JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali masuk “zona merah” pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Mata uang Garuda tak kuasa menahan tekanan dolar Amerika Serikat yang terus perkasa di tengah memanasnya tensi geopolitik global dan ketidakpastian arah ekonomi dunia.
Berdasarkan data pasar spot exchange Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka melemah 75 poin atau 0,43 persen ke level Rp17.489 per dolar AS. Sementara indeks dolar AS justru menguat 0,15 persen ke posisi 98.106.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif sehari sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Senin (11/5/2026), rupiah sudah lebih dulu tergelincir 32 poin ke level Rp17.414 per dolar AS, setelah sempat terseret lebih dalam hingga melemah 45 poin.
Tekanan terhadap rupiah kali ini bukan semata soal domestik. Pasar global sedang diliputi kecemasan akibat mandeknya pembicaraan de-eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Alih-alih menuju damai, hubungan kedua negara justru terlihat makin penuh drama. Pasar pun langsung bereaksi cepat: harga minyak naik, investor panik, dan dolar kembali jadi “tempat pelarian paling nyaman”.
Dalam dunia pasar keuangan, saat geopolitik memanas, investor biasanya berubah seperti warga yang buru-buru masuk minimarket sebelum badai datang: semua memborong aset aman, terutama dolar AS.
Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, kembali jadi korban pertama.
Kekhawatiran lain datang dari potensi inflasi global akibat kenaikan harga energi. Jika harga minyak terus merangkak naik, bank sentral dunia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Artinya sederhana: uang panas global makin betah parkir di AS ketimbang masuk ke negara berkembang.
Pasar kini juga menyoroti agenda geopolitik dan ekonomi Amerika Serikat di Asia. Presiden AS Donald Trump dijadwalkan melakukan kunjungan ke China akhir pekan ini, sementara Menteri Keuangan AS Scott Bessent berada di Jepang dan Korea Selatan untuk agenda ekonomi regional.
Investor menunggu apakah lawatan tersebut akan membawa angin damai atau justru membuka babak baru perang dagang dan ketegangan global.
Bukan hanya rupiah yang limbung. Sejumlah mata uang utama Asia dan global juga bergerak hati-hati.
Yen Jepang tercatat berada di level 157,30 per dolar AS karena pelaku pasar menanti sinyal kebijakan moneter Jepang dan komentar dari Scott Bessent terkait nilai tukar yen.
Dolar Australia ikut melemah 0,14 persen ke posisi US$0,724 menjelang pengumuman anggaran federal Australia.
Sementara itu:
- Euro diperdagangkan di level US$1,1775 per dolar AS
- Poundsterling Inggris berada di posisi US$1,3602 per dolar AS
Ahli strategi mata uang OCBC, Christopher Wong, menilai penguatan dolar AS sejauh ini masih relatif terkendali.
Menurutnya, pasar memang mulai waspada setelah Donald Trump menolak respons Iran terhadap proposal perdamaian AS. Namun investor belum sepenuhnya menganggap situasi ini sebagai krisis besar.***











