Kita berada di daerah yang banyak warga Betawinya. Orang Betawi sangat menghargai kebudayaan Betawi, dan kita juga sangat menyukai kebudayaan Betawi, mulai dari makanan, budaya sampai adat istiadatnya,” kata Arfan.
Konsep itu membuat warga memiliki pengalaman berbeda ketika datang ke TPS.
Mereka tetap menjalankan proses pemungutan suara sebagaimana mestinya, tetapi suasana dibuat lebih cair. Ada warga yang menikmati sajian kuliner, menyaksikan pertunjukan, sekaligus bertemu tetangga dalam suasana kebersamaan.
“Bisa kita lihat ada ondel-ondel, ada tarian Betawi, dan suguhan makanan-makanan Betawi,” ujarnya.
Tradisi Betawi bertemu teknologi digital
Di balik kemeriahan budaya, TPS 17 juga membawa sesuatu yang berbeda dari sisi sistem pemungutan suara.
TPS tersebut menerapkan pemungutan suara secara digital dengan menggunakan tablet dan printer.
Sebanyak 366 warga tercatat dalam daftar pemilih tetap (DPT) di TPS 17.
Berbeda dengan TPS konvensional yang menggunakan surat suara, pemilih di TPS digital melakukan proses pemilihan melalui perangkat tablet.
“TPS 17 adalah TPS digital. Kita menggunakan alat berupa tablet dan printer. Pemilihannya dilakukan melalui tablet dan berbeda dengan TPS konvensional yang menggunakan surat suara,” jelas Arfan.
Sistem tersebut dilengkapi dua bilik suara.
Setiap pemilih telah ditentukan untuk menggunakan bilik satu atau bilik dua berdasarkan barcode yang tercantum pada surat undangan. Dengan sistem tersebut, pemilih tidak dapat berpindah ke bilik yang berbeda atau menggunakan hak pilih lebih dari sekali di TPS lain.
“Barcode-nya sudah menentukan DPT tersebut ada di bilik satu atau bilik dua. Jadi tidak bisa memilih di bilik yang berbeda dan tidak bisa memilih lagi di TPS lain karena sudah ada barcode-nya,” katanya.
Pemilih cukup scan barcode
Alur pemungutan suara di TPS 17 dimulai dengan verifikasi identitas menggunakan KTP dan surat undangan.
Setelah dinyatakan sesuai, pemilih diarahkan menuju bilik yang telah ditentukan.
Di dalam bilik, barcode dipindai untuk membuka akses pemilihan calon kepala desa.
Pemilih kemudian menentukan pilihannya melalui tablet.
“Di dalam bilik langsung scan barcode, kemudian tinggal memilih calon yang dipilih. Setelah itu output-nya keluar barcode dan dimasukkan ke dalam kotak suara,” tutur Arfan.
Bagi sebagian warga, sistem tersebut tentu membutuhkan penyesuaian karena berbeda dengan pengalaman memilih menggunakan surat suara.
Namun, menurut Arfan, proses tersebut relatif berjalan lancar.
Sebelum pelaksanaan Pilkades, para petugas KPPS telah mendapatkan bimbingan teknis secara intensif. Pengetahuan tersebut kemudian digunakan untuk mendampingi warga yang masih belum terbiasa dengan mekanisme digital.
“Alhamdulillah, dari panitia tidak ada kendala. Mungkin ada sedikit warga yang masih kagok atau menyesuaikan, tetapi dengan arahan panitia yang sudah mengikuti BIMTEK dan terlatih, kegiatan pemilihan berjalan lancar,” ungkapnya.
TPS 17 Lambangsari, membuat pesta demokrasi hari itu dibuat sedekat mungkin dengan kehidupan mereka: ada budaya, ada teknologi, dan ada kebersamaan.***













