Scroll untuk baca artikel
Zona Bekasi

Trotoar Jadi Bengkel Proyek, Pedestrian Jalan Veteran Bekasi Bikin Pengendara “Tes Kesabaran”

×

Trotoar Jadi Bengkel Proyek, Pedestrian Jalan Veteran Bekasi Bikin Pengendara “Tes Kesabaran”

Sebarkan artikel ini
Foto: Pantauan di lokasi pada Selasa (19/5/2026) menunjukkan tumpukan pasir dan material proyek berceceran hingga ke badan jalan, (foto/doc).

KOTA BEKASI — Proyek penataan pedestrian di Jalan Veteran, tepat di samping PMI Kota Bekasi, Kelurahan Margajaya, Bekasi Selatan, menuai sorotan warga. Alih-alih menghadirkan trotoar nyaman bagi pejalan kaki, proyek tersebut justru dikeluhkan karena membuat jalan penuh pasir, debu beterbangan, hingga trotoar berubah fungsi layaknya bengkel kerja dadakan.

Pantauan di lokasi pada Selasa (19/5/2026) menunjukkan tumpukan pasir dan material proyek berceceran hingga ke badan jalan. Kondisi itu membuat jalur kendaraan menyempit sekaligus meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengendara roda dua.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Debu dari material proyek juga terlihat beterbangan saat kendaraan melintas. Sementara trotoar yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki justru dipenuhi aktivitas pemotongan material seng menggunakan gerinda.

Akibatnya, pedestrian yang mestinya nyaman dipakai berjalan kini berubah fungsi menjadi area workshop terbuka di pinggir jalan.

BACA JUGA :  Pemkot Bekasi Anggarkan Rp 10 Miliar Perbaikan Infrastruktur di Alur Sungai Rawalumbu

Salah seorang warga, Nuri, mengaku sempat tergelincir akibat pasir yang berserakan di aspal.

“Pasirnya sampai ke jalan. Kalau motor lewat agak cepat bisa gampang selip,” ujarnya.

Keluhan serupa juga datang dari pedagang di sekitar lokasi. Mereka menyebut kondisi tersebut sudah berlangsung lebih dari sepekan tanpa penanganan berarti.

“Pejalan kaki jadi terganggu karena trotoarnya dipakai kerja potong bondek. Bahu jalan juga jadi tempat kerja proyek,” kata warga lainnya.

Suara gerinda yang memekakkan telinga berpadu dengan debu dan material proyek membuat kawasan itu lebih mirip lokasi renovasi terbuka daripada jalur pedestrian perkotaan.

Ironisnya, proyek yang bertujuan mempercantik fasilitas publik justru dinilai mengorbankan kenyamanan publik selama proses pengerjaan berlangsung.

Pelaksana proyek dari PT SAT, Waluyo, mengakui keterbatasan lahan menjadi kendala utama. Menurutnya, lokasi proyek memang tidak memiliki area khusus untuk penyimpanan material maupun workshop pekerjaan.

BACA JUGA :  Gaji Satpam Pakuwon Mall Bekasi Byar Pet, Ini Outsourcing Penyalurnya?

“Kalau material tidak ditaruh di pinggir jalan, kami harus tempatkan di mana lagi? Lokasinya sempit dan memang tidak ada tempat workshop,” ujarnya.

Ia juga mengakui debu sulit dihindari selama pengerjaan berlangsung, terutama saat cuaca panas.

“Kalau tidak hujan memang debunya ke mana-mana,” katanya.

Namun alasan keterbatasan lahan itu dinilai tidak bisa menjadi pembenaran penggunaan trotoar dan badan jalan sebagai area kerja proyek.

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, penggunaan ruang jalan yang mengganggu fungsi lalu lintas dan membahayakan keselamatan masyarakat dapat dikenakan sanksi administratif hingga penghentian pekerjaan.

Selain itu, trotoar secara hukum merupakan fasilitas khusus pejalan kaki yang tidak boleh dialihfungsikan sembarangan, termasuk menjadi tempat pemotongan material proyek.

BACA JUGA :  Sekolah di Bekasi Diminta Transparan Terkait Dana PIP

Warga berharap kontraktor segera melakukan penataan ulang area kerja, membersihkan material yang berserakan, dan memasang pengamanan lebih maksimal sebelum jatuh korban lebih banyak.

“Kalau proyek bagus silakan lanjut, tapi jangan sampai masyarakat yang lewat jadi korban,” ujar seorang pengendara.

Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) Kota Bekasi belum memberikan tanggapan terkait pengawasan proyek tersebut. Upaya konfirmasi melalui pesan WhatsApp dan sambungan telepon belum mendapat respons.

Kini warga menunggu ketegasan Pemerintah Kota Bekasi. Sebab trotoar dibangun untuk pejalan kaki, bukan untuk berubah fungsi menjadi bengkel proyek lengkap dengan debu, gerinda, dan pasir yang bikin pengendara ikut “uji nyali” setiap melintas. ***