YOGYAKARTA – Forum yang sedianya menjadi ajang “kopi darat” antara pejabat negara dan mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM) justru berubah menjadi panggung perlawanan. Alih-alih dialog hangat, yang terjadi adalah kepungan mahasiswa, bentangan spanduk penolakan, aksi dorong-dorongan, hingga tudingan pengkhianatan yang menggema di jantung kampus biru.
Acara bertajuk KOPDAR yang digelar di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Senin (15/6) malam, menghadirkan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko. Sementara Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi yang juga dijadwalkan hadir, tak terlihat di lokasi.
Awalnya forum berjalan sebagaimana mestinya. Para pejabat bergantian menyampaikan pandangan di atas panggung. Namun suasana mulai memanas ketika Budiman Sudjatmiko menyampaikan bahwa kritik sebaiknya disampaikan langsung dalam forum resmi, bukan hanya lewat media sosial.
Kalimat itu rupanya menjadi pemantik.
Tak lama kemudian, puluhan mahasiswa merangsek naik ke panggung. Spanduk-spanduk bernada keras langsung terbentang. “UGM Menolak Pengkhianat Reformasi” dan “UGM Menolak Penjilat Rezim” menjadi dua pesan yang paling menyita perhatian.
Forum yang semula dikemas sebagai ruang dialog berubah menjadi arena konfrontasi terbuka. Teriakan mahasiswa bersahutan, sementara sejumlah peserta terlihat melempar gelas air mineral ke arah panggung.
Situasi yang semakin tak terkendali memaksa petugas keamanan mengevakuasi para pejabat. Namun upaya tersebut tidak berjalan mulus. Ratusan mahasiswa telah mengepung area luar gedung dan menghadang kendaraan yang akan membawa para pejabat keluar kampus.
“Budiman, mana Budiman?” teriak mahasiswa berulang kali.
“Katanya mau diskusi!”
“Kalo Budiman dan Sudaryono tidak keluar, kita enggak akan pergi!”
teriak massa yang terus bertahan.
Di tengah tekanan mahasiswa, Nusron Wahid dan Sudaryono akhirnya keluar menemui massa. Keduanya sempat dipaksa duduk dan mendengarkan aspirasi mahasiswa di kawasan Bundaran UGM.
Salah satu pertanyaan paling tajam diarahkan kepada Nusron terkait alih fungsi ratusan ribu hektare lahan di Papua yang disebut-sebut berdampak pada penggusuran masyarakat adat.
Mahasiswa menuntut jawaban konkret.
Namun respons Nusron yang mengajak mahasiswa datang langsung ke Papua untuk melihat kondisi di lapangan dianggap tidak menjawab substansi persoalan. Ketidakpuasan massa pun semakin terlihat.
Beberapa menit kemudian, Nusron dan Sudaryono mencoba meninggalkan lokasi. Mahasiswa menghadang menggunakan water barrier. Aksi saling dorong antara aparat pengamanan dan massa tak terelakkan.
Meski demikian, rombongan pejabat berhasil menembus kepungan dan bergerak menuju kendaraan pengawalan polisi. Adegan kejar-kejaran sempat terjadi sebelum keduanya akhirnya berhasil dievakuasi menggunakan mobil patroli.
Sementara itu, sosok yang paling dicari malam itu justru tak terlihat.
Budiman Sudjatmiko, mantan aktivis yang pernah merasakan kerasnya represi politik di era Orde Baru, menjadi sasaran kritik paling keras dari mahasiswa. Massa menuding Budiman meninggalkan lokasi melalui jalur belakang ketika tuntutan dialog memuncak.
“Budiman yang dulu dipenjara karena melawan kekuasaan, sekarang malah menghindari mahasiswa!” teriak salah seorang peserta aksi.
Teriakan lain menyusul:
“Budiman pengkhianat!”
“Pengecut!”
Ironisnya, forum yang semula dimaksudkan sebagai ruang komunikasi antara pemerintah dan generasi muda justru berakhir menjadi simbol memburuknya jarak antara penguasa dan kampus.
Acara yang diberi nama “KOPDAR” itu pada akhirnya lebih mirip “Kepung Darurat”. Bukan obrolan santai yang tersisa, melainkan pertanyaan-pertanyaan kritis yang belum terjawab, kemarahan mahasiswa yang belum reda, dan pejabat yang harus meninggalkan kampus di bawah pengawalan ketat.
Malam itu, UGM sekali lagi menunjukkan bahwa kampus bukan sekadar ruang akademik. Ketika jawaban dianggap tak memadai, mimbar ilmu bisa berubah menjadi panggung perlawanan.***







