LAMPUNG TIMUR – Keluhan soal dugaan pencemaran lingkungan yang disebut-sebut berasal dari peternakan babi di Desa Bauh Gunung Sari, Kecamatan Sekampung Udik, hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar. Bukan hanya karena aroma menyengat yang dikeluhkan warga dan lingkungan sekolah, tetapi juga karena tim yang dikabarkan akan turun ke lokasi tak kunjung terlihat batang hidungnya.
Ironisnya, saat keluhan warga terus bergulir, kepastian penanganan justru masih seperti menunggu hujan di musim kemarau. Dijanjikan datang, tetapi yang muncul baru kabar. Sementara aroma yang dipersoalkan warga disebut tetap setia menyapa lingkungan sekitar.
Kepala Desa Bauh Gunung Sari, Kabul, mengaku sempat menerima telepon dari seseorang yang mengaku berasal dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lampung Timur. Dalam komunikasi tersebut disebutkan akan ada kunjungan ke lokasi untuk menindaklanjuti laporan dugaan pencemaran lingkungan yang diduga bersumber dari kandang babi yang lokasinya berdekatan dengan SMK Yanikma.
Namun hingga Rabu (3/6), kunjungan yang dijanjikan itu belum juga terealisasi.
“Kemarin ada yang telepon mengaku dari Dinas Lingkungan Hidup Lampung Timur dan menyampaikan akan turun ke lokasi terkait keluhan masyarakat. Tapi sampai hari ini belum terlihat ada yang datang,” ujar Kabul saat dikonfirmasi.
Menurut Kabul, pemerintah desa tidak bisa serta-merta mengambil langkah penutupan terhadap peternakan tersebut. Pasalnya, persoalan perizinan maupun tindakan penertiban berada dalam kewenangan instansi terkait di tingkat kabupaten.
Desa, kata dia, hanya bisa memfasilitasi komunikasi dan mendorong solusi agar aktivitas peternakan tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan maupun masyarakat sekitar.
“Kalau diminta membantu mencarikan solusi agar limbah tidak mengganggu lingkungan, tentu kami siap. Tapi kalau soal penutupan, itu kewenangan dinas terkait,” jelasnya.
Ia juga menyebut adanya informasi bahwa tim dari sektor peternakan akan melakukan peninjauan ke lokasi. Hanya saja, hingga kini belum ada kepastian kapan kunjungan tersebut akan dilakukan.
Sementara itu, keluhan terus datang dari lingkungan pendidikan. Para siswa dan tenaga pendidik di SMK Yanikma mengaku terganggu oleh aroma menyengat yang diduga berasal dari peternakan babi milik warga bernama Nyoman Mertayasa.
Menurut warga sekitar, bau tersebut cenderung semakin kuat saat hujan turun atau ketika malam hari. Kondisi itu disebut tidak hanya mengganggu aktivitas belajar mengajar, tetapi juga kenyamanan masyarakat yang bermukim di sekitar lokasi.
Situasi ini membuat warga berharap instansi terkait tidak hanya berhenti pada janji peninjauan lapangan. Sebab bagi masyarakat, yang dibutuhkan bukan sekadar kabar akan datangnya tim, melainkan kepastian langkah konkret untuk memastikan apakah benar terjadi pencemaran lingkungan dan bagaimana solusi yang akan diterapkan.
Warga dan desa kini menunggu kehadiran pihak berwenang. Sebab jika aroma yang dikeluhkan warga bisa tercium hingga ratusan meter, semestinya persoalan ini juga cukup dekat untuk masuk radar perhatian para pengambil kebijakan.
Warga desa menunggu, sekolah menunggu, dan lingkungan pun menunggu jawaban yang lebih nyata daripada sekadar janji akan turun ke lokasi.***













