Scroll untuk baca artikel
Nasional

Anies Baswedan Sentil Pemerintah soal Rupiah Anjlok: “Rakyat Butuh Kepastian, Bukan Obat Tidur”

×

Anies Baswedan Sentil Pemerintah soal Rupiah Anjlok: “Rakyat Butuh Kepastian, Bukan Obat Tidur”

Sebarkan artikel ini
Anies Capres Nomor 1 saat tiba di Bandara Radin Inten Lampung untuk menhadiri deklarasi dan dialog di Lampung Timur dan Selatan, Minggu 14 Januari 2024
Anie Baswedan

JAKARTA — Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melontarkan kritik keras terhadap kondisi ekonomi nasional yang dinilainya semakin mengkhawatirkan. Dalam sebuah pidato bernada serius, Anies menyinggung pelemahan Rupiah, kenaikan harga kebutuhan pokok, lapangan kerja yang makin sempit, hingga sikap pemerintah yang dianggap terlalu sering “menenangkan” publik tanpa memberi kepastian arah kebijakan.

Pidato itu langsung menyita perhatian publik karena disampaikan di tengah tekanan ekonomi yang sedang dirasakan masyarakat, mulai dari nilai tukar Rupiah yang menyentuh titik terlemah, daya beli rumah tangga yang menurun, hingga kekhawatiran terhadap ancaman global seperti konflik geopolitik dan cuaca ekstrem El Nino.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Izinkan saya berbagi pandangan saya mengikuti dengan seksama apa yang sedang terjadi di negeri ini. Terang, kondisinya tidak baik-baik saja,” ujar Anies dikutip dari tanggapan resminya terkait kondisi ekonomi sekarang di medsos pada Rabu (20/5).

Menurutnya, situasi ekonomi saat ini bukan lagi sekadar angka statistik di layar monitor para ekonom. Dampaknya sudah langsung dirasakan masyarakat luas: tabungan menipis, harga-harga naik, dan peluang kerja makin sulit didapat.

BACA JUGA :  Umur yang Terukur: “Happy Milad Abah Anies”, dari Kesabaran Menuju Jalan Pengabdian

Anies juga mengingatkan bahwa tantangan ke depan berpotensi lebih berat. Ia menyinggung konflik global yang memanas di Timur Tengah serta ancaman El Nino yang disebut para ilmuwan sebagai salah satu yang terkuat dalam sejarah pengamatan.

“Satu ujian saja berat. Saat ini beberapa datang bersamaan, maka beratnya berlipat,” katanya.

Namun yang paling disorot Anies bukan hanya krisis ekonomi, melainkan cara pemerintah merespons situasi tersebut. Ia menilai publik dan pasar saat ini membutuhkan kepastian, bukan sekadar narasi penenang.

“Yang dibutuhkan pasar dan publik adalah kepastian. Bukan ketenangan semu, bukan masalah yang diberi gula-gula,” sindirnya.

Pernyataan itu dianggap sebagai kritik telak terhadap pola komunikasi pemerintah yang belakangan dinilai terlalu optimistis di tengah tekanan ekonomi nyata.

Anies bahkan menyinggung kebiasaan pejabat yang disebut lebih suka menampilkan kabar baik sambil menyembunyikan persoalan besar di balik layar.

BACA JUGA :  Diakhir Debat Capres, Anies Sampaikan Keinginannya agar Negara Mengasihi Rakyat Seperti Abah Cintai Anak

“Apa dipilih-pilih? Yang baik ditampilkan, yang buruk disembunyikan,” ujarnya.

Sindiran tersebut terasa tajam karena muncul saat publik sedang ramai membahas pelemahan Rupiah, kenaikan harga kebutuhan, hingga kebijakan ekonomi yang dinilai sering berubah arah.

Menurut Anies, inkonsistensi kebijakan membuat masyarakat bingung dan investor kehilangan kepercayaan.

“Hari ini begini, besok berbeda. Pasar bingung, publik bingung, investor menahan diri, bahkan sebagian kabur,” katanya.

Ia juga menyentil gaya hidup elite yang dinilai tidak mencerminkan situasi ekonomi rakyat. Ketika masyarakat diminta berhemat, kata Anies, pemerintah justru dianggap masih sibuk dengan agenda yang bukan prioritas.

“Pemborosan di atas, pengetatan di bawah. Ini tampak sebagai ketidakpekaan,” sindirnya lagi.

Dalam tanggapan yang ditayangkan luas di akun medsos tersebut, Anies menyebut peringatan terhadap kondisi ekonomi Indonesia sebenarnya sudah datang dari berbagai arah: ekonom domestik, lembaga internasional, hingga media asing.

“Tidak mungkin mereka semua keliru bersama-sama di saat yang sama,” katanya.

BACA JUGA :  5 tersangka kabur dari tahanan Polsek Jatiasih Ditangkap

Meski penuh kritik, Anies tetap mengajak masyarakat bersikap realistis namun optimistis menghadapi situasi ke depan. Ia meminta publik tidak hidup dalam ilusi optimisme semu, melainkan menghadapi kenyataan dengan kesiapan dan keseriusan.

“Kita harus berjalan dengan mata terbuka, bukan dengan ilusi yang dibuat-buat,” ucapnya.

Pidato tersebut langsung ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak warganet menilai gaya bicara Anies kali ini lebih tajam, lugas, dan penuh sindiran halus yang terasa “menampar tanpa teriak”.

Di tengah situasi ekonomi yang penuh tekanan, pidato itu menjadi pengingat bahwa masyarakat hari ini bukan hanya ingin diyakinkan bahwa keadaan aman. Mereka juga ingin tahu: sebenarnya negeri ini sedang dibawa ke mana.

Sebab bagi rakyat kecil, kurs Rupiah mungkin terlihat seperti angka di papan digital. Tetapi efeknya terasa nyata saat harga kebutuhan naik, cicilan makin berat, dan isi dompet makin tipis sebelum akhir bulan datang.***