Scroll untuk baca artikel
ADVERTORIALLAMPUNGLAMPUNG TIMUR

25 Grup Drumband Adu Kreativitas di LOUD Championship I Lampung Timur, Bukan Sekadar Rebut Piala

×

25 Grup Drumband Adu Kreativitas di LOUD Championship I Lampung Timur, Bukan Sekadar Rebut Piala

Sebarkan artikel ini
Sebanyak 25 grup drumband dari berbagai jenjang pendidikan di Kabupaten Lampung Timur ambil bagian dalam LOUD (Lampung Timur Ultimate Drumband) Championship I Piala Bupati Tahun 2026, pada Sabtu (8/8/2026) - foto dok

LAMPUNG TIMUR — Bunyi drum menggema. Derap langkah disusun serempak. Tongkat mayoret bergerak mengikuti irama, sementara puluhan pasang mata tertuju pada satu panggung: LOUD (Lampung Timur Ultimate Drumband) Championship I Piala Bupati Lampung Timur 2026.

Di halaman Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, Sabtu (8/8/2026), sebanyak 25 grup drumband dari berbagai jenjang pendidikan tidak sekadar datang untuk mengejar piala.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Mereka datang membawa hasil latihan berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Ada keringat anak-anak yang harus mengulang gerakan berkali-kali, ada pelatih yang terus memperbaiki formasi, dan ada orang tua yang rela mengantar serta menunggu setiap sesi latihan.

Karena di balik suara musik yang terdengar meriah, terdapat proses panjang untuk membentuk disiplin, kekompakan, keberanian dan rasa percaya diri generasi muda Lampung Timur.

Kejuaraan perdana tersebut resmi dibuka Wakil Bupati Lampung Timur Azwar Hadi.

LOUD Championship I sekaligus menjadi ruang kompetisi dan pengembangan bakat, kreativitas serta karakter generasi muda melalui seni musik dan olahraga drumband.

Bukan Sekadar Piala, Ada Karakter yang Sedang Dibentuk

Azwar Hadi menegaskan, pemerintah daerah tidak melihat LOUD Championship sekadar sebagai perlombaan untuk menentukan siapa yang membawa pulang piala.

Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan menjadi bagian dari pembangunan ekosistem drumband yang semakin sportif, profesional, kompetitif, kreatif dan berprestasi di Lampung Timur.

“Kegiatan ini bukan sekadar perlombaan untuk memperebutkan piala, tetapi merupakan bagian dari upaya kita bersama untuk membangun ekosistem drumband di Kabupaten Lampung Timur,” ujar Azwar Hadi.

Menurutnya, drumband memiliki nilai pendidikan yang jauh lebih besar daripada sekadar kemampuan memainkan alat musik.

BACA JUGA :  21 Bintara Polres Tanggamus, Naik Pangkat

Setiap hentakan drum menuntut ketepatan. Setiap langkah harus mengikuti irama. Setiap gerakan harus selaras dengan anggota lainnya.

Di situlah karakter ditempa.

Anak-anak belajar bahwa satu orang yang keluar dari ritme dapat memengaruhi seluruh penampilan tim.

Mereka belajar mendengarkan.

Belajar menunggu.

Belajar mengikuti aturan.

Dan yang tidak kalah penting, belajar bahwa tidak ada kemenangan yang lahir dari kerja seorang diri.

Menang Boleh, Sportivitas Jangan Hilang

Azwar Hadi meminta peserta tidak menjadikan gelar juara sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

Menurutnya, keberanian tampil di depan publik, kesiapan menghadapi kompetisi, kemampuan menghargai lawan dan menjunjung sportivitas merupakan bagian penting dari proses pembentukan karakter.

“Menang adalah sesuatu yang membanggakan. Tetapi berani tampil, berani berkompetisi, mampu menghargai lawan, dan tetap menjunjung tinggi sportivitas adalah kemenangan yang sesungguhnya,” tegasnya.

Pesan itu menjadi penting terutama bagi peserta yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah.

Sebab, panggung kompetisi bukan hanya tempat menentukan siapa yang paling bagus.

Panggung juga menjadi tempat anak-anak belajar menghadapi tekanan, menerima hasil penilaian, mengatasi kegagalan dan kembali berlatih untuk menjadi lebih baik.

Hari ini mungkin kalah. Besok bisa kembali dengan formasi yang lebih kuat.

25 Grup, Satu Panggung, Ribuan Ketukan Latihan

LOUD Championship I diikuti 25 unit drumband yang terbagi dalam kategori junior dan senior.

Rinciannya, kategori junior tingkat SD diikuti 16 grup, tingkat SMP sebanyak 8 grup, sementara tingkat SMA diikuti 1 grup.

Jumlah tersebut menunjukkan besarnya potensi drumband di kalangan pelajar Lampung Timur.

BACA JUGA :  Polisi Razia Masker dan Alkohol di Sekampung Udik

Masing-masing grup membawa karakter dan persiapan berbeda.

Namun semuanya bertemu pada satu tuntutan yang sama: tampil kompak di hadapan juri dan penonton.

Tidak ada ruang untuk setengah hati.

Sebab satu gerakan yang terlambat, satu ketukan yang meleset atau satu anggota yang kehilangan konsentrasi dapat memengaruhi keseluruhan penampilan.

Di sinilah latihan menjadi penentu.

Bukan sulap.

Bukan keberuntungan.

Di balik penampilan beberapa menit di arena, ada latihan panjang yang tidak terlihat penonton.

Orang Tua Juga Punya Cerita

Di balik anak-anak yang berdiri gagah membawa alat musik, terdapat orang tua yang ikut menjadi bagian dari perjalanan mereka.

Ada yang mengantar latihan.

Ada yang menyiapkan perlengkapan.

Ada yang menunggu hingga latihan selesai.

Ada pula yang harus berulang kali memberikan semangat ketika anak mulai lelah atau kehilangan kepercayaan diri.

Karena prestasi anak tidak lahir hanya dari panggung kompetisi.

Prestasi tumbuh dari rumah, sekolah, pelatih dan lingkungan yang memberikan ruang untuk berkembang.

Azwar Hadi pun memberikan apresiasi kepada para orang tua dan keluarga peserta yang selama ini mendukung anak-anak mereka.

Ia menegaskan bahwa prestasi tidak lahir secara instan.

Dibutuhkan latihan konsisten, kedisiplinan, kerja keras, kekompakan dan semangat pantang menyerah.

Pemkab Lampung Timur Ingin Anak Muda Punya Panggung

Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, kata Azwar Hadi, berkomitmen memberikan ruang positif bagi generasi muda untuk mengembangkan bakat, minat, kreativitas dan prestasi.

Pemerintah ingin generasi muda tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, disiplin, kreatif, percaya diri dan mampu bekerja sama.

BACA JUGA :  Gedung Islamic Center Lampung Timur Memprihatinkan Ada Sarang Tawon Madu, CJH Was-was!

“Kita ingin anak-anak muda Lampung Timur tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, disiplin, kreatif, percaya diri, mampu bekerja sama dan memiliki semangat untuk berprestasi,” katanya.

Dengan demikian, kegiatan seperti LOUD Championship memiliki arti lebih luas.

Ia menjadi alternatif ruang ekspresi bagi anak-anak untuk mengembangkan potensi sekaligus menghindarkan mereka dari aktivitas yang tidak produktif.

Juri Diminta Adil, Peserta Diminta Berani

Kepada dewan juri, Azwar Hadi meminta seluruh proses penilaian dilakukan secara profesional, jujur, adil dan objektif.

Sebab dalam sebuah kompetisi, keputusan juri bukan hanya menentukan pemenang, tetapi juga menjadi bagian dari pembelajaran bagi seluruh peserta.

Sementara peserta diminta menghormati keputusan dewan juri dan menjadikan setiap penampilan sebagai pengalaman untuk memperbaiki kemampuan.

Dengan kata lain, piala hanya satu, tetapi pengalaman yang dibawa pulang setiap peserta bisa jauh lebih berharga.

LOUD Championship Jadi Wadah Generasi Muda

Ketua Panitia LOUD Championship I yang juga Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lampung Timur, Marsan, mengatakan kegiatan tersebut digelar dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Republik Indonesia.

Kejuaraan itu merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Lampung Timur bersama Asosiasi Drumband Lampung, Persatuan Drumband Indonesia (PDBI) Lampung Timur dan berbagai pihak lainnya.

Marsan menyebut LOUD Championship menjadi wadah ekspresi, kreativitas dan kedisiplinan generasi muda.

“Melalui harmonisasi musik drumband, kita dapat membentuk karakter remaja yang kompak, tangguh, dan berjiwa sportif,” ujar Marsan.

Ia berharap kejuaraan perdana tersebut tidak berhenti sebagai agenda satu kali.***