Scroll untuk baca artikel
Budaya

Cambuk Demi Hujan, Bukan Demi Konten! Tradisi Tiban “Badak Lampung” Menggila di Lampung Timur

×

Cambuk Demi Hujan, Bukan Demi Konten! Tradisi Tiban “Badak Lampung” Menggila di Lampung Timur

Sebarkan artikel ini
Suasana penuh keakraban dan semangat pelestarian budaya mewarnai kegiatan Silaturahmi Paguyuban Seni Tiban “Badak Lampung” yang digelar di Desa Selorejo, Kecamatan Batanghari, Kabupaten Lampung Timur, Sabtu (23/05/2026).- foto doc/Jali

LAMPUNG TIMUR — Suasana penuh keakraban, denting gamelan, dan semangat pelestarian budaya mewarnai kegiatan Silaturahmi Paguyuban Seni Tiban “Badak Lampung” yang digelar Desa Selorejo, Kecamatan Batanghari, Lampung Timur, pada Sabtu (23/05/2026).

Acara budaya yang menghadirkan tamu dari Jawa Timur itu dihadiri Wakil Bupati Lampung Timur Azwar Hadi, Pembina Paguyuban Tiban Blitar Guntur Wahono, anggota DPRD Lampung Timur Komari, hingga para pelestari budaya dari Blitar, Tulungagung, dan Kediri.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Bagi orang luar, ritual Tiban mungkin terlihat seperti arena duel penuh cambukan.

Namun bagi masyarakat Jawa Timur dan para pelestari budaya, Tiban bukan sekadar saling pukul memakai pecut dari lidi aren.

Tradisi ini adalah ritual kuno memohon turunnya hujan saat kemarau panjang.

Dulu, ketika sawah mulai retak dan petani menatap langit penuh harap, warga menggelar Tiban sebagai bentuk doa kolektif kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Bukan kekerasan yang ditonjolkan.

BACA JUGA :  Kebudayaan Jadi Kekuatan Pariwisata Jabar

Tetapi pesan luhur tentang keseimbangan alam, solidaritas sosial, dan keteguhan masyarakat agraris menghadapi musim sulit.

Ironisnya, di era modern sekarang, manusia justru lebih sering “mencambuk” alam lewat eksploitasi berlebihan, lalu panik sendiri ketika cuaca berubah ekstrem.

Pembina Paguyuban Tiban Blitar, Guntur Wahono, menyebut hubungan antara komunitas Tiban di Lampung dan Jawa Timur terus terjalin erat melalui agenda silaturahmi lintas daerah.

“Di tahun 2025 Badak Lampung berkunjung ke Blitar, maka tahun 2026 ini menjadi kewajiban kami hadir ke Lampung,” ujarnya.

Ia bahkan membawa salam dari Bupati Blitar dan memastikan rombongan Lampung Timur akan disambut langsung di Pendopo Kabupaten Blitar jika kembali berkunjung tahun depan.

Di tengah zaman ketika banyak hubungan antardaerah hanya sibuk soal proyek dan kepentingan politik, komunitas Tiban justru menunjukkan persaudaraan budaya yang tetap hidup tanpa proposal tebal dan panggung pencitraan.

BACA JUGA :  Ini Daftar Jabatan dan Posisi Baru 9 Perwira di Polres Lampung Timur Ikut Gerbong Mutasi

Ritual Tiban dimainkan dua kelompok laki-laki dewasa dengan tubuh terbuka tanpa baju.

Mereka saling mencambuk menggunakan pecut dari ranting aren secara bergantian, dipimpin seorang wasit yang disebut landang atau plandang.

Pertunjukan diiringi gamelan, kendang, kentongan, dan gambang laras yang membuat suasana terasa magis sekaligus menegangkan.

Namun di balik cambukan itu ada aturan ketat:
sportivitas dijaga,
emosi dikendalikan,
dan persaudaraan tetap diutamakan.

Karena Tiban bukan arena tawuran berkedok budaya.

Melainkan ruang ritual yang menanamkan loyalitas, guyub, toleransi, dan kebersamaan masyarakat desa.

Wakil Bupati Lampung Timur, Azwar Hadi, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut sebagai bentuk nyata kepedulian masyarakat terhadap pelestarian budaya bangsa.

“Seni Tiban merupakan bagian dari kekayaan budaya nusantara yang memiliki nilai historis, spiritual, dan kebersamaan,” ujarnya.

Ia berharap generasi muda tetap mengenal dan mencintai budaya daerah agar tidak hilang ditelan modernisasi.

BACA JUGA :  Lagi, Proyek "Hantu" Bergentayangan di Sekampung Udik Lampung Timur

Sebab hari ini, tantangan terbesar budaya bukan lagi penjajahan.

Tetapi algoritma.

Anak muda lebih hafal tren TikTok dibanding tradisi leluhurnya sendiri.

Lebih kenal influencer daripada sejarah kampungnya.

Karena itu, kegiatan seperti Tiban menjadi pengingat bahwa budaya tidak boleh hanya hidup di buku pelajaran atau festival seremoni tahunan.

Dari Ritual Kemarau Jadi Hiburan Rakyat

Seiring perkembangan zaman, Tiban kini tidak lagi semata ritual meminta hujan.

Tradisi ini berkembang menjadi hiburan rakyat sekaligus media silaturahmi budaya.

Namun nilai utamanya tetap sama:
menjaga harmoni manusia dengan alam dan sesama.

Di tengah dunia modern yang makin gaduh oleh flexing, persaingan sosial, dan budaya instan, Tiban justru mengajarkan sesuatu yang sederhana:
manusia harus tetap guyub, sportif, dan menghormati alam.

Karena kalau alam sudah murka, bukan cuma sawah yang kering.

Dompet, kehidupan, bahkan masa depan juga bisa ikut tandus.***