Scroll untuk baca artikel
Internasional

Selat Hormuz Membara! Iran Ogah Negosiasi, Trump Pilih Blokade

×

Selat Hormuz Membara! Iran Ogah Negosiasi, Trump Pilih Blokade

Sebarkan artikel ini
foto Selat Hormuz - doc istimewa

WawaiNEWS.ID – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat tajam menjelang berakhirnya masa gencatan senjata di Timur Tengah. Alih-alih merapat ke meja perundingan, Teheran justru memberi sinyal mundur, menegaskan belum ada rencana untuk melanjutkan dialog dengan Washington.

Langkah ini menambah panjang daftar kekhawatiran global, terutama karena konflik kini menyentuh jalur energi paling vital dunia.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Media pemerintah Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) melaporkan bahwa Iran tidak melihat prospek negosiasi yang “bermanfaat” dalam waktu dekat.

Sumber lain seperti Fars News Agency dan Tasnim News Agency menyebut suasana hubungan kedua negara jauh dari kata kondusif. Salah satu ganjalan utama adalah blokade laut yang dilakukan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

BACA JUGA :  Prabowo Siagakan Indonesia Hadapi Konflik Iran–AS–Israel, Siap Evakuasi WNI dan Tawarkan Diri Jadi Mediator

Bagi Teheran, pencabutan blokade bukan sekadar opsi—melainkan syarat mutlak sebelum pembicaraan apa pun bisa dilanjutkan.

Situasi semakin panas setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa kapal perang AS menembak kapal berbendera Iran yang mencoba menembus blokade.

Menurut Trump, kapal tersebut dipaksa berhenti setelah bagian mesinnya dilumpuhkan. Marinir AS kemudian mengambil alih kapal itu.

Di mata Washington, ini adalah penegakan sanksi.
Di mata Teheran, ini provokasi.

Perbedaan perspektif ini yang membuat konflik makin sulit didinginkan.

Sorotan utama kini tertuju pada Selat Hormuz—jalur sempit namun krusial yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Penutupan sementara selat oleh Iran sebelumnya sudah cukup untuk:

Mengguncang harga energi global
Mengganggu distribusi logistik
Memicu kepanikan pasar

BACA JUGA :  Aktivitas Sayap Kanan di Swedia Kembali Ancam Bakar Al Quran Setiap Jumat

Meski sempat dibuka kembali sebagai bagian dari dinamika gencatan senjata, Iran kembali menutup jalur tersebut sebagai respons atas blokade AS.

Hasilnya? Jalur perdagangan energi dunia berubah jadi zona berisiko tinggi.

Konflik ini bermula dari serangan mendadak AS dan Israel pada akhir Februari, yang kemudian memicu eskalasi cepat di kawasan.

Gencatan senjata selama dua minggu sempat memberi ruang napas, namun kini tinggal hitungan hari sebelum berakhir tanpa tanda-tanda solusi diplomatik.

Upaya negosiasi sebelumnya di Islamabad bahkan berakhir tanpa kesepakatan, meski berlangsung maraton hingga 21 jam.

Kantor berita resmi Islamic Republic News Agency (IRNA) menuding tuntutan AS sebagai “tidak realistis”.

Sebaliknya, Trump menyatakan tawaran Washington sudah “adil”, sambil mengingatkan bahwa opsi militer tetap terbuka jika kesepakatan gagal tercapai.

BACA JUGA :  KKP Hentikan Patroli Bersama ABF Australia

Sementara itu, Garda Revolusi Iran mengeluarkan peringatan keras: kapal yang melintas tanpa izin berisiko dianggap sebagai pihak musuh.

Dalam bahasa sederhana: salah langkah sedikit, bisa langsung jadi insiden internasional.

Data pelacakan terbaru menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz sempat nyaris kosong fenomena langka untuk salah satu jalur tersibuk di dunia.

Beberapa insiden tembakan dan ancaman terhadap kapal komersial juga dilaporkan, menandakan bahwa risiko konflik terbuka bukan lagi sekadar teori.

Ketegangan ini bukan hanya soal geopolitik, tapi juga ekonomi global:

Harga minyak berpotensi melonjak tajam
Inflasi global bisa kembali naik
Biaya logistik meningkat
Pasar keuangan menjadi tidak stabil

Singkatnya, konflik di satu selat sempit bisa berdampak ke dompet miliaran orang.***