Scroll untuk baca artikel
Lingkungan Hidup

Yang Merusak Laut Bukan Paus, Tapi Paus yang Menanggung Akibatnya

×

Yang Merusak Laut Bukan Paus, Tapi Paus yang Menanggung Akibatnya

Sebarkan artikel ini
Seekor paus bungkuk (Megaptera novaeangliae) yang terdampar di Pantai Perancak, Kabupaten Jembrana, Bali, pada Selasa (14/7) - foto dok

BALI – Laut seharusnya menjadi rumah bagi paus bungkuk. Tempat mereka bermigrasi ribuan kilometer, bernapas, berkembang biak, dan menjaga keseimbangan ekosistem samudra.

Namun pada Selasa (14/7/2026), seekor paus bungkuk (Megaptera novaeangliae) sepanjang sekitar 7,7 meter justru mengakhiri perjalanan hidupnya di hamparan pasir Pantai Perancak, Kabupaten Jembrana, Bali.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Ia tidak mati karena diburu.

Bukan pula karena menjadi tontonan wisata.

Melainkan karena laut yang surut lebih cepat daripada kesempatan untuk menyelamatkannya.

Di tengah terik matahari, nelayan, warga, aparat, relawan konservasi hingga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bahu-membahu berusaha mengembalikan mamalia laut raksasa itu ke habitatnya.

Sayangnya, alam berkata lain.

Sekitar pukul 11.00 WITA, nelayan menemukan paus tersebut berada di perairan dangkal.

Laporan segera diteruskan kepada Balai Pengelolaan Kelautan (Balai PK) Denpasar yang kemudian mengoordinasikan operasi penyelamatan bersama berbagai instansi.

Hasil identifikasi menunjukkan paus berada dalam kondisi hidup dan tidak ditemukan luka luar.

Harapan masih ada.

Warga bersama nelayan kemudian berusaha menggiring paus kembali menuju laut lepas.

Bukan pekerjaan mudah.

Tubuh seberat puluhan ton harus diarahkan perlahan tanpa melukai satwa maupun para penolong.

BACA JUGA :  TPPAS Lulut Nambo Bogor Ditarget Mulai Beroperasi Bulan Depan, Tampung Sampah 4 Wilayah

Di saat semua orang bekerja keras, alam justru menghadirkan tantangan lain.

Air laut semakin surut.

Pantai Perancak yang landai membuat paus semakin sulit memperoleh kedalaman air yang cukup untuk berenang kembali.

Seolah-olah laut perlahan menjauh dari penghuninya sendiri.

Sekitar pukul 14.00 WITA, perjuangan itu berakhir.

Paus dinyatakan mati.

Bukan karena kurangnya kepedulian.

Tetapi karena waktu tidak berpihak.

Ada pemandangan yang mungkin luput dari perhatian.

Di lokasi kejadian, tidak ada yang bertanya siapa yang paling berjasa.

Nelayan, warga desa, polisi perairan, TNI AL, petugas KKP, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Yayasan Jaringan Satwa Indonesia (JSI), hingga pemerintah desa bekerja tanpa sekat.

Mereka memiliki tujuan yang sama.

Menyelamatkan satu nyawa yang bahkan tidak mengenal bahasa manusia.

Inilah wajah lain Indonesia.

Saat seekor satwa liar mengalami musibah, manusia justru menunjukkan sisi terbaiknya.

Mengapa Paus Bisa Terdampar?

Fenomena paus terdampar bukanlah kejadian tunggal.

Para peneliti menyebut ada banyak faktor yang dapat menyebabkan mamalia laut kehilangan orientasi, antara lain:

  • perubahan arus laut;
  • kondisi cuaca ekstrem;
  • gangguan navigasi alami;
  • penyakit atau kondisi fisik yang melemah;
  • kebisingan bawah laut;
  • hingga pencemaran lingkungan.

Karena itu, bangkai paus tidak langsung dikuburkan.

Tim dari Yayasan Jaringan Satwa Indonesia (JSI) melakukan nekropsi untuk mengetahui kondisi organ dalam serta mengambil sampel biologis.

BACA JUGA :  Pemalang Jadi Percontohan Tempat Digitalisasi Penyaluran BBM Bersubsidi untuk Nelayan

Hasil laboratorium diharapkan mampu mengungkap penyebab kematian sekaligus menjadi data penting bagi penelitian konservasi mamalia laut di Indonesia.

Paus Bungkuk, Penjelajah Samudra yang Dilindungi Dunia

Paus bungkuk bukan sekadar mamalia laut berukuran besar.

Mereka adalah penjelajah samudra yang setiap tahun bermigrasi ribuan kilometer melintasi berbagai negara, termasuk melewati perairan Indonesia.

Keberadaan mereka membantu menjaga keseimbangan rantai makanan dan kesehatan ekosistem laut.

Karena perannya yang sangat penting, seluruh jenis paus di Indonesia mendapat perlindungan hukum.

Secara internasional, paus bungkuk juga masuk dalam Appendix I CITES serta Appendix I dan II Convention on the Conservation of Migratory Species of Wild Animals (CMS).

Artinya, keberlangsungan hidup spesies ini menjadi perhatian dunia.

Seekor paus tidak pernah membuang sampah plastik ke laut.

Ia juga tidak membangun reklamasi.

Tidak mengebor dasar laut.

Tidak membuang limbah.

Namun justru paus yang sering menjadi korban ketika laut kehilangan keseimbangannya.

Di sisi lain, manusia sering menyebut dirinya makhluk paling cerdas di bumi.

Ironisnya, kecerdasan itu belum selalu diikuti kebijaksanaan dalam menjaga rumah bersama.

Laut terus dimanfaatkan.

Tetapi belum sepenuhnya dipulihkan.

BACA JUGA :  KPK Resmi Tetapkan Edhy Prabowo Jadi Tersangka Suap Benur

Barangkali inilah satir terbesar zaman modern.

Makhluk terbesar di lautan justru sering kalah menghadapi persoalan yang diciptakan makhluk paling kecil secara fisik, tetapi paling besar dampaknya terhadap lingkungan.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, menegaskan bahwa setiap kejadian mamalia laut terdampar bukan hanya menjadi operasi penyelamatan, tetapi juga kesempatan penting untuk memperkuat konservasi.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, relawan, hingga aparat menjadi fondasi utama dalam meningkatkan kapasitas penanganan sekaligus memperkaya data ilmiah mengenai mamalia laut di Indonesia.

KKP mengimbau masyarakat agar segera melaporkan kepada Unit Pelaksana Teknis KKP atau instansi terkait apabila menemukan mamalia laut yang terdampar.

Semakin cepat laporan diterima, semakin besar peluang satwa tersebut untuk diselamatkan.

Barangkali kisah paus bungkuk di Pantai Perancak tidak akan mengubah dunia dalam semalam.

Namun ia meninggalkan satu pertanyaan penting.

Jika makhluk sekuat paus saja dapat kehilangan rumahnya di lautan, bagaimana nasib ekosistem laut puluhan tahun mendatang apabila manusia terus menunda menjaga alam?

Paus itu memang telah pergi.

Tetapi pesan yang ditinggalkannya masih bergema di sepanjang pesisir Bali.

Laut bukan sekadar sumber ekonomi. Laut adalah rumah bagi jutaan kehidupan dan manusia hanyalah salah satu penghuninya.***