Scroll untuk baca artikel
Pertanian

Kemarau Datang Lebih Cepat, Mentan Minta Petani Tanam Padi “Tahan Haus” Agar Produksi Tak Ikut Kering

×

Kemarau Datang Lebih Cepat, Mentan Minta Petani Tanam Padi “Tahan Haus” Agar Produksi Tak Ikut Kering

Sebarkan artikel ini
Foto: Ilustrasi
Foto: Ilustrasi

JAKARTA – Musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih cepat dari biasanya. Kabar ini tentu bukan sekadar soal cuaca panas atau jemuran yang cepat kering, tetapi juga menjadi alarm serius bagi sektor pertanian nasional.

Mengantisipasi potensi kekeringan yang bisa menggerus produksi pangan, Kementerian Pertanian (Kementan) meminta para petani segera beradaptasi dengan menanam varietas padi yang lebih tahan terhadap kondisi minim air.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahkan sudah menginstruksikan seluruh pemerintah daerah untuk bersiap sejak dini. Mulai dari memetakan wilayah rawan kekeringan hingga memperkuat sistem peringatan dini atau early warning system.

Singkatnya, sebelum sawah benar-benar kehausan, langkah antisipasi harus lebih dulu “minum air”.

“Petani perlu memanfaatkan varietas genjah dan tahan kekeringan agar produksi tetap terjaga meskipun menghadapi musim kemarau,” ujar Amran dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (15/3).

BACA JUGA :  Mentan: Jika Pupuk Subsidi Dihilangkan, Produktivitas Padi Akan Turun

Beberapa varietas yang direkomendasikan antara lain Inpago 4 hingga Inpago 13, Inpari 38 hingga Inpari 46, serta varietas genjah seperti Situbagendit, Situpatenggang, Padjadjaran, dan Cakrabuana.

Varietas tersebut dikenal memiliki dua keunggulan penting: lebih tahan terhadap kondisi kekurangan air dan memiliki umur panen yang relatif lebih cepat.

Dengan kata lain, padi ini dirancang agar tetap “tegar di tengah panas”, sekaligus bisa dipanen sebelum kemarau benar-benar menggigit.

BMKG: Kemarau Datang Lebih Awal

Langkah antisipasi ini tidak muncul tanpa alasan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah wilayah di Indonesia akan mengalami awal musim kemarau lebih cepat pada tahun ini.

Wilayah yang berpotensi terdampak antara lain sebagian Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua.

Jika tidak diantisipasi, kondisi ini bisa meningkatkan risiko kekeringan pada lahan pertanian, terutama sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan.

BACA JUGA :  Kementan Sarankan Petani Budidayakan Komoditas Kacang Hijau

“Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan pada lahan pertanian jika tidak diantisipasi sejak dini,” kata Amran.

Teknologi Padi “Tahan Cekaman”

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan Fadjry Djufry menjelaskan bahwa varietas padi tahan kekeringan tersebut merupakan hasil pengembangan teknologi pertanian yang dirancang untuk menghadapi perubahan iklim.

Menurutnya, varietas seperti Inpari 38 hingga Inpari 46 serta kelompok padi gogo Inpago mampu tetap berproduksi meskipun ketersediaan air terbatas.

Selain itu, varietas genjah seperti Padjadjaran dan Cakrabuana memiliki umur panen yang lebih pendek, sehingga tanaman bisa dipanen sebelum periode kekeringan mencapai puncaknya.

“Varietas genjah ini membantu tanaman menghindari periode kekeringan yang panjang,” jelas Fadjry.

Dengan strategi ini, petani diharapkan tetap bisa menjaga produktivitas meskipun kondisi cuaca tidak selalu bersahabat.

Air Tetap Jadi Kunci

Selain penggunaan varietas adaptif, Kementan juga mendorong penguatan pengelolaan air di sektor pertanian.

BACA JUGA :  Wamendag Sebut SRG Berpotensi Mendukung Stabilitas Harga Pangan

Langkah yang dilakukan antara lain optimalisasi jaringan irigasi, pompanisasi, pembangunan perpipaan air, hingga percepatan masa tanam di berbagai sentra produksi.

Tujuannya sederhana namun krusial: memastikan sawah tetap memiliki cukup air ketika musim kemarau mulai memanjang.

Pertanian Hadapi Perubahan Iklim

Kementerian Pertanian menilai pemanfaatan varietas unggul adaptif merupakan bagian penting dari strategi memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah dinamika perubahan iklim.

Melalui pengembangan teknologi benih dan budidaya, pemerintah berharap sektor pertanian tidak mudah goyah oleh perubahan cuaca yang semakin tidak menentu.

“Kami mendorong pemanfaatan varietas unggul tahan kekeringan ini secara lebih luas, khususnya di wilayah rawan kekeringan atau sawah tadah hujan,” kata Fadjry.

Sebab bagi petani, kemarau bukan sekadar musim tanpa hujan. Ia bisa menjadi ujian bagi ketahanan pangan.

Dan di tengah iklim yang makin sulit ditebak, padi pun kini dituntut memiliki satu kemampuan tambahan: tahan haus.***