LAMPUNG TIMUR — Aroma kopi, semangat gotong royong, dan suara tawa para muli mekhanai mulai memenuhi kawasan tua yang sarat sejarah. Hitung mundur menuju Festival Budaya Sekappung Limo Mego II 2026 resmi dimulai. Tinggal 39 hari lagi, masyarakat adat dan para pegiat budaya bersiap menghidupkan kembali denyut warisan leluhur di bumi Lampung Timur.
Festival budaya tahunan yang akan dipusatkan di Taman Wisata Purbakala Pugung Raharjo ini bukan sekadar panggung hiburan. Ia menjadi “alarm budaya” bagi generasi muda yang mulai lebih hafal tren media sosial dibanding sejarah tanah kelahirannya sendiri.
Panitia festival terus mematangkan persiapan demi memastikan acara tidak hanya ramai di spanduk, tetapi benar-benar membumi dalam pelestarian adat dan budaya Lampung.
Sebelumnya, jajaran panitia telah melakukan kunjungan adat ke Lamban Balak di Kalianda pada 14 Mei 2026 untuk bersilaturahmi sekaligus berkonsultasi dengan Radin Imba Kesuma Ratu V. Pertemuan tersebut menjadi langkah penting dalam menyatukan semangat budaya lintas generasi.
“Jejak sejarah harus kembali dipijak, bukan sekadar diceritakan,” menjadi semangat yang terus digaungkan panitia dalam mempersiapkan festival tersebut.
Memasuki hitungan hari pelaksanaan, Ketua Panitia Ibrahim Restusaka menggelar musyawarah santai bersama jajaran kepanitiaan dan para muli mekhanai dari enam Tyuh Tuho Sekappung Limo Mego pada Rabu sore, 20 Mei 2026.
Pertemuan berlangsung di kawasan Punden 6, situs bersejarah yang berada di kawasan Taman Wisata Nasional Purbakala Lampung, Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik.
Tak ada meja mewah ataupun forum kaku penuh istilah birokrasi. Para pemuda, tokoh adat, dan panitia duduk melingkar berdiskusi ringan membahas pembagian tugas, konsep acara, hingga strategi menyambut tamu undangan. Sesekali gelak tawa pecah di tengah pembahasan serius — tanda bahwa budaya memang paling hidup ketika dirawat bersama, bukan sekadar dipidatokan.
Festival Sekappung Limo Mego II 2026 diproyeksikan menjadi momentum besar kebangkitan budaya lokal. Berbagai agenda budaya tengah disiapkan, mulai dari pertunjukan seni tradisional, prosesi adat, kuliner khas Lampung, hingga monolog sejarah Sekappung Limo Mego yang diyakini akan menjadi daya tarik utama.
Sekitar 300 tamu undangan diperkirakan hadir, mulai dari pejabat daerah, tokoh masyarakat, tokoh adat kemargaan, hingga komunitas lintas etnis di Lampung Timur.
Namun di balik gegap gempita persiapan festival, terselip pesan satir yang cukup menohok: jangan sampai situs purbakala hanya ramai saat festival, lalu kembali sunyi setelah panggung dibongkar dan kamera dimatikan.
Panitia berharap festival ini mampu menjadi titik balik kebangkitan kesadaran budaya masyarakat, sekaligus memperkenalkan kembali sejarah Lampung kepada generasi muda yang mulai asing dengan akar budayanya sendiri.
Lebih dari itu, Festival Budaya Sekappung Limo Mego II diharapkan mampu mengangkat Taman Wisata Purbakala Pugung Raharjo sebagai destinasi wisata budaya unggulan yang dikenal hingga tingkat nasional bahkan internasional.
Sebab budaya, pada akhirnya, bukan benda museum yang dipajang diam-diam. Ia harus dirawat, diramaikan, lalu diwariskan sebelum benar-benar tinggal cerita.***













