TUBAN — Niat sederhana mencari takjil untuk berbuka puasa berubah menjadi tragedi memilukan. Satu keluarga pemudik asal Malang mengalami kecelakaan maut setelah sepeda motor yang mereka tumpangi ditabrak truk tronton dari belakang di Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban.
Peristiwa nahas itu terjadi di Jalan Pakah–Plumpang, Desa Ngrayung, Minggu (15/3/2026) sekitar pukul 17.30 WIB—waktu yang biasanya identik dengan hiruk pikuk masyarakat berburu menu berbuka, bukan sirene duka.
Korban meninggal dunia adalah Ana Masrurotun Najah (29), seorang ibu muda yang saat itu tengah dibonceng bersama suaminya, Nurul Iltifah (32), serta dua anak mereka, Daniel (5) dan bayi Yulfa (9 bulan).
Keluarga ini diketahui baru saja tiba dari Malang untuk mudik ke Tuban. Sore itu, mereka keluar rumah untuk mencari takjil—ritual kecil yang bagi banyak keluarga justru menjadi momen kebersamaan di bulan Ramadan. Namun takdir berkata lain.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kecelakaan bermula saat truk tronton bernomor polisi L-8073-CXB yang dikemudikan M. Yasin Yusuf (39) melaju dari arah selatan ke utara.
Di lokasi kejadian, truk tersebut menabrak sepeda motor Yamaha Mio bernomor polisi S-4280-EM yang berada di depannya dan berjalan searah. Benturan keras tak terhindarkan.
Sepeda motor yang membawa empat orang dalam satu kendaraan itu terpental. Para penumpang terjatuh ke jalan. Dalam kondisi seperti ini, tubuh manusia jelas bukan tandingan kendaraan bertonase besar.
Ana mengalami luka parah dan dinyatakan meninggal dunia di tempat kejadian perkara (TKP).
Sementara suami dan kedua anaknya selamat, meski harus menanggung trauma dari peristiwa yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Warga setempat menyebut keluarga tersebut baru tiba dari Malang pada sore hari.
“Mereka baru datang dari Malang, sorenya mau cari takjil,” ujar Feri (18), warga sekitar, Senin (16/3/2026).
Kalimat sederhana itu kini terdengar getir. Dari rencana berbuka bersama, berubah menjadi kehilangan yang tak tergantikan.
Kanit Gakkum Satlantas Polres Tuban, IPTU Eko Sulistyono, mengatakan pihaknya langsung turun ke lokasi setelah menerima laporan.
Petugas melakukan evakuasi korban, olah TKP, serta mengamankan barang bukti berupa kendaraan dan dokumen seperti STNK dan SIM.
Dari hasil penyelidikan awal, kecelakaan diduga terjadi karena pengemudi truk kurang memperhatikan kondisi lalu lintas di depannya.
“Kecelakaan diduga karena pengemudi truk tidak memperhatikan kendaraan yang berjalan di depannya sehingga terjadi tabrakan dari belakang,” jelasnya.
Kasus ini masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut.
Jalan Raya dan Realitas yang Berulang
Tragedi ini kembali mengingatkan bahwa jalan raya—terutama saat menjelang berbuka puasa—sering berubah menjadi ruang yang penuh risiko.
Di satu sisi, masyarakat berpacu dengan waktu untuk sampai ke rumah atau berburu takjil. Di sisi lain, kendaraan besar tetap melaju dengan logika kecepatan dan beban yang tidak selalu sejalan dengan keselamatan pengguna jalan lain.
Kombinasi ini kerap melahirkan satu pola yang berulang:
kelalaian kecil, dampak besar.
Dan sayangnya, yang paling sering menjadi korban adalah mereka yang paling rentan—pengendara sepeda motor dan keluarga kecil seperti dalam peristiwa ini.
Imbauan Keselamatan
Polisi mengimbau masyarakat untuk selalu berhati-hati dan mematuhi peraturan lalu lintas, terutama di jam-jam rawan menjelang berbuka puasa.
Namun di balik imbauan itu, ada pesan yang lebih dalam:
keselamatan di jalan bukan hanya soal aturan, tetapi soal kesadaran.
Karena bagi keluarga ini, perjalanan mencari takjil yang seharusnya berakhir dengan buka puasa bersama, justru berakhir dengan kehilangan yang akan dikenang seumur hidup.







