Scroll untuk baca artikel
Lintas Daerah

“Viral Balita ‘Panjat Level Dewa’ di Atap Rumah Lombok: 1 Jam di Ujung Genteng, Evakuasi Bikin Deg-degan!”

×

“Viral Balita ‘Panjat Level Dewa’ di Atap Rumah Lombok: 1 Jam di Ujung Genteng, Evakuasi Bikin Deg-degan!”

Sebarkan artikel ini
Balita nangkring diatap genteng - foto Screenshot

WawaiNEWS.ID – Sebuah video menegangkan dari Praya, Lombok Tengah, NTB mendadak viral di media sosial. Bukan adegan film aksi, melainkan momen nyata ketika seorang balita berusia sekitar dua tahun “berpetualang” di atas atap rumah di posisi yang bikin siapa pun refleks teriak: “Jangan gerak!”

Dalam rekaman yang ramai dibagikan sejak Kamis (23/4/2026), si kecil terlihat tengkurap di tepian genteng dengan ketinggian yang cukup berbahaya. Video ini pertama kali mencuri perhatian publik setelah diunggah oleh akun Instagram @ahdanmaulana.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Menurut keterangan keluarga, kejadian bermula saat sang ibu, Eliza, meninggalkan anaknya sebentar untuk mandi. Saat itu, anaknya masih bermain di halaman rumah situasi yang biasanya aman sampai tidak lagi.

BACA JUGA :  Ini Sebutan untuk Lima Kantor Gubernur di Jabar, Ada Bale Dewa Niskala

Tak lama kemudian, balita tersebut menghilang. Pencarian pun berubah jadi momen panik. Betapa terkejutnya sang ibu ketika menemukan anaknya sudah berada di atas atap, tepat di bagian paling curam.

Diduga kuat, si kecil “menemukan rute alternatif” dengan memanjat melalui kandang ayam di samping rumah, lalu naik hingga ke genteng.

“Dia naik lewat kandang ayam,” ujar Eliza.

Kalau ini video game, mungkin sudah unlock level baru. Tapi di dunia nyata, ini jelas bukan misi yang diharapkan orang tua.

Proses penyelamatan berlangsung menegangkan. Warga sekitar berusaha menenangkan anak tersebut agar tidak banyak bergerak karena satu langkah kecil bisa berakibat fatal.

BACA JUGA :  Desa Wisata Gerupuk NTB Dipersiakan Jadi Homestay Jelang MotoGP

Beruntung, seorang pekerja proyek pembangunan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berada di dekat lokasi langsung sigap membantu. Dengan tangga seadanya, ia naik perlahan ke atap dan mendekati balita tersebut.

Setelah proses yang penuh kehati-hatian, si kecil akhirnya berhasil dievakuasi dengan selamat.

“Kurang lebih satu jam di atas genteng,” ungkap Eliza.
Satu jam yang kemungkinan terasa seperti “ujian mental” bagi seluruh keluarga.

Peristiwa ini juga dikonfirmasi oleh Bhabinkamtibmas setempat, Aipda Ahmad Samsul Haki, yang menyebut balita tersebut merupakan warga di wilayahnya.

Menariknya, ia pertama kali mengetahui kejadian ini dari media sosial bukti betapa cepatnya informasi (dan kepanikan) menyebar di era digital.

Pihak kepolisian kemudian mendatangi rumah korban, bukan untuk menghukum, melainkan memberikan edukasi kepada keluarga dan masyarakat sekitar tentang pentingnya pengawasan anak.

BACA JUGA :  Pembesaran Benih Lobster Dorong Nilai Tambah Masyarakat Pesisir

Kejadian ini jadi pengingat keras dan nyata bahwa balita punya rasa penasaran tinggi, tapi belum punya pemahaman risiko.

Lingkungan rumah yang terlihat “aman” bisa berubah jadi area berbahaya jika:

  • Ada akses tak terduga (seperti kandang ayam yang bisa dipanjat)
  • Pengawasan lengah, walau hanya sebentar
  • Tidak ada penghalang fisik di area berisiko

Balita ini mungkin belum tahu arti kata “adrenalin”, tapi aksinya sudah cukup bikin satu kampung merasakannya.

Kalau anak tiba-tiba “hilang”, jangan langsung panik cek dulu tempat-tempat tak terduga. Karena siapa tahu, mereka sedang “upgrade skill panjat tebing”… tanpa izin orang tua.***