Scroll untuk baca artikel
EkonomiHead LinePersona

Dari Desa ke Dunia: PT NSS Lampung Timur Ubah Sabut Kelapa Jadi Komoditas Ekspor

×

Dari Desa ke Dunia: PT NSS Lampung Timur Ubah Sabut Kelapa Jadi Komoditas Ekspor

Sebarkan artikel ini
Aktivits produksi sabut kelapa PT NSS Lampung Timur, untuk di kirim ke China, usaha ini mampu menyerap puluhan tenaga kerja lokal di wilayah Kecamatan Sekampung Udik - foto Jali

WawaiNEWS.ID – Di sudut tenang Desa Bauh Gunung Sari, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur, tak banyak yang menyangka bahwa tumpukan sabut kelapa yang dulu dianggap limbah kini menjelma komoditas ekspor bernilai tinggi. Dari desa yang jauh dari hiruk-pikuk industri besar, PT Nusantara Sukses Sentosa (PT NSS) membuktikan bahwa visi, ketekunan, dan keberanian membaca peluang mampu mengangkat potensi lokal ke panggung global.

Bukan sekadar mengolah sabut menjadi cocopeat dan cocofiber, perusahaan ini sedang merajut cerita tentang daya tahan dan transformasi. Tentang bagaimana yang terbuang bisa menjadi bernilai. Tentang bagaimana desa tidak lagi hanya menjadi penonton arus ekonomi, tetapi ikut menjadi pemain dalam rantai pasok internasional.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

PT NSS dirintis pada 2019. Awalnya, langkah mereka tak selalu mulus. Fluktuasi harga, pasar yang belum stabil, serta ketersediaan bahan baku menjadi tantangan nyata. Mesin sempat lebih sering diam daripada beroperasi. Namun mereka memilih bertahan.

BACA JUGA :  Kapal KM Karya Indah Terbakar 257 Orang Dievakuasi 1 Dalam Pencarian

Sabut kelapa dikumpulkan dari para petani, lalu diproses melalui tahapan pencacahan, pengayakan, perendaman, pengepresan hingga pengemasan. Setiap tahap dijaga kualitasnya agar memenuhi standar pasar ekspor.

Hasilnya adalah dua produk utama:

  • Cocopeat, media tanam ramah lingkungan sekaligus alas ternak seperti kuda dan sapi.
  • Cocofiber, serat kelapa yang banyak digunakan di pasar Asia untuk bahan matras dan industri turunan lainnya.
Syarifuddin Bagian Produksi PT NSs Lampung Timur – foto Jali

Sekitar 90 persen produksi dialokasikan untuk ekspor ke China. Dalam kondisi stabil, potensi pengiriman mencapai enam kontainer per bulan, dengan target ditingkatkan hingga 10 kontainer.

“Alhamdulillah, setelah bertahun-tahun tertatih-tatih, kini produksi mulai kembali berjalan stabil,” ujar Syaifudin, Kepala Produksi PT NSS, Rabu (4/3).

Kepada Wawai News, Ia mengakui, enam bulan terakhir menjadi titik balik kebangkitan perusahaan.

Kebangkitan PT NSS bukan hanya soal peningkatan angka ekspor. Dampaknya terasa langsung di tengah masyarakat.

BACA JUGA :  Disperindag Lamtim, Buka Pasar Murah di Lapangan Merdeka Jabung

Tenaga kerja yang terserap tidak hanya berasal dari Desa Bauh Gunung Sari, tetapi juga dari desa sekitar seperti Gunung Sugih Besar, Pugung Raharjo, Bojong, Gunung Raya, hingga Desa Toba. Bagi sebagian warga, perusahaan ini menjadi sumber penghasilan utama.

“Pekerjaan ini sangat membantu ekonomi keluarga kami. Warga dari berbagai desa bisa ikut bekerja dan mendapatkan penghasilan,” ujar Abdul Karim, salah satu pekerja.

PT NSS tidak hanya membuka lapangan kerja, tetapi juga membimbing para pekerja agar memahami proses produksi dan meningkatkan keterampilan. Lingkungan kerja dibangun atas dasar kebersamaan, toleransi, dan saling menghargai tanpa membedakan latar belakang.

Manfaatnya juga dirasakan para petani kelapa. Kulit kelapa yang sebelumnya tak memiliki nilai ekonomi kini menjadi sumber pendapatan tambahan. Limbah yang dulu dibuang kini dibeli dan diolah menjadi produk ekspor.

Siklus ini menciptakan rantai ekonomi yang lebih sehat: petani mendapatkan nilai tambah, pekerja memperoleh penghasilan, dan desa memiliki aktivitas ekonomi berkelanjutan.

BACA JUGA :  Ketum KNPI: Pemuda Penentu Keberhasilan Agenda Indonesia Maju

Di saat isu lingkungan semakin mendapat perhatian global, pengolahan sabut kelapa ini sekaligus menjadi solusi pengurangan limbah organik. Dari yang sebelumnya mencemari, kini menjadi komoditas ramah lingkungan yang dibutuhkan pasar internasional.

Kisah PT NSS adalah cermin bahwa UMKM berbasis potensi lokal mampu bersaing di tingkat global jika dikelola dengan konsistensi dan komitmen kualitas.

Mereka membuktikan bahwa lokasi bukan batas. Bahwa desa bukan penghalang untuk mendunia. Bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari modal besar, tetapi dari ketekunan dan keberanian untuk terus melangkah meski tertatih.

Dari Bauh Gunung Sari, kontainer demi kontainer berisi cocopeat dan cocofiber berangkat menuju pasar global. Setiap pengiriman bukan hanya transaksi dagang, melainkan simbol kebangkitan ekonomi desa.

Dari sabut kelapa yang terbuang, lahir harapan. Dari desa kecil di Lampung Timur, tumbuh optimisme besar bahwa potensi lokal, jika dikelola dengan sungguh-sungguh, mampu menembus dunia.***