Scroll untuk baca artikel
PERSONA

Sufyan al-Tsauri Tolak Jabatan dan Tegur Khalifah: Ulama yang Tak Silau Kekuasaan

×

Sufyan al-Tsauri Tolak Jabatan dan Tegur Khalifah: Ulama yang Tak Silau Kekuasaan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi
Ilustrasi

Seorang ulama tidak selalu harus berada di samping penguasa.

Kadang-kadang, posisi yang paling berguna justru berada sedikit jauh.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Dari jarak itu, seseorang masih bisa melihat dengan jelas.

Ketika terlalu dekat, kritik bisa berubah menjadi pujian.

Nasihat bisa berubah menjadi pembenaran.

Dan yang lebih berbahaya, kesalahan bisa terlihat seperti kebijakan yang harus dimaklumi.

Sufyan memilih jalan berbeda.

Ia tidak memusuhi kekuasaan, tetapi juga tidak membiarkan kedekatan dengan penguasa membuatnya kehilangan keberanian berkata benar.

Loyalitas kepada kebenaran ditempatkan di atas loyalitas kepada orang.

BACA JUGA :  Stratifikasi Hukum Islam Perspektif Stufenbau Teori

Itulah inti penting dari kisah tersebut.

Baitul Mal Bukan Dompet Pribadi

Kritik Sufyan terhadap penggunaan baitul mal juga memiliki pesan moral yang kuat.

Harta publik bukan milik penguasa.

Ia adalah amanah.

Karena itu, penggunaan uang negara harus memiliki alasan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

Dalam konteks modern, prinsip ini beririsan dengan gagasan mengenai integritas, pencegahan korupsi, konflik kepentingan dan akuntabilitas pengelolaan keuangan publik.

Tentu saja, istilah seperti gratifikasi atau konflik kepentingan adalah konsep hukum modern dan tidak bisa begitu saja ditempelkan sebagai kategori hukum terhadap peristiwa dalam sejarah Islam.

Namun secara moral, pertanyaan yang diajukan Sufyan tetap relevan:

BACA JUGA :  Mengenang Angkot Jurusan Metro-Pugung di Lampung

Apakah harta publik digunakan untuk kepentingan rakyat atau untuk membangun kenyamanan di sekitar kekuasaan?

Pertanyaan itu bahkan masih terdengar sangat modern.

Bedanya, dulu medianya surat.

Sekarang mungkin grup WhatsApp, konferensi pers, unggahan media sosial atau laporan lembaga pengawas.

Tetapi persoalannya tetap sama: siapa yang berani mengatakan, “Ini tidak benar,” ketika yang melakukan adalah orang yang berkuasa?

Sufyan Mengajarkan Cara Berbeda dalam Menjadi “Teman”

Ada satu ironi menarik dari kisah tersebut.

Harun membutuhkan Sufyan karena ia adalah sahabat lama yang dapat mengingatkannya kepada akhirat.

Tetapi ketika Sufyan benar-benar menjalankan fungsi tersebut, nasihatnya justru terasa keras.

BACA JUGA :  Heart to Heart Bersama Habib Umar bin Hafidz: Ketika Ulama dari Yaman Menyiram Dahaga Spiritual Artis Ibu Kota

Di sinilah kita belajar bahwa menjadi teman seorang penguasa bukan berarti selalu berkata:

“Betul, Paduka.”

Kadang menjadi teman yang sesungguhnya berarti mengatakan:

“Paduka, itu keliru.”

Pujian mungkin membuat seorang pemimpin nyaman.

Tetapi kritik yang jujur bisa menyelamatkannya dari kesalahan.

Sebab teman yang hanya datang ketika ada jamuan dan hadiah mungkin memang menyenangkan.

Namun teman yang berani mengingatkan ketika kita salah, jauh lebih mahal nilainya.

Menjaga Jarak Agar Nurani Tidak Ikut Berkompromi

Kisah Sufyan al-Tsauri pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang seorang ulama yang menolak jabatan.

Ini adalah cerita tentang integritas.