BANDUNG – Di tengah berbagai tantangan ekonomi global yang masih membuat banyak daerah berhitung ketat, Jawa Barat justru menunjukkan “otot” dagangnya. Sepanjang Januari hingga April 2026, neraca perdagangan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia ini mencatat surplus fantastis mencapai USD 8,90 miliar.
Angka tersebut bukan sekadar statistik di atas kertas. Surplus jumbo ini lahir dari ekspor yang terus melaju, sementara impor justru menginjak rem cukup dalam. Ibarat rumah tangga, pemasukan deras mengalir, sedangkan pengeluaran berhasil ditekan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menunjukkan nilai ekspor Januari-April 2026 mencapai USD 12,58 miliar, naik 4,15 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, impor hanya berada di level USD 3,68 miliar, turun 7,63 persen.
Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, mengungkapkan bahwa ekspor nonmigas masih menjadi tulang punggung utama perdagangan Jabar. Nilainya mencapai USD 12,51 miliar, tumbuh 4,30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara sektor migas tampak belum menemukan “bensin” untuk melaju lebih cepat. Ekspor migas tercatat hanya USD 72,70 juta, merosot 16,39 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Jika ditelisik lebih jauh, sektor otomotif kembali membuktikan diri sebagai salah satu mesin penghasil devisa paling tangguh bagi Jawa Barat.
Golongan kendaraan dan bagiannya menjadi komoditas dengan kenaikan ekspor terbesar, melonjak USD 297,95 juta atau 11,80 persen. Kondisi ini menunjukkan industri manufaktur Jabar masih menjadi pemain penting dalam rantai pasok global.
Sebaliknya, sektor perhiasan dan permata tampaknya sedang kehilangan pamor. Nilai ekspornya turun USD 73,59 juta atau 18,99 persen. Kilau batu mulia ternyata belum cukup terang untuk mengimbangi laju kendaraan yang terus melesat di pasar internasional.
Di tengah berbagai isu perang dagang dan ketidakpastian ekonomi global, pasar Amerika Serikat tetap menjadi pelanggan paling loyal produk-produk Jawa Barat.
Nilai ekspor nonmigas ke Negeri Paman Sam mencapai USD 2,08 miliar, menjadikannya tujuan ekspor terbesar. Posisi berikutnya ditempati Filipina dengan nilai USD 1,19 miliar, disusul Jepang sebesar USD 922,58 juta.
Tiga negara tersebut menyumbang sekitar 33,53 persen dari total ekspor nonmigas Jawa Barat.
Tak hanya itu, pasar regional juga masih berperan penting. Ekspor ke kawasan ASEAN mencapai USD 3,47 miliar, sementara pasar Amerika dan Eropa secara gabungan menyerap produk Jabar senilai USD 4,70 miliar.
Industri Pengolahan Tetap Jadi Raja
Kinerja sektoral juga menunjukkan bahwa sektor manufaktur masih menjadi tulang punggung ekonomi ekspor Jawa Barat.
Sepanjang Januari-April 2026, sektor:
- Pertanian tumbuh 4,21 persen
- Industri pengolahan naik 4,30 persen
- Pertambangan dan lainnya meningkat 2,20 persen
- Migas turun 16,39 persen
Data ini sekaligus menegaskan bahwa Jawa Barat masih sangat bergantung pada kekuatan industri pengolahan sebagai mesin pencetak devisa utama.
Impor Turun, Pabrik Lebih Banyak Belanja Dalam Negeri?
Di sisi lain, impor Jawa Barat mengalami kontraksi cukup signifikan. Nilainya hanya USD 3,68 miliar, turun 7,63 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Penurunan paling mencolok terjadi pada impor migas yang anjlok 55,08 persen, dari tahun sebelumnya menjadi hanya USD 232,36 juta.
Sementara impor nonmigas juga turun tipis 0,54 persen menjadi USD 3,44 miliar.
Menariknya, golongan kendaraan dan bagiannya menjadi komoditas impor yang paling banyak mengalami penurunan, yakni sebesar USD 154,38 juta atau 51,08 persen. Fenomena ini bisa dibaca sebagai sinyal semakin kuatnya kemampuan industri otomotif lokal dalam memenuhi kebutuhan produksi.
Namun demikian, impor mesin dan perlengkapan elektronik justru meningkat USD 97,19 juta atau 18,25 persen, mengindikasikan sektor industri masih aktif melakukan investasi dan modernisasi peralatan produksi.
Meski impor turun, ketergantungan Jawa Barat terhadap barang dari Tiongkok masih sangat besar.
Sepanjang Januari-April 2026, Negeri Tirai Bambu menjadi pemasok terbesar dengan nilai USD 1,41 miliar atau menguasai 41,04 persen total impor nonmigas.
Di belakangnya terdapat Jepang dengan nilai USD 410,06 juta dan Korea Selatan sebesar USD 407,46 juta.
Dengan kata lain, ketika pabrik-pabrik Jawa Barat membutuhkan bahan baku, komponen, atau mesin, nama Tiongkok masih menjadi alamat utama yang sulit tergantikan.
Surplus perdagangan USD 8,90 miliar memang layak diapresiasi. Namun angka besar ini juga menyimpan pesan penting: ekonomi Jawa Barat masih sangat bertumpu pada kinerja ekspor manufaktur dan permintaan pasar luar negeri.
Ketika pasar global sedang ramah, devisa mengalir deras. Tetapi ketika ekonomi dunia melambat, mesin ekspor yang selama ini menjadi andalan juga bisa ikut tersendat.
Untuk saat ini, setidaknya Jawa Barat bisa tersenyum lebar. Saat banyak wilayah masih sibuk menghitung defisit, Jabar justru sedang menikmati “hujan dolar” dari pasar internasional. Pertanyaannya, apakah surplus ini mampu diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih merata hingga ke kantong masyarakat? Itu pekerjaan rumah yang jauh lebih besar daripada sekadar mencetak angka ekspor yang mengkilap.***













