LAMPUNG – Kabar menggembirakan datang dari sektor pertanian Lampung. Di tengah berbagai tantangan ekonomi nasional, kesejahteraan petani di provinsi ini justru menunjukkan tren membaik. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juni 2026 naik menjadi 129,90, atau meningkat 1,48 persen dibandingkan Mei 2026.
Kenaikan tersebut menjadi indikator penting bahwa kemampuan ekonomi petani Lampung semakin kuat. Harga hasil pertanian yang diterima petani meningkat lebih cepat dibandingkan kenaikan biaya konsumsi rumah tangga maupun biaya produksi yang harus mereka keluarkan.
Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, M. Sabiel Adi Prakasa, menjelaskan NTP merupakan indikator utama untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani melalui perbandingan antara Indeks Harga yang Diterima Petani (It) dan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib).
“Nilai Tukar Petani Juni 2026 tercatat sebesar 129,90 atau naik 1,48 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan daya tukar atau kemampuan ekonomi petani mengalami peningkatan,” ujar Sabiel, Rabu (1/7/2026).
Peningkatan NTP dipengaruhi melonjaknya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 2,16 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya naik 0,67 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan nilai jual berbagai komoditas pertanian mengalami kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan peningkatan pengeluaran petani untuk kebutuhan rumah tangga maupun biaya usaha tani.
Secara ekonomi, kondisi ini mencerminkan membaiknya margin keuntungan yang diterima petani selama Juni 2026.
Dari enam subsektor pertanian yang dipantau BPS, Tanaman Perkebunan Rakyat kembali menjadi penyumbang NTP tertinggi dengan angka mencapai 162,34.
Angka tersebut menunjukkan subsektor perkebunan rakyat masih menjadi tulang punggung ekonomi pertanian Lampung.
Disusul kemudian:
- Tanaman Hortikultura: 134,45
- Perikanan Tangkap: 114,93
- Tanaman Pangan: 110,01
Sementara dua subsektor lainnya masih menghadapi tantangan karena nilai tukarnya berada di bawah angka 100, yaitu:
- Peternakan: 99,28
- Perikanan Budidaya: 93,27
NTP di bawah 100 menunjukkan kenaikan biaya yang dikeluarkan petani atau pelaku usaha lebih tinggi dibandingkan peningkatan harga hasil produksi yang diterima.
Tak hanya NTP, indikator lain yang mencerminkan kondisi ekonomi petani juga menunjukkan perbaikan.
BPS mencatat Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) pada Juni 2026 mencapai 135,45, naik 1,11 persen dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 133,97.
NTUP menggambarkan kemampuan usaha pertanian dalam menghasilkan pendapatan setelah memperhitungkan biaya produksi. Peningkatan indikator ini menjadi sinyal positif bahwa aktivitas usaha tani semakin produktif.
Di sisi lain, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) Provinsi Lampung juga mengalami kenaikan sebesar 0,55 persen, yang terutama dipengaruhi meningkatnya kelompok pengeluaran transportasi sebesar 1,80 persen.
Kenaikan NTP dan NTUP menjadi indikator penting bahwa sektor pertanian Lampung masih mampu menjaga daya tahan ekonomi masyarakat pedesaan.
Sebagai salah satu provinsi dengan basis ekonomi pertanian terbesar di Sumatera, membaiknya kesejahteraan petani diperkirakan akan berdampak terhadap peningkatan daya beli masyarakat, perputaran ekonomi desa, hingga penguatan konsumsi domestik.
Meski demikian, tantangan masih membayangi sejumlah subsektor, khususnya peternakan dan perikanan budidaya yang nilai tukarnya masih berada di bawah angka ideal. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah agar pertumbuhan kesejahteraan dapat dirasakan secara lebih merata di seluruh sektor pertanian.
Dengan capaian NTP sebesar 129,90, Juni 2026 menjadi sinyal bahwa sektor pertanian Lampung tetap menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah di tengah dinamika ekonomi nasional.***













