IRGC mengeklaim serangan presisi ke kapal induk Amerika, sementara drone Iran juga disebut menargetkan pangkalan AS di Kuwait. Washington belum mengonfirmasi, memunculkan pertanyaan: serangan nyata atau perang narasi?
WawaiNEWS.ID — Televisi pemerintah Iran mengklaim drone militer yang diluncurkan oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) berhasil menghantam kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln. Klaim ini langsung memicu perhatian internasional, meski hingga kini belum disertai bukti atau rincian teknis yang jelas.
Media pemerintah Iran menyampaikan klaim tersebut secara singkat, tanpa memaparkan waktu serangan, lokasi pasti, maupun dampak kerusakan yang ditimbulkan. Situasi ini membuat banyak pengamat melihatnya sebagai bagian dari perang narasi yang kerap menyertai ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, IRGC juga pernah menyatakan berhasil menyerang kapal induk Amerika. Namun saat itu pihak Pentagon membantah tegas dan menyatakan rudal yang diluncurkan bahkan tidak mendekati target.
Dengan kata lain: Iran mengklaim “kena sasaran”, sementara Washington menyebut “bahkan belum sampai alamat”.
Di tengah polemik klaim tersebut, militer Iran kembali melaporkan operasi drone terhadap fasilitas militer Amerika di Kuwait.
Laporan yang dikutip dari media internasional seperti Al Jazeera dan Agence France-Presse menyebut Iran meluncurkan drone tempur ke pangkalan Amerika di Camp Arifjan.
Pangkalan tersebut merupakan salah satu fasilitas logistik utama militer AS di kawasan Teluk.
Selain itu, militer Iran juga mengklaim menargetkan Camp Buehring yang sebelumnya dikenal sebagai Kamp Udairi dengan drone tempur.
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, militer Iran mengatakan:
“Unit drone angkatan laut angkatan bersenjata menargetkan lokasi pasukan AS menggunakan drone tempur.”
Pangkalan tersebut berada di wilayah barat laut Kuwait dan menjadi fasilitas penting bagi operasi militer Amerika di Timur Tengah.
Meski Iran berulang kali mengumumkan keberhasilan operasi drone, hingga kini belum ada konfirmasi independen mengenai kerusakan atau korban dari serangan tersebut.
Para analis keamanan menilai klaim semacam ini sering muncul dalam konteks perang psikologis dan propaganda militer.
Di satu sisi, Teheran ingin menunjukkan kemampuan militernya semakin canggih. Di sisi lain, Washington cenderung meredam klaim tersebut agar tidak memperbesar eskalasi.***













