Scroll untuk baca artikel
AGAMA

UAS, UAH dan UDL Bicara Blak-blakan Soal Penguasa: Jangan Bikin Raja Kecil, Jangan Pula Rakyat Kehilangan Harapan

×

UAS, UAH dan UDL Bicara Blak-blakan Soal Penguasa: Jangan Bikin Raja Kecil, Jangan Pula Rakyat Kehilangan Harapan

Sebarkan artikel ini
talkshow UAH bersama UAS dan UDL di Mekkah- di chanel Adi Hidayat Offcial

JAKARTA — Tiga ulama kondang Indonesia, Ustadz Adi Hidayat (UAH), Ustadz Abdul Somad (UAS), dan Ustadz Das’ad Latif (UDL), membedah persoalan kepemimpinan, relasi ulama dan penguasa, hingga perilaku masyarakat dalam sebuah talkshow yang tayang di kanal YouTube Adi Hidayat Official.

Perbincangan itu tidak sekadar berisi tausiyah. Ketiganya justru menguliti persoalan yang terasa dekat dengan kehidupan berbangsa hari ini: pemimpin yang sulit menerima kritik, masyarakat yang mudah menghakimi, ulama yang harus menentukan posisi, hingga generasi masa depan yang terancam terlupakan karena semua orang terlalu sibuk dengan persoalan hari ini.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Pesannya keras, tetapi tidak kehilangan kelembutan.

Sebab, menurut ketiganya, mengoreksi kekuasaan memang wajib, tetapi memperbaiki manusia tidak selalu efektif dengan cara mempermalukannya.

Penguasa Tersinggung, Instrumen Kekuasaan Bisa Bergerak

UAH menyoroti sisi psikologis seorang pemimpin ketika menerima kritik.

Seseorang yang memiliki kedudukan tinggi, menurutnya, pada umumnya memiliki kecenderungan mempertahankan dominasi. Masalah muncul ketika kritik tidak lagi diterima sebagai masukan, tetapi dianggap sebagai serangan terhadap kehormatan dan kedudukannya.

Apalagi, seorang penguasa memiliki instrumen yang jauh lebih besar dibanding masyarakat biasa.

BACA JUGA :  Pembangunan Ponpes Al Ihya Ulumaddin di Pekon Padangratu Tanggamus, Dimulai

Ketika orang biasa marah, mungkin hanya bisa menggerutu, menulis status atau memilih menjauh.

Namun ketika seorang pemimpin tersinggung, situasinya bisa berbeda.

Ia memiliki orang-orang di sekelilingnya, jaringan kekuasaan, kewenangan dan berbagai instrumen yang bisa digerakkan.

Karena itu, ketiganya mengingatkan bahwa menyampaikan kritik kepada penguasa membutuhkan keberanian, tetapi juga kecerdasan.

Bukan untuk melemahkan kebenaran.

Melainkan agar kebenaran itu benar-benar sampai.

Sebab ada perbedaan besar antara menyampaikan kritik untuk memperbaiki dan menyampaikan kritik hanya untuk memenangkan pertengkaran.

Kalau tujuannya hanya membuat penguasa malu, bisa jadi yang terluka bukan hanya egonya.

Bisa saja setelah itu yang bergerak justru seluruh “mesin” di sekelilingnya.

Bahasa sederhananya, jangan sampai niatnya mau meluruskan setir, tetapi karena cara memegang kemudinya salah, mobilnya malah masuk jurang.

Musa Lebih Mulia, Firaun Lebih Buruk, Tetapi Allah Tetap Memerintahkan Kata-Kata Lembut

Salah satu pesan paling kuat dalam perbincangan itu adalah pelajaran dari Nabi Musa AS ketika menghadapi Firaun.

UAH mengajak publik merenungkan satu perbandingan sederhana.

Nabi Musa adalah nabi dan utusan Allah.

Sementara Firaun dikenal sebagai simbol penguasa yang melampaui batas.

BACA JUGA :  UAS dan Fatimah Azzahra, Dijodohkan Ta'aruf dan Akad Nikah 20 Mei

Namun, Nabi Musa tetap diperintahkan menyampaikan perkataan yang baik dan lembut kepada Firaun.

Pesan itu menjadi tamparan moral bagi siapa pun yang merasa paling berani mengkritik penguasa dengan cara merendahkan dan menghina.

Kalau Musa saja diperintahkan berbicara dengan cara terbaik kepada Firaun, lalu siapakah kita yang merasa lebih mulia daripada Musa dan menganggap penguasa yang kita kritik lebih buruk daripada Firaun?

Pertanyaan itu bukan berarti penguasa tidak boleh dikritik.

Justru sebaliknya.

Penguasa tetap harus diingatkan.

Tetapi ada etika, strategi dan tujuan yang harus dijaga.

Kritik harus mampu mengetuk hati, bukan sekadar memuaskan kemarahan.

Sebab, menurut pesan yang mengemuka dalam talkshow tersebut, ada orang yang mungkin sudah tidak bisa disentuh hanya dengan perdebatan akal.

Maka yang harus disentuh adalah hatinya.

Dan hati tidak selalu terbuka dengan teriakan.

Kadang, kata-kata yang paling pelan justru masuk paling dalam.

Jangan Salah Menyalahkan Imam, Bisa Jadi Makmumnya yang Bermasalah

Talkshow itu juga menyentil lingkaran di sekitar pemimpin.

Seorang pemimpin, menurut UAH, tidak cukup hanya dituntut menjadi imam yang baik. Masyarakat dan orang-orang di sekelilingnya juga harus menjadi makmum yang baik.

BACA JUGA :  Hilmi : Jangan Kebencian Membuat Kalian Bersikap tak Adil

Analogi itu menarik.

Seorang imam yang memimpin salat harus mengetahui kondisi makmumnya. Tetapi bagaimana jika orang-orang di belakangnya selalu memberikan laporan yang menyenangkan?

Semua dibilang aman.

Semua dibilang bagus.

Semua dibilang setuju.

Tidak ada masalah.

Padahal, di belakang sebenarnya ada orang yang kelelahan, lemah atau memiliki kebutuhan berbeda.

Pemimpin yang hanya mendengar laporan manis pada akhirnya dapat kehilangan hubungan dengan kenyataan.

Maka masalahnya bukan hanya pemimpin yang tidak mau mendengar.

Tetapi juga orang-orang yang tidak berani berkata jujur.

Jangan sampai pemimpin sibuk mencari kebenaran, tetapi yang datang setiap hari hanya laporan: “Siap, Pak. Aman, Pak. Bagus, Pak.”

Kalau semuanya baik-baik saja, untuk apa ada evaluasi?

Dan kalau setiap kritik dianggap ancaman, jangan heran bila akhirnya pemimpin hanya dikelilingi oleh orang-orang yang pandai membuat telinga nyaman.

Komentar Netizen: Semua Orang Ingin Jadi Hakim, Padahal Tujuannya Harusnya Memperbaiki

Fenomena media sosial juga tak luput dari sorotan.

Netizen hari ini memiliki kekuatan yang luar biasa.

Satu komentar bisa viral.