Tentang bagaimana ilmu seharusnya membuat seseorang semakin merdeka, bukan semakin bergantung kepada penguasa.
Tentang bagaimana kezuhudan bukan sekadar pakaian sederhana, tetapi kemampuan mengatakan tidak ketika dunia menawarkan sesuatu yang membuat hati mudah tergoda.
Dan tentang bagaimana keberanian moral terkadang membutuhkan jarak.
Sufyan menunjukkan bahwa orang yang dekat dengan kekuasaan belum tentu paling mampu mengingatkan penguasa.
Kadang justru orang yang berada di luar lingkaran kekuasaan yang dapat berbicara lebih jernih.
Karena ketika tidak memiliki kepentingan untuk dipertahankan, seseorang lebih mudah mempertahankan kebenaran.
Pada akhirnya, pesan Sufyan al-Tsauri terasa sederhana:
Jangan sampai kedekatan dengan penguasa membuat kita jauh dari kebenaran. Jangan sampai hadiah membuat kita lupa bahwa harta publik adalah amanah. Dan jangan sampai nama agama digunakan untuk membenarkan sesuatu yang justru merusak keadilan.
Sebab kekuasaan bisa berganti.
Jabatan bisa berakhir.
Hadiah bisa habis.
Tetapi pertanggungjawaban kepada Allah tidak mengenal pergantian periode.
Dan mungkin itulah sebabnya nasihat Sufyan al-Tsauri tetap terasa tajam berabad-abad kemudian.***













