Scroll untuk baca artikel
Lintas Daerah

720 ASN Dilantik di Lapangan Desa Terpencil, Dedi Mulyadi: Jangan Jadi Pegawai Meja, Jadilah Pelayan Rakyat!

×

720 ASN Dilantik di Lapangan Desa Terpencil, Dedi Mulyadi: Jangan Jadi Pegawai Meja, Jadilah Pelayan Rakyat!

Sebarkan artikel ini
Sebanyak 720 ASN Pemda Provinsi Jawa Barat (Jabar) penerimaan tahun 2024 diangkat dan diambil sumpah/janji di tengah lapangan sepak bola Desa Sukawangi, Kabupaten Bogor, Senin (15/6/2026).- foto dok

BOGOR – Pemandangan yang tidak biasa terjadi di Desa Sukawangi, Kabupaten Bogor, Senin (15/6/2026). Jika biasanya pelantikan Aparatur Sipil Negara (ASN) identik dengan aula megah, pendingin ruangan yang dinginnya menyaingi hubungan mantan, dan deretan kursi formal yang bikin mengantuk, kali ini 720 ASN Pemerintah Provinsi Jawa Barat justru diambil sumpah dan dilantik di tengah lapangan sepak bola desa terpencil.

Langkah yang terbilang anti-mainstream ini dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) sebagai simbol bahwa birokrasi tidak boleh hanya berkutat di balik meja kantor dan tumpukan berkas yang tebalnya bisa menyaingi novel trilogi.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Pelantikan tersebut berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor KEP.259-KPG.02-PPIK-2026 tentang Pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil Menjadi Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2026.

Dalam sambutannya, KDM menegaskan bahwa Jawa Barat bukan hanya Gedung Sate, bukan hanya Bandung, dan bukan pula sekadar pusat pemerintahan yang sibuk dengan rapat demi rapat.

Menurutnya, ASN harus memahami bahwa Jawa Barat adalah hamparan wilayah luas yang dihuni masyarakat dengan berbagai persoalan nyata yang membutuhkan kehadiran negara secara langsung.

“Kenapa saya ajak ke sini? Supaya ASN memahami bahwa Jawa Barat itu luas. Jangan sampai yang dikenal hanya Gedung Sate dan ruang rapat,” tegasnya.

BACA JUGA :  Kerja Dulu, Gaji Menyusul: KDM Tegaskan PPPK Paruh Waktu Belum Waktunya Dibayar

Pesan tersebut bukan tanpa alasan. Lokasi pelantikan berada di kawasan yang dahulu merupakan bagian penting dari sejarah Tatar Sunda, dekat dengan pusat peradaban Kerajaan Pajajaran. Di sisi lain, kawasan ini juga menyimpan potensi wisata alam yang luar biasa namun belum sepenuhnya terhubung oleh infrastruktur yang memadai.

KDM mengungkapkan rencana pembangunan konektivitas jalan yang menghubungkan kawasan Bogor dengan Bekasi, Karawang, Purwakarta, Bandung Barat hingga Cianjur.

Jika akses tersebut terwujud, kawasan yang selama ini dianggap pelosok berpotensi berubah menjadi destinasi wisata unggulan yang mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat.

Namun di balik optimisme pembangunan, KDM juga mengingatkan masyarakat agar tidak tergoda menjual lahan kepada investor luar daerah.

Sebab pengalaman di banyak tempat menunjukkan bahwa ketika jalan bagus datang, sering kali yang lebih dulu berkembang bukan kesejahteraan warga lokal, melainkan harga tanah yang melesat dan perumahan mewah yang berdiri bak jamur setelah hujan.

Pesannya sederhana tetapi tajam: jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton ketika kampungnya sendiri berubah menjadi kawasan bernilai miliaran rupiah.

Dalam kesempatan tersebut, KDM melontarkan kritik halus namun mengena terhadap pola kerja birokrasi yang selama ini terlalu administratif.

Menurutnya, ASN masa depan tidak cukup hanya mahir membuat laporan, mengarsipkan dokumen, atau memindahkan berkas dari meja kiri ke meja kanan sambil menunggu jam pulang.

BACA JUGA :  Perdana, Kepri Ekspor Hasil Perikanan Langsung Ke China

Birokrasi harus berubah menjadi mesin pelayanan publik yang cepat, responsif, dan hadir langsung di tengah masyarakat.

Ia menegaskan tidak boleh lagi ditemukan sekolah rusak, puskesmas memprihatinkan, atau jalan desa yang bertahun-tahun berlubang sementara laporan administrasi terlihat sempurna.

“Pajak yang dipungut dari rakyat harus kembali kepada rakyat dalam bentuk pembangunan yang nyata,” tegas KDM.

Kalimat ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pemerintahan tidak diukur dari tebalnya laporan pertanggungjawaban, melainkan dari tipisnya keluhan masyarakat.

Yang menarik, pelantikan ini tidak berhenti pada seremoni pengambilan sumpah.

Sebanyak 720 ASN dibagi ke dalam 39 kelompok, masing-masing beranggotakan 20 orang, untuk menjalankan kegiatan sosial bagi warga kurang mampu di Desa Sukawangi.

Mereka menggalang donasi secara sukarela yang kemudian digunakan untuk membantu renovasi rumah tidak layak huni milik warga setempat.

Model ini seolah menjadi “masa orientasi ASN versi lapangan”, di mana setelah resmi menyandang status pegawai negeri, mereka langsung diperkenalkan pada wajah nyata masyarakat yang akan mereka layani.

Kisah paling menyentuh datang dari pasangan Obar dan Ela, warga Desa Sukawangi yang menerima bantuan renovasi rumah sebesar Rp20 juta.

Dana tersebut akan digunakan untuk memperbaiki rumah panggung mereka sekaligus membangun fasilitas kamar mandi yang layak.

BACA JUGA :  Gubernur Jabar Serahkan SK Kepala Sekolah: “Dekat Rumah, Kerja Lebih Fokus dan Keluarga Tidak Menjadi Jarak”

Kebahagiaan mereka semakin lengkap ketika KDM secara pribadi menambahkan bantuan sebesar Rp15 juta untuk membeli seekor sapi.

Bagi keluarga sederhana itu, bantuan tersebut bukan sekadar angka, melainkan harapan baru untuk meningkatkan taraf hidup.

“Alhamdulillah, ini berkah untuk kami. Terima kasih kepada ASN yang dilantik dan Pak Gubernur. Uangnya untuk membangun kamar mandi dan membeli sapi,” ujar Bu Ela dengan mata berkaca-kaca.

Pelantikan 720 ASN di tengah lapangan desa bukan sekadar agenda seremonial yang berbeda lokasi. Ada pesan simbolik yang ingin ditegaskan: ASN tidak boleh menjadi birokrat menara gading yang hanya mengenal masyarakat dari data statistik dan laporan bulanan.

Mereka harus hadir di jalan desa yang rusak, di sekolah yang butuh perbaikan, di puskesmas yang kekurangan fasilitas, serta di rumah-rumah warga yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar.

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak terlalu peduli seberapa banyak rapat yang digelar pemerintah. Yang mereka rasakan adalah apakah jalan di depan rumahnya mulus, anaknya bisa sekolah dengan layak, dan keluarganya mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.

Dan jika pesan itu benar-benar tertanam pada 720 ASN yang baru dilantik, maka pelantikan di lapangan sepak bola Desa Sukawangi bisa jadi jauh lebih bermakna dibanding ribuan seremoni resmi di ruang berpendingin udara.***