Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

“IHSG Ambruk, Rupiah Tergelincir ke Rp17.287! Pasar Keuangan RI Dihantam ‘Badai Global’”

×

“IHSG Ambruk, Rupiah Tergelincir ke Rp17.287! Pasar Keuangan RI Dihantam ‘Badai Global’”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

JAKARTA – Pasar keuangan Indonesia kembali “merah merona” sayangnya bukan karena untung besar. Pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia anjlok tajam, diikuti pelemahan signifikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

IHSG ditutup turun 163 poin atau 2,16% ke level 7.378,61. Tak kalah terpukul, indeks saham unggulan LQ45 merosot 2,73% ke posisi 715,88. Sinyalnya jelas: investor sedang tidak dalam mood ambil risiko.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Di pasar valuta asing, rupiah juga “kehilangan pijakan”. Nilai tukar melemah 106 poin (0,62%) ke Rp17.287 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.181. Bahkan kurs referensi JISDOR sempat menyentuh Rp17.308 mendekati level terlemah sepanjang sejarah.

BACA JUGA :  H+4 Komplek Pertokoan Metro Masih Banyak tutup

Fenomena ini menunjukkan satu hal: dolar AS sedang jadi primadona global, sementara rupiah harus rela jadi “underdog”.

Keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan BI-Rate di 4,75% untuk ketujuh kalinya berturut-turut ternyata belum cukup ampuh meredam tekanan.

Di satu sisi, kebijakan ini menjaga stabilitas domestik. Namun di sisi lain, pasar tampaknya berharap “jurus yang lebih galak” untuk menahan laju pelemahan rupiah, apalagi ketika tekanan eksternal sedang tinggi.

BACA JUGA :  Harga Gula di Lamtim Tembus Rp18 Ribu

Menurut Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, tekanan utama datang dari luar negeri.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah terutama terkait potensi gangguan di Selat Hormuz mendorong harga energi global naik. Dampaknya berantai:

  • Inflasi global meningkat
  • Dolar AS menguat sebagai safe haven
  • Negara importir energi seperti Indonesia ikut tertekan

Ditambah lagi, ketergantungan Indonesia pada impor energi membuat tekanan ini terasa lebih dalam ibarat kena ombak saat kapal belum sepenuhnya siap.

BACA JUGA :  DPRD Lampung Minta Pemerintah Cari Solusi Terkait Anjloknya Harga Singkong

Sutopo menilai perlu langkah taktis dari pemerintah dan BI:

  • Intervensi pasar yang terukur
  • Fleksibilitas kebijakan moneter jika inflasi impor meningkat
  • Disiplin fiskal untuk menjaga kepercayaan investor

Singkatnya: bukan cuma “bertahan”, tapi juga harus pintar bermanuver.

Stabilitas pasar diperkirakan baru akan kembali jika:

  • Ketegangan geopolitik mereda
  • Harga energi mulai normal
  • Sentimen global kembali risk-on

Sampai saat itu tiba, pasar kemungkinan masih akan bergerak fluktuatif alias roller coaster tanpa sabuk pengaman.***