LAMPUNG TIMUR — Di saat pemerintah terus berbicara soal ketahanan pangan, sebagian petani di Kecamatan Sekampung Udik dan Marga Sekampung justru sedang menghadapi “ketahanan dari hama” yang sayangnya dimenangkan oleh pihak tikus tanpa perlawanan berarti.
Puluhan hektare tanaman jagung di wilayah Sekampung Udik dan sekitarnya dilaporkan habis diserang hama tikus. Tanaman berusia sekitar 40 hari itu rusak parah, bahkan banyak yang tidak sempat masuk fase berbuah.
Hasilnya? Ladang berubah jadi hamparan batang patah dan harapan yang ikut “digigit habis”.
Salah satu petani, Edi, warga Desa Bauh Gunung Sari, menjadi potret paling nyata dari kerugian tersebut. Dari 1,5 hektare lahan yang ia garap, sekitar 1 hektare ludes tanpa sisa.
“1 hektare jagung umur 40 hari sudah dimakan tikus. Sekarang tinggal setengah hektare, itu pun sudah ketar-ketir,” ujar Edi, Jumat (22/5).
Ia memperkirakan kerugian mencapai sekitar Rp8 juta dalam satu musim tanam. Bagi petani kecil, angka itu bukan sekadar statistik, tetapi biaya pupuk, bibit, tenaga, dan utang yang tidak punya tombol reset.
Serangan kali ini disebut jauh lebih brutal dibanding musim sebelumnya. Hama tikus tidak hanya memakan buah jagung, tetapi juga merusak batang muda hingga tanaman mati sebelum sempat panen.
Akibatnya, seluruh biaya produksi praktis hangus seperti janji manis di awal musim tanam.
Edi juga menyebut kondisi serupa dialami hampir seluruh petani di wilayah Marga Sekampung dan Sekampung Udik. Ia memperkirakan sedikitnya 50 hektare lahan terdampak.
“Kalau dilihat dari keluhan tetangga, hampir semua kena. Bisa lebih dari 50 hektare,” katanya.
Masalahnya, ini bukan cerita baru. Setiap musim tanam, hama tikus di Lampung Timur seperti serial lama yang tak pernah tamat alur ceritanya sama, pemainnya petani, dan ending-nya selalu panen gagal.
Yang berubah hanya satu hal jumlah kerugian.
Petani mengaku selama ini hanya mengandalkan upaya swadaya seperti perangkap sederhana dan racun tikus tradisional. Sayangnya, di medan perang yang sudah level “koloni”, alat seadanya sering kalah cepat dibanding laju reproduksi hama.
Di sisi lain, kehadiran pemerintah melalui dinas terkait dinilai masih bersifat reaktif. Datang setelah laporan masuk, atau lebih tepatnya datang ketika ladang sudah lebih dulu “dibersihkan alam”.
Dalam bahasa petani, kondisi ini sering diringkas dengan satir pahit: bantuan datang seperti tamu kehormatan di acara yang sudah selesai.
Padahal, komoditas jagung merupakan salah satu penopang ekonomi petani di Lampung Timur. Gangguan hama yang berulang tanpa solusi sistemik berpotensi menurunkan produktivitas dan menambah beban utang rumah tangga petani.
Edi berharap ada langkah serius dari pemerintah daerah, bukan sekadar inspeksi lapangan yang berakhir pada foto dokumentasi.
“Kami butuh solusi nyata. Jangan hanya datang kalau sudah gagal panen,” tegasnya.
Ia meminta agar dinas terkait melakukan langkah terpadu, mulai dari pemetaan populasi hama, penyediaan rodentisida, hingga pelatihan pengendalian hama terpadu (PHT). Selain itu, perubahan pola tanam juga dinilai penting untuk memutus siklus berkembang biaknya tikus.
Menurut sejumlah petani, pola tanam monokultur yang luas tanpa rotasi tanaman diduga menjadi “surga terbuka” bagi hama untuk berkembang biak tanpa gangguan berarti.
Jika tidak ada intervensi serius, mereka khawatir fenomena ini akan terus berulang setiap musim dengan korban yang sama: petani kecil.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Pertanian Lampung Timur terkait penanganan serangan hama tikus di wilayah tersebut.***













