LAMPUNG TIMUR — Pendidikan kembali dijadikan jalan untuk memutus rantai kemiskinan di Kabupaten Lampung Timur. Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Lampung Timur resmi dibuka di Desa Muara Jaya, Kecamatan Sukadana, Kamis (13/8/2026), sekaligus menandai dimulainya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi para siswa baru.
Bagi anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu, kehadiran sekolah ini bukan sekadar bertambahnya satu gedung pendidikan. Sekolah Rakyat menjadi pintu untuk mendapatkan kesempatan belajar, pengasuhan dan pembentukan karakter yang selama ini mungkin tidak mudah mereka dapatkan.
Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah menegaskan, keberadaan Sekolah Rakyat harus dilihat sebagai investasi jangka panjang untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan.
Menurut Ela, keterbatasan ekonomi keluarga tidak boleh berubah menjadi keterbatasan masa depan anak.
“Jangan pernah merasa rendah diri karena berasal dari keluarga sederhana. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dengan pendidikan, kerja keras, disiplin, dan doa, kalian dapat menjadi generasi yang membawa perubahan bagi keluarga, masyarakat, Kabupaten Lampung Timur, hingga bangsa Indonesia,” pesan Ela kepada siswa baru.
Bukan Sekadar Sekolah, tetapi Jalan Keluar dari Kemiskinan
Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Lampung Timur diharapkan tidak hanya menjadi tempat siswa menerima pelajaran.
Sekolah ini diarahkan menjadi ruang untuk membangun karakter, kedisiplinan, kemandirian, kepemimpinan, keterampilan dan kepedulian sosial.
Konsep tersebut penting karena persoalan kemiskinan tidak cukup diselesaikan dengan bantuan sosial. Anak-anak dari keluarga kurang mampu juga membutuhkan akses pendidikan yang mampu membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Karena itu, keberhasilan Sekolah Rakyat nantinya tidak semestinya hanya diukur dari nilai akademik siswa.
Lebih jauh, keberhasilannya dapat dilihat dari kemampuan sekolah membentuk anak-anak yang percaya diri, mandiri dan memiliki keterampilan untuk menentukan masa depannya.
Ela Minta Anak-anak Tidak Minder
Memasuki lingkungan sekolah baru, para siswa mengikuti MPLS untuk mengenal guru, teman, lingkungan belajar hingga budaya sekolah.
Namun bagi Ela, ada pesan yang jauh lebih penting untuk ditanamkan sejak hari pertama: jangan minder karena kondisi ekonomi keluarga.
Latar belakang keluarga bukan penentu akhir masa depan.
Justru pendidikan harus menjadi jembatan agar anak-anak memiliki kesempatan yang lebih setara untuk berkembang.
“Jangan pernah merasa rendah diri,” pesan Ela.
Kalimat tersebut menjadi penting bagi para siswa yang tumbuh dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Sebab, pendidikan bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun keberanian untuk bermimpi lebih tinggi.
Ela juga meminta seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat ikut memastikan anak-anak mendapatkan lingkungan belajar dan pengasuhan yang layak.
Mulai dari tenaga pendidik, tenaga kependidikan, wali asuh, wali asrama, pendamping PKH, pemerintah desa hingga orang tua, seluruhnya memiliki peran dalam memastikan program berjalan optimal.
Ia menekankan pentingnya sekolah yang aman, nyaman, ramah anak serta bebas kekerasan dan diskriminasi.
Pesan ini menjadi krusial karena Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar selama beberapa jam. Dalam konsep terintegrasi, aspek pendidikan dan pengasuhan harus berjalan beriringan.
Anak-anak membutuhkan guru yang mengajar.
Tetapi mereka juga membutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa dihargai, dilindungi dan memiliki masa depan.
Peresmian Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Lampung Timur dihadiri Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial RI, Gubernur Lampung beserta jajaran, Wakil Bupati Lampung Timur, Forkopimda, Sekretaris Daerah, perangkat daerah, camat, kepala desa, tenaga pendidik, pendamping PKH, orang tua dan peserta didik.
Namun inti dari kehadiran mereka bukan sekadar seremoni peresmian.
Yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi setelah pintu sekolah dibuka.
Apakah anak-anak benar-benar mendapatkan pendidikan berkualitas?
Apakah mereka tumbuh lebih percaya diri?
Apakah keterampilan mereka berkembang?
Dan yang paling penting, apakah pendidikan tersebut mampu membuka jalan keluar dari kemiskinan yang selama ini membelenggu sebagian keluarga?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Sekolah Rakyat di Lampung Timur.
Sebab meresmikan gedung bisa dilakukan dalam satu hari.
Membangun manusia membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Lampung Timur kini memulai perjalanan itu. Harapannya sederhana, tetapi besar: anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak lagi mewarisi keterbatasan orang tuanya, melainkan mewarisi kesempatan untuk mengubah masa depan.***












