Scroll untuk baca artikel
Lintas Daerah

Harga LPG 12 Kg Tembus Rp228 Ribu, Dedi Mulyadi Dorong Warga Beralih ke Biogas hingga Kayu Bakar

×

Harga LPG 12 Kg Tembus Rp228 Ribu, Dedi Mulyadi Dorong Warga Beralih ke Biogas hingga Kayu Bakar

Sebarkan artikel ini
Gas LPG 12 Kilogram jadi tersangka penyebab kebakaran

BANDUNG Kenaikan harga gas elpiji nonsubsidi yang mulai berlaku sejak 18 April 2026 memicu kekhawatiran di masyarakat. Di Jawa Barat, harga LPG 12 kilogram kini menembus Rp228.000 per tabung, sementara LPG 5,5 kilogram naik menjadi Rp107.000.

Menanggapi kondisi tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendorong masyarakat untuk mulai beralih ke sumber energi alternatif berbasis kearifan lokal sebagai solusi jangka menengah hingga panjang.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Menurut Dedi, salah satu alternatif paling realistis adalah biogas, yang dapat dihasilkan dari pengolahan limbah organik seperti kotoran sapi.

BACA JUGA :  Kepala BP Batam Komitmen Genjot Realisasi Investasi Tahun 2024

Ia mencontohkan praktik yang sudah berjalan di sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung Barat, di mana peternak berhasil mengubah limbah ternak menjadi energi gas untuk kebutuhan rumah tangga.

“Kotoran sapi bisa diolah jadi gas untuk memasak. Bahkan sampah juga bisa jadi energi, termasuk listrik,” ujar Dedi, Senin (20/4/2026).

Api yang dihasilkan dari kompor biogas disebut cukup besar dan stabil untuk aktivitas memasak sehari-hari, sehingga dinilai layak sebagai substitusi LPG.

Selain biogas, Dedi juga menyebut opsi lain yang bisa disesuaikan dengan kondisi masyarakat:

  • Kayu bakar untuk wilayah perkampungan
  • Kompor listrik untuk masyarakat perkotaan

Pendekatan ini menekankan pentingnya fleksibilitas energi, yakni menyesuaikan pilihan dengan kemampuan ekonomi dan ketersediaan sumber daya lokal.

“Kita harus menyesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan masing-masing,” katanya.

Kenaikan harga LPG nonsubsidi ini dinilai akan menambah beban pengeluaran rumah tangga, terutama bagi kelas menengah yang tidak lagi menggunakan LPG subsidi 3 kilogram.

Meski demikian, pemerintah memastikan bahwa LPG 3 kilogram tetap tidak mengalami kenaikan harga, sehingga diharapkan tetap melindungi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Dedi optimistis masyarakat Indonesia, khususnya Jawa Barat, mampu beradaptasi dengan kondisi ini.

“Saya yakin masyarakat kita inovatif dan cerdas dalam mencari solusi,” ujarnya.

Namun di balik optimisme tersebut, muncul tantangan besar:
seberapa cepat masyarakat bisa beralih ke energi alternatif, dan seberapa siap infrastruktur pendukungnya?

Tanpa dukungan teknologi, pelatihan, dan akses yang memadai, peralihan energi dikhawatirkan hanya akan menjadi wacana sementara harga LPG terus melambung.***