Scroll untuk baca artikel
Budaya

Mengenal Kain Tapis Lampung: Jenis, Motif, Makna Filosofis dan Sejarah Warisan Budaya

×

Mengenal Kain Tapis Lampung: Jenis, Motif, Makna Filosofis dan Sejarah Warisan Budaya

Sebarkan artikel ini
sumber gambar dari Zeliaze Ethnic Gallery

WawaiNEWS.ID – Jika berbicara tentang identitas budaya Lampung, satu nama tak pernah absen, Tapis. Kain tenun bersulam benang emas dan perak ini bukan sekadar busana adat, melainkan simbol status sosial, filosofi hidup, hingga jejak sejarah panjang masyarakat Lampung.

Di tengah gempuran fashion modern dan produk tekstil pabrikan, kain tapis tetap bertahan—bukan karena tren, tetapi karena makna.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Apa Itu Kain Tapis Lampung?

Tapis adalah kain sarung tradisional perempuan Lampung yang terbuat dari tenunan benang kapas dan dihiasi sulaman benang emas atau perak dengan teknik khas yang disebut cucuk.

Kain ini umumnya dikenakan dari pinggang ke bawah pada upacara adat seperti pernikahan, pengambilan gelar, khitanan, hingga prosesi naik pepadun. Karena proses pembuatannya manual dan rumit, harga tapis relatif tinggi dan itu sebanding dengan nilai simboliknya.

Sejarah Tapis: Dari Abad II hingga Era Modern

Menurut penelitian arkeolog Belanda Van der Hoop, masyarakat Lampung telah mengenal kain tenun berhias sejak abad II Masehi melalui kain Nampan (Tampan) dan Pelepai.

Motif awalnya banyak menampilkan:

BACA JUGA :  Stand Bandar Marga Legun Tampilkan Kearifan Lokal
  • Pohon hayat
  • Matahari dan bulan
  • Binatang
  • Bentuk geometris dan kunci (key & rhomboid)

Masuknya Islam memperkaya ragam hias tanpa menghilangkan unsur lama. Motif kapal atau Jung misalnya, lahir dari tradisi maritim yang berkembang pesat pada masa kerajaan Hindu hingga Islam (1500–1700 M).

Bagi masyarakat Lampung, Jung bukan sekadar kapal. Ia simbol perjalanan hidup.

Ragam Jenis Kain Tapis Lampung

Berikut beberapa jenis tapis populer beserta penggunaannya:

1. Tapis Jung Sarat

Dipakai pengantin wanita saat pernikahan adat.

2. Tapis Raja Medal

Digunakan dalam upacara pengambilan gelar pangeran atau sutan.

3. Tapis Tuho

Dipakai istri penyimbang (tokoh adat) dalam prosesi adat penting.

4. Tapis Laut Linau

Dikenakan gadis pengiring pengantin dan muli cangget (penari adat).

5. Tapis Balak

Dipakai kerabat perempuan dalam upacara pengambilan gelar.

6. Tapis Cucuk Andak

Digunakan keluarga penyimbang bergelar sutan.

7. Tapis Bintang Perak

Berasal dari Menggala dan Tulang Bawang, dipakai dalam acara adat.

8. Tapis Inuh

Berasal dari Krui, Pesisir Barat, digunakan dalam upacara adat.

Dan masih banyak lagi seperti Tapis Silung, Tapis Dewosano, Tapis Kaca, Tapis Bidak Cukkil, hingga Tapis Agheng/Areng.

BACA JUGA :  Jaranan Turonggo Yakso, Meriahkan HUT ke-74 RI di Kemiling

Setiap jenis bukan sekadar motif berbeda, tetapi juga menunjukkan hierarki sosial pemakainya.

Makna Filosofis Motif Tapis

Yang membuat tapis istimewa bukan hanya kilau emasnya, melainkan filosofi di balik tiap motif.

Beberapa di antaranya:

  • Motif Pucuk Rebung → simbol kekeluargaan dan gotong royong
  • Motif Bintang → harapan menjadi penerang bagi orang lain
  • Motif Naga → kepemimpinan bijaksana
  • Motif Jung/Kapal → perjalanan hidup dan perjuangan mencapai tujuan
  • Motif Pohon Hayat → keseimbangan hidup

Filosofi ini selaras dengan lima prinsip hidup masyarakat Lampung:

  • Piil Pesenggiri
  • Nengah Nyappur
  • Sakai Sambaian
  • Nemui Nyimah
  • Bejuluk Bu Adok

Artinya, tapis bukan hanya kain ia adalah narasi moral yang dikenakan.

Bahan dan Peralatan Tradisional

Dahulu bahan tapis dibuat dari:

  • Kapas (khambak) untuk benang
  • Benang emas
  • Pewarna alami dari kayu, daun, buah, dan kunyit
  • Lilin sarang lebah untuk proses ikat

Peralatannya pun sederhana seperti:

  • Sesang
  • Mattakh
  • Terupong
  • Tekang

Semua dikerjakan manual oleh perempuan Lampung baik ibu rumah tangga maupun gadis (muli-muli) yang awalnya membuat tapis untuk memenuhi tuntutan adat yang sakral.

Dari Sakral ke Komoditas

Kini tapis tidak hanya hadir di upacara adat. Ia telah berevolusi menjadi:

BACA JUGA :  Ini Makna Tersembunyi Kain Tapis Lampung
  • Busana modern
  • Tas dan dompet
  • Hiasan interior
  • Cendera mata

Desainer seperti Ramli ikut mengangkat tapis ke panggung mode nasional.

Industri tapis pun berkembang dari kerajinan rumahan menjadi usaha profesional. Bahkan pengrajinnya kini tidak hanya masyarakat asli Lampung, tetapi juga pendatang yang belajar dan mandiri.

Identitas yang Harus Dijaga

Tapis kini menjadi ikon budaya Lampung. Datang ke Bandar Lampung tanpa membawa tapis sebagai oleh-oleh, rasanya seperti ke Paris tanpa melihat Menara Eiffel kurang lengkap.

Namun di balik kebanggaan itu, ada pekerjaan rumah: perlindungan hukum dan penguatan hak kekayaan intelektual agar tapis tidak diklaim pihak lain.

Sebab ketika sebuah warisan budaya kehilangan pengakuan, yang hilang bukan hanya kain tetapi juga sejarah.

Tapis: Lebih dari Sekadar Sarung

Di era serba cepat, tapis mengajarkan kesabaran. Di tengah budaya instan, tapis mengajarkan proses. Di balik kilau emasnya, tersimpan identitas, status, dan filosofi hidup masyarakat Lampung.

Tapis bukan sekadar kain tradisional. Ia adalah narasi yang ditenun, disulam, lalu diwariskan.***