Scroll untuk baca artikel
Budaya

KDM Sulap Karawang Jadi “Kota Tua Penuh Cinta”! Jalan Tuparev Disiapkan Jadi Koridor Budaya Sunda

×

KDM Sulap Karawang Jadi “Kota Tua Penuh Cinta”! Jalan Tuparev Disiapkan Jadi Koridor Budaya Sunda

Sebarkan artikel ini
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akan melakukan penataan di sejumlah kota dan kabupaten, khususnya yang menjadi jalur Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda. Salah satu kawasan yang akan ditata yaitu sepanjang Jalan Tuparev di Kabupaten Karawang. - foto doc

KABUPATEN KARAWANG – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali melontarkan gagasan besar yang memadukan budaya, tata kota, dan romantisme sejarah. Kali ini, kawasan Alun-alun Karawang hingga sepanjang Jalan Tuparev disiapkan menjadi “Kota Tua Karawang”, lengkap dengan koridor budaya dan pesan-pesan cinta bernuansa Sunda.

Rencana itu disampaikan saat Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Kabupaten Karawang, Sabtu (9/5/2026) malam. Kirab bertajuk Subang Larang Nebar Kaheman tersebut berlangsung meriah, dimulai dari Jalan Ir. H Juanda hingga Alun-alun Karawang, disambut ribuan warga yang memadati jalur kirab.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Namun bagi KDM sapaan akrab Dedi Mulyadi kirab budaya bukan sekadar parade kostum tradisional atau nostalgia kerajaan masa lalu. Menurutnya, budaya harus berlanjut menjadi pembangunan nyata yang punya identitas dan daya hidup.

“Bersama Pak Bupati kita akan melakukan perbaikan infrastruktur, termasuk jalan, trotoar, dan taman di sepanjang rute kirab. Nanti di sepanjang jalan ada batu tulis berisi pesan-pesan cinta. Alun-alun akan menjadi kawasan Kota Tua Karawang,” ujar Dedi.

BACA JUGA :  Puncak HPN Jabar 2023, Ketua PWI: Bisnis Media 80 Persen Dikuasai google

Jika biasanya kota berlomba memasang billboard iklan dan baliho politik, Karawang justru ingin dihiasi “kalimat cinta”. Sebuah konsep yang terdengar puitis, meski mungkin akan membuat sebagian warga bertanya: nanti yang macet jalan atau perasaannya?

Penataan kawasan tersebut direncanakan masuk dalam APBD Perubahan 2026 atau APBD 2027. Fokusnya bukan hanya mempercantik kota, tetapi juga membangun identitas budaya yang kuat di tengah derasnya modernisasi kawasan industri Karawang.

Selama ini, Karawang dikenal sebagai kawasan industri besar dengan deretan pabrik dan lalu lintas padat. Namun melalui konsep Kota Tua Karawang, pemerintah ingin menghadirkan sisi lain: kota yang tidak hanya sibuk mengejar investasi, tetapi juga menjaga memori budaya dan ruang publik yang manusiawi.

BACA JUGA :  Jelang Arus Mudik, Mendag Segel SPBU Nakal di Rest Area KM 42 Tol Jakarta-Cikampek

KDM berharap penataan ini mampu menjadikan Karawang sebagai destinasi wisata budaya yang punya cerita, filosofi, dan daya tarik emosional.

“Karawang harus nyaman, bersih, punya identitas Sunda, dan memiliki cerita cinta dari masa lalu sampai masa depan,” katanya.

Sementara itu, Aep Syaepuloh menyampaikan apresiasi atas kehadiran Mahkota Binokasih Sanghyang Pake dalam rangkaian Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Karawang.

Menurutnya, Mahkota Binokasih bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga pengingat bahwa hubungan pemimpin dan masyarakat harus dibangun atas dasar kasih sayang, kebersamaan, dan persatuan.

“Pembangunan tidak hanya bertumpu pada fisik dan ekonomi, tetapi juga nilai kasih sayang dan kebersamaan,” ujar Aep.

Kirab budaya tersebut menghadirkan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, simbol bersejarah yang sebelumnya disimpan di Kerajaan Sumedang Larang. Kehadiran mahkota itu menjadi magnet utama kirab, sekaligus memperkuat nuansa historis perjalanan budaya Tatar Sunda.

BACA JUGA :  Pesantren, Bukan Sekadar Sekolah: Menag Nasaruddin Umar Sindir “Pabrik Gelar”

Ribuan masyarakat tampak antusias memenuhi jalur kirab untuk menyaksikan parade seni tradisi dari 27 kota dan kabupaten di Jawa Barat. Tidak hanya itu, peserta dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Banten juga ikut memeriahkan acara, membuat Karawang malam itu terasa seperti panggung besar budaya lintas daerah.

Di tengah era kota-kota yang semakin seragam dengan beton dan pusat perbelanjaan, konsep “Kota Tua Penuh Cinta” ala KDM menjadi warna berbeda. Sebuah upaya menghadirkan ruang kota yang bukan hanya layak dilewati, tetapi juga layak dikenang.

Menurut KDM sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Ia ingin sejarah hadir di trotoar, di taman, di jalan kotabahkan mungkin di sudut tempat orang berhenti sejenak, membaca pesan cinta, lalu lupa sejenak pada cicilan dan kemacetan.***